Gua Terpanjang Pulau Enggano

Berfoto bersama di depan rumah pak Kadun Aji.

Gubraaak… tolong… tolong….
Suasana hening, saya membalik badan dan langsung lari menuju sumber suara. Suara sepatu boot saya “brak bruk brak bruk” menghujam batuan gua. Sesosok tubuh tergeletak, separo badan tercelup di aliran sungai bawah tanah. “Pak mas Andi pingsan” itu yang terlontar. Akhir dari penelusuran gua yang hampir menjadi tragedi kami petang itu, namun Enggano tetaplah memukau.

Dusun Jangkar

Pagi itu pukul 08.00 saya bersama Mas Andi berangkat dari Malakoni. Dengan mengendarai sepeda motor kami berangkat ke Dusun Jangkar yang berjarak sekitar 6 km dari Malakoni. 6 Km bukanlah jarak yang jauh, namun akses jalan yang tidak bagus kadang membuat saya berpikir “enak jalan kaki dari pada naik motor“.

Benar saja, usai jalan beraspal habis saatnya kami masuk jalan tanah dan berbatu. Jalan menanjak hampir 45 derajat dengan batuan kerikil. Saya memutuskan jalan kaki saya demi keamanan. Cukup lumayan menguras tenaga menghabiskan tanjakan tersebut. Tiba di atas tanjakan saya kembali membonceng sepeda motor.

Kali ini jalan tanah berlumpur yang kami lewati. Jalan ini kami sebut sebagai jalur tamiya, bagaimana tidak kami harus menyusuri lubang bekas roda yang memanjang. Kami memikuti alur dan beberapa kali harus selop karena lumpur tebal. Sesekali sepeda motor menyangkut karena blok mesin kandas dan roda tidak menapak. Alhasil kami harus mengangkat sepeda motor dan mendorongnya.

Entah berapa kali sepeda motor mogok dan celakanya susah sekali menyalakan kembali mesinnya. Pikiran kami sudah hendak membuang dan meninggalkan sepeda motor ini dan lebih baik jalan kaki saja. Setelah mesin sedikit turun suhunya, kami kembali menarik tuas gas dan menjelajan jalanan jahaman ini.

Pondok warga Dusun Jangkar.

Beberapa pondok kecil berdiri di sudut-sudut ladang milik para transmigran. Panel surya mencuat di atap dari seng yang menjadi penyimpan energi yang akan digunakan saat malam tiba atau sekedar mencatu telepon selular.

Hampir 45 menit kami berjibaku dengan jalur tamiya dan akhirnya kami sampai dirumah pak kadun (kepala dusun) Aji. Dia menyambut kedatangan kami dan sepertinya dia sudah siap, karena sehari sebelumnya kami sudah ke rumahnya untuk merencanakan perjalanan hari ini.

Perlengkapan Caving

Kami hari ini hendak menyusuri salah satu gua terpanjang di Pulau Enggano. Ada yang mengatakan ini adalah gua Dopaam ada yang mengatakan gua Ceem. Nama gua ini didasarkan pada pintu masuknya, padalah begitu sampai di dalam gua banyak sekali lorong-lorong gua yang saling terhubung dan memiliki pintu masuk dan keluarnya sendiri-sendiri. Ada banyak gua di sekitar dusun Jangkar dan guat tersebut yang akan kami telusuri/caving.

Misi kami adalah ingin mengeplorasi gua sekaligus memetakan gua. Ekplorasi bertujuan untuk mencatat semuan informasi yang ada di dalam gua, sedangkan peta berfungsi bagi penelusur gua sebagai pemandunya. Selain itu kami ingin mengenalkan gua ini sebagai lokasi yang harus dijaga, karena dari gua ini kebutuhan air warga Enggano terpenuhi.

Kami segera bersiap. Perlengkapan yang kami kenakan adalah wear pack, helm, senter kepala, sepatu boat. Bekal yang kami bawa adalah makanan, minuman, senter dan batu baterey cadangan, obat-obatan. Untuk survey dan pemetaan kami menggunakan laser disto untuk mengukur jarak, kompas dan klini untuk mengukur sudut dan kemiring. Kamera dan buku catatan sebagai alat dokumentasi.

