Profesor Yang Mengajar Sekolah Dasar

Mas Ruli sedang menjelaskan hasil temuannya kepada siswa SD dan SMP.

Konon katanya, orang dikatakan pintar itu bukan seberapa besar ilmu dan gelar akademiknya. Namun, seberapa besar dia bisa membagikan ilmunya dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti oleh yang awam sekalipun. Kali ini tantangan itu datang, bagaimana para pakar harus mengajar anak-anak SD.

Membumikan Ilmu

Setelah satu minggu kami bergulat dengan hutan rimba raya di Karst Bukit Bulan-Jambi, kini saatnya kami berbagi. Kami diminta untuk menjelaskan hasil-hasil penelitian kami kepada siswa SD dan SMP yang ada di kawasan penelitian kami. Lantas siapakah kami, sehingga harus demikian dan untuk apa.

Saya kebetulan tergabung dalam penelitian arkeologi di Bