Panorama pantai Be'Wa Enggano,

Pantai Be’Wa Enggano, Berwisata Sekaligus Berbelanja

Pantai Be’wa saat senja,

Setelah berhasil melewati 2 jembatan, tetiba motor yang kami naiki menjadi oleng jalannya. “Celaka, ban bocor” itu yang terbesit di benak kami, karena kami tidak tahu dimana bengkel terdekat. Bisa-bisa kami akan menuntun motor berkilo-kilo meter tanpa ketemu rumah penduduk. Terus saja motor kami pacu sampai menemukan bengkel daripada kami sengsara di jalan. Perjuangan untuk sampai di sebuah pantai di utara Pulau Enggano, pantao Be’wa.

Pasar Minggu

Jika ingin melihat karakter asli penduduk setempat, datanglan ke pasar. Kata-kata itu yang saya ingat jika mengunjungi sebuah tempat baru. Kali ini saya sudah 3 hari di Pulau Enggano dan ingin mengenal penduduk lebih dekat, maka kami mencari pasar di sana.

Di Enggano tidak ada pasar, meskipun bangunannya ada tetapi saat ini dalam keadaan mangkrak. Namun ada inisiatif yakni membuka lapak di tempat keramaian yakni pantai. Ada satu pantai yang terletak di tengah-tengah pulau sepanjang poros yakni di Desa Kanna. Pantai tersebut bernama Be’wa.

Pantai Be’wa

Uniknya, pantai Be’wa hanya ramai mulai pukul 14.00 pada hari minggu. Setelah matahari agak teduh sinarnya, orang dari berbagai penjuru Enggano mengunjungi pantai ini untuk bertamasya. Ramainnya pengunjung dimanfaatkan beberapa orang untuk membuka lapak dagangan guna menjual makanan minuman. Lama kelamaan variasi barang dagangan bertambah, ada yang menjual sayur, ikan bakar, tempe, dan jadilah pasar mingguan di tepi pantai. Tempat dan waktu yang tepat, makan sambil berwisata sekaligus berbelanja.

 

Penjual sayur di pantai Be’wa Enggano yangs empat saya wawancarai di Kapal saat menunu Enggano. Videonya di sini.

Pantai Be’wa adalah sebuah teluk kecil dengan ombak yang kecil pula. Anak-anak bisa bermain di pantai yang landai dengan pasir putih dengan aman. Pantai ini menjadi salah satu magnet orang Enggano untuk datang berwisata sekaligus berbelanja. Bisa dikatakan inilah pasar di tempat wisata.

Hutan pantai yang masih asri membuat suasana pantai terasa teduh dan sejuk. Sungai kecil dengan air tawar yang mengalir membuah semakin molek panti ini dengan hamparan pohon bakau. Pepohonan kelapa tumbuh menjorok ke pantai.

Terlihat anak-anak kecil berlarian di sepanjang pasir putih. Ada juga yang sudah tidak sabar menceburkan badan. Ada juga yang sibuk mencari kelomang untuk dikumpulkan dalam tempurung kelapa. Sore ini semua bahagia, karena ayah ibunya dudu dibawah pohon ketapang sembari nostalgia mengenang masa muda.

Penjaja ikan bakar pantai Be’wa Enggano.

Saya mengunjungi pantai ini sesaat melihat beraneka macam orang dengan bahasanya masing-masing. Ada yang berbahasa yang tidak tidak saya pahami yakni bahasa Enggano, ada yang berbahasa Bengkulu, ada yang berbahasa Indonesia logat melayu, dan yang saya pahami adalah logat bahasa Jawa yang kental.

Sesaat saya mencoba membeli sesuatu yakni tape singkong yang dibuat ibu-ibu dari trans jawa. Ibu tersebut berasal dari Gunung Kidul Yogyakarta. Saya membeli sebungkus tape seharga Rp 3000,00 dan membeli 3 bungkus. Tape saya tawarkan ke teman saya dan dia suka. “Saya beli 30 ribu bu” kata teman saya dan saat itu langsung ludes tapenya. “Lumayan mas bisa buat tenaga kalau ntar dorong motor”.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Cemara Udang (Casuarina equisetifolia) Benteng Alam Tsunami Pantai Bopong

Indonesia ditakdirkan menjadi pinggiran benua yang setiap saat bisa bergeser. Akibat geseran itu akan menimbulkan goncangan yang hebat. Jika di darat akan ada gempa, jika ...