Menuju Mulut Gua

Pukul 09.00 kami berjalan dari rumah pak Kadun Aji dan ditemai ponakannya- Joki Iskandar. Dalam perjalanan anjing-anjing Pak Kadun menghantar kami sambil berlari di sela-sela pohon kopi yang sudah merekah merah buahnya. Joki bercerita jika dia pernah beberapa kali ikut masuk gua, namun belum tembus sampai pintu keluar. Saya hanya membayangkan, berapa jauh gua ini panjang lorongnya.

Sebuah sungai kecil yang belum ada namanya kami susuri untuk menuju mulut gua. Sebuah pintu gerbang besar menjulang dan air masuk ke dalamnya, dan inilah mulut guanya. Sunyi, hanya gemericik air yang mengalir dan suara kepak kelelawar dan hanya itu. Arloji saya menunjuk pukul 10.00 dan pak Aji berkata “mari sebelum masuk kita berdoa terlebih dahulu”.

Mulut Gua.

Mulut gua menjadi pintu masuk/entri dan kami mengukur sebagai titik nolnya. Memetakan gua sebenarnya tidak sudah. Cuku mengukur lebar lorong, mencatat apa saja di sekitarnta lalu membuat sketsanya. Panjang lorong diukur dengan menembakan laser disto pada obyek yang mudah dilihat dan kami menggunakan orang, sebab pancaran lampu kepala memudahkan kami dalam membidik.

Memetakan Gua

Mengukur dan memetakan gua adalah tugas mas Andi, sedangkan saya mencatat dan mendokumentasikan fauna di dalam gua serta memotret bentuk-bentuk lorong gua. Tidak mudah mendokumentasikan fauna gua karena harus mencari hewan-hewan gua ini bergerak dan bersembunyai dan kalau perlu harus menangkapnya. Setelah ditangkap, lalu diidentifikasi dan jika perlu diukur, atau jika tidak mengetahui bisa diambil sampel untuk dianalisis di laboratorium.

Amplipigi salah satu fauna gua.

Memotret di dalam gua juga bukan perkara yang mudah. Gua yang gelap total maka untuk memotretnya harus membutuhkan pencahayaan yang baik dan kuat. Senter dengan kekuatan diatas 1000 lumen sangat menolong dalam memotret di dalam gua. Selain cahaya, kekuatan kamera terutama di dalam ISO juga bisa dimanfaatkan yakni dengan menseting iso di atas 800 atau 1.600. Diafragma adalah kekuatan lensa, maka dibutuhkan diafragma yang paling lebar, namun akan mengurangi sisi ruang tajam. Siasat perlu dilakukan dengan pemotretan low speed atau kecepatan rendah dalam membuka rana kamera. Saya biasa menghajar kamera dalam 10 – 30 detik bahkan hitungan menit dengan menggunakan mode bulb. Tidak lupa, selalu gunakan penyangga kaki tiga atau letakkan di atas batu agar stabil.

Memetakan denganmengukur panjang lorong gua.

Saya berjalan semakin masuk di dalam gua. Semakin hening dan sepi, sesekali saya mematikan senter kepala untuk menikmati kegelapan abadi. “Amplipigi mas” seru mas Andi dan saya segera mengejarnya. Amplipigi adalah serangga penghuni gua yang sudah beradaptasi dengan kegelapan abadi, begitu juga dengan jangkrik. Jangkrik di dalam gua memiliki antena yang panjangnya 8 kali dari panjang tubuhnya. Antena digunakan sebagai indera peraba, untuk menggantikan organ mata. Beberapa fauna gua yang saya temukan adalah; kepiting air tawar, udang air tawar, ular piton, dan kelelawar.

Lorong Panjang Gua

Gua Dopaam di dalamnya memiliki lorong yang panjang dan bercabang-cabang. Cabang-cabang lorong inilah yang harus ditelusuri dan di ukur. Tercatat ada 3 lorong besar dan salah satunya buntu. Lorong-lorang tersebut ada yang lebar, ada yang menyempit, bahkan ada yang rendah dan kita harus merayap untuk memasukinya. Lumpur sedalam lutut harus kita terobos guna bisa melewatinya.

