Melihat Kuman Sebelum dan Sesudah Cuci Tangan

Edukasi tentang kebersihan personal.

Selama ini cuci tangan terutama bagi anak-anak menjadi bagian dari keseharian mereka. Anak-anak diberitahu tentang pentingnya cuci tangan yakni untuk kebersihan dan bebas dari kuman. Secara kasat mata mereka mengetahui tangan yang bersih dan tidak, tetapi bagaimana mereka tahu ada kuman atau tidak. Yang memberi tahu adanya kuman sebelum dan sesudah cuci tangan adalah iklan sabun, selebihnya tidak ada. Kali ini saya mengajak anak-anak untuk melihat kuman yang ada ditangan mereka.

Monopoli Kuman

Tangan bisa dikatakan organ tubuh yang banyak melakukan aktifitas. Tangan bisa menyentuh apa saja baik yang disadari maupun tidak. Tangan juga menjadi salah satu potensi penyebaran dan infeksi penyakit dari apa yang telah disentuhnya. Cuci tangan adalah sebuah budaya yang datang dari kesadaran tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan. Nah bagaimana menyadarkan arti penting cuci tangan bagi anak Sekolah Dasar?

Awalnya saya diminta mahasiswa saya yang akan mengambil data tentang pengaruh cuci tangan terhadapa personal higiena anak-anak SD. Sebelum melakukan itu saya bertanya “anda dapat data, sedangkan anak-anak dapat apa..? Ini tidak adil, di satu sisi anda mendapatkan informasi dari anak-anak, seharusnya informasi itu anda berikan juga pada anak-anak. Syukur-syukur anda berikan pendidikan tentang kebersihan diri. Itu baru namanya tanggung jawab sosial kaum akademisi”.

Singkat kata, saya bersama mahasiswa saya meracik bahan-bahan yang nanti saya gunakan sebagai alat peraga. Saya ingin apa yang kami lakukan juga bisa diketahu oleh anak-anak. Saya juga ingin membuktikan jika cuci tangan itu penting sekaligus membuktikannya.

Setelah melewati tahap pengurusan perijininan etik yang panjang, akhirnya kami mendapatkan ijin untuk menjalankan penelitian. Dengan membawa kotak es yang berisi bahan-bahan penelitian kami berangkat di salah satu sekolah dasar yang sebelumnya sudah kami hubungi. Gayung bersambut, pihak sekolah menerima kami dengan senang hati.

Mikrobiologi untuk Anak SD

Segera saya masuk ke ruangan kelas untuk menyampaikan maksud tujuan kami. “Kami hendak meminta bantuan adik-adik untuk melihat telapak tangan kalian sebelum dan sesudah cuci tangan. Kami akan mengoles telapak tangan kalian dengan kapas”. Sebelum mengambil sampel saya memeragakan ke tangan saya sendiri agar mereka paham.

Saya meminta menulis nama mereka di kertas label yang tertera di cawan petri. Dengan pelan saya mengusap telapak tangan meraka lalu memindahkan usapan tersebut dipermukaan cawan petri. Setelah itu saya meminta mereka cuci tangan. Beberapa saat kemudian mereka kembali dan saya oles kembali. “Nanti 2 hari lagi kakak kembali ke sini dan akan kakak tunjukan hasilnya ya..?” kata saya menutup kegiatan siang ini.

2 hari berlalu dan kami kembali ke ruangan kelas dengan membawa sampel. Cawan petri yang berisi biakan bakteri kami tutup rapat-rapat agar aman saat nanti dilihat mereka. Saya menunjukan “ini bakteri yang ada di tangan anda sebelum cuci tangan dan yang ini setelah cuci tangan“. Semua bisa melihat sampelnya masing-masing dari jarak yang aman.

Memeriksa kuman dan menunjukan kuman pada masing-masing anak (dok,pri).”Nah sekarang kita lihat yuk salah satu dari kalian ada kuman apa di dalam cawan petri ini“. Saya segera mencuplik sedikit kolini dalam gelas pandang yang kemudian saya warnai dengan iodin agar mudah dilihat. Dengan mikroskop perbesaran 1.600X saya menunjukan kuman-kuman yang ada di telapak tangan mereka.

Melihat Biakan Bakteri dari tangan mereka sendiri.

Saya meminta mereka maju satu persatu melihat secara langsung dan dari dekat kuman-kuman yang sudah saya cuplik. Wajah-wajah tegang mereka terlihat manakala mereka menempelkan mata di lensa okuler. Ada yang bergidik adan juga yang maju mundur, bahkan ada yang histeris.

Untung saja saat itu saya mendapatkan kuman yang bergerak/motil sehingga bisa menunjukan kepada siswa SD ini jika kuman itu ada dan bisa bergerak. Begitu antusiasnya mereka melihat benda yang selama ini tidak mereka bayangkan sebelumnya, karena hanya menjadi monopoli kaum jas putih.

Pada saat yang sama, gurunya bertanya “ini aman mas?“. “Ini aman bu, saya menyegel rapat-rapat kumannya agar tidak keluar. Bukankah kumannya juga ada di sekitar kita, ntuh ada ditangan anak-anak, kebetulan saja saya pelihara jadi bisa dilihat” jawab saya.

Saya lantas memberikan pemahaman kepada anak-anak SD, jika yang dilihat adalah nyata dan ada di tangan mereka waktu itu. Lantas saya meminta respon pada anak-anak bagaimana kesannya. “Takut mas, harus sering-sering cuci tangan apalagi kalau mau makan”, “kumannya jahat tidak?”, “kumannya bisa bikin sakit apa saja”. Banyak hal yang mereka tanyakan dan saya mencoba menjawab satu persatu.

Akhirnya mereka sadar pentingnya cuci tangan setelah melihat dengan mata kepala sendiri tentang kuman yang ada di tangan mereka. Dengan kegiatan ini setidaknya mendekatkan konsep mikrobiologi yang jauh di atas awan menjadi dekat bagi siswa-siswi SD dan lebih ke hal yang teknis yakni personal higiene. “Adik-adik tidak semua kuman itu jahat dan bikin sakit, ada juga kuman yang baik, yang penting kita harus bisa menjaga kebersihan diri. Cuci tangan adalah cara yang paling mudah dan murah ya dalam menjaga kesehatan dan kebersihan diri“.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Cemara Udang (Casuarina equisetifolia) Benteng Alam Tsunami Pantai Bopong

Indonesia ditakdirkan menjadi pinggiran benua yang setiap saat bisa bergeser. Akibat geseran itu akan menimbulkan goncangan yang hebat. Jika di darat akan ada gempa, jika ...