Lorong gua yang memanjang.

Ornamen-ornamen gua sangat cantik. Stalagtit yang menggantung, stalagmit yang runcing ke atas dan bila bertemu menjadi pilar. Ada juga stalagtit yang berbentuk pipet, ada juga yang berbentuk pipih yang jika diketuk bersuara merdu. Gua penuh kristal, dan hanya orang berdedikasi saya kira yang diijikankan masuk ke sini. Gua yang rapuh menurut saya, sehingga kadang saya hanya berani memandang dari jauh. Saya takut jika saya berlebihan bisa menimbulkan kerusakan. Biarlah saya nikmati sudut-sudut istana kristal ini sambil berharap agar tetap abadi.

Ornamen Gua.

Pukul 12.00 lewat dan kita baru menyelesaikan 2 lorong. Sejenak kami beristirahat untuk menghela nafas. Suhu air 2,3C membuat kami kedinginan harus mencari tempat yang kering. Sesaat memejamkan mata.namun pak Aji meminta kita bergerak agar tidak terlalu lama istirahatnya.

Bentuk ornamen gua.

Kembali kami berjalan, namun kali ini langkah kaki kami semakin pelan. 2 jam kemudian kami menyerah dan kali ini harus melepaskan sepatu. Kaki sudah keriput, konsentrasi berjalan sudah mulai buyar. Senter kepala juga meredup dan harus segera diganti batu batereynya. Sebatang cokelat coba saya jejalkan di mulut sembari menahan aroma goano yang semerbak.

Berenang di Dalam Gua

Ayo mas, sebentar lagi sampai, tapi ada 3 tantangan yang harus dilewati” teriak Pak Aji. Perasaan saya tidak begitu enak mendengar kalimat akhir. Benar saja, sebuah jeram ada di depan mata kami. Pilihannya 3, yakni; balik kanan, melipir memanjat dinding gua, atau berenang. Opsi pertama dan kedua saya tidak sanggup, karena badan sudah gemetar. Akhirnya saya memilih basah kuyup saja. Berenang dengan menggunakan wearpak, mengenakan helm dan sepatu boot, bayangkan sendiri bagaimana sengsaranya.

Berenang di dalam gua.

“Itu baru renang 7 meter mas, sekarang tantangan kedua, kali ini renang 40-50 meter mas..!“. Kali ini saya sudah kepalang tanggung dan saling tatap dengan Mas Andi, dan Joki. Pak Aji sudah menyebrang terlebih dahulu, sepertinya sudah sampai di tepi dan terlihat lampu kepala yang sudah digoyang-goyang. Joki menyusuk kemudian dan lalu saya. “Mas tunggu saya mas” teriak mas Andi, sepertinya dia juga mulai keder juga berenang di posisi orang terakhir. Mungkin jika tanpa sepatu boot akan terasa lebih ringan, namun membawa saat berenang juga sama susahnya.

Slow speed langkah kami di dalam gua.

Akhirnya setelah sekian lama dan hampir kehabisan nafas, kami sampai ditepi. Badan basah kuyup dan sedikit menggigil. Arloji saya menunjuk pukl 15.00 dan artinya kami sudah 6 jam di dalam gua. “Ayo mas jalan, 500 meter lagi kita sampai di mulut guanya sergah pak Aji”.

Kembali kami berjalan dan tetap melakukan pengukuran. Kali ini gua semakin curan dan kami menemukan air terjun setinggi 2-3 meter. Kami harus memanjat dan kadang turun dibatu-batuan untuk menghindari jeram dan sungai agar kami tidak basah kembali.

Untuk mempercepat pengukuran kami mengukur dengan jarak panjang, karena lorongnya lurus. Antar kami berjarak sekitar 30-50 meter. Saya menjadi penjuru untuk acuan pengukuran, Joki survey jalur dan Pak Aji mencari titik pengukuran yang baru di depan saya.

Pingsan di Gua

Saat saya hendak menuju titik dimana Pak Ajir berdiri saya mendengar batu runtuh dan suara orang terjatuh. Pikiran saya langsung mengarah pada mas Andi, benar saja dia minta tolong dan sunyi. Saya memastikan posisi dia dan segera berlari menyusul sembari memanggil Pak Aji.

Usai pingsan.

Benar saja, Mas Andi terjatuh. Sepertinya dia salah menginjak batu yang labil lalu tergelincir. Separi badanya tercelup di air dan dia tidak bergerak. “Pak mas Andi Pingsan, mari kita angkat. Kita tarik pakaiannya saja pak dan bawa ke tepi. Jangan tarik tangannya pak“. Spontans kami menarik wear pak-nya meskipun membuat sobek bagian punggungnya. Kami tidak berani menarik anggota badan kawatir jika ada yang trauma bisa menambah parah keadaan.

Dalam keadaan pingsan kami membawa ke tepi. Saya melepaskan helm dan buff penutup kepala lalu membersihkan muka yang terkena lumpur, memastikan dia masih bernafas. Hampir 1 menit berlalu dia masih pingsan, lalu saya menepuk pipinya sesaat kemudian dia merespon. “Berapa lama saya pingsan” katanya. Setelah memastikan tidak ada cidera kami menyimpulkan “kamu lapar mas…“.

Kami berjalan, dan kali ini kami semakin senang saat bertemu dengan seekor ular piton. Keberadaan ular menandakan, pintu gua tidak jauh lagi. 17.45 arloji saya menunjukan waktu saat itu. Di depan samar-samar terlihat caya pintu gua.

Ayo mas ini tantangan terakhir” kata Pak Aji. Sebuh kolam dengan diameter sekitar 10 meter dan air terjun yang deras. “Pilih sendiri, mau melipir atau berenang ?” tanya pak Aji. Kami memutuskan untuk melipir dan kali ini saya menjadi orang terakhir. Saat Joki sudah sampi di seberang, pak Aji hampir sampai, dan Mas Andi baru sampai tengah. Pelan-pelan saya mengikuti jejak mas Andi. Saat di posisi yang sulit mas Andi macet namun dapat pijakan dan pegangan yang enak. Saya berpijak hanya pada ujung sepatu dan jari hanya ibu jari, telunjuk dan jari tengah yang bisa mencengkeram. Tepat di depan saya ada kotoran binatang dan saya tanta pada mas Andi, “itu kotoran ular piton mas” jawab mas Andi.

Arghhh… byurrr… saya terhempas di air terjun. Reflek kaki dan tangan saya segera bergerak untul naik ke permukaan dan dengan gaya katak saya mencoba meraih tepian kolam. Saat yang lain kering badanya, saya kembali basah kuyup. Sampailah pada pintu keluar.

Pintu keluar gua.

Pukul 18.00 kami kembali melihat langit dan selama 8 jam kami hanya melihat dinding dan kegelapan abadi. Nasi bungkus yang kami bawa, sudah jadi nasi penyet dan sangat terasa nikmat petang itu. Namun perjalanan kami belum berakhir. Dinding mendekati vertikal yang dihuni lintah harus kami panjat setinggi 100 m untuk kembali ke Dusun Jangkar.

Malam ini kami menginap di rumah Pak Kadun. Pondok yang di tengah ladang beratapkan milky way dan bernyanyikan binatang nokturnal sembari lampu yang mulai meredup. Malam itu kami menikmati zona remang-remang di pondok yang sederhana namun hangat, dan dijamu udang goreng dan tumis daun pepaya. hari yang akan kami kenang, menjadi awal penjelajahan kami di Pulau Enggano, pulau terdepan Indonesia.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Cemara Udang (Casuarina equisetifolia) Benteng Alam Tsunami Pantai Bopong

Indonesia ditakdirkan menjadi pinggiran benua yang setiap saat bisa bergeser. Akibat geseran itu akan menimbulkan goncangan yang hebat. Jika di darat akan ada gempa, jika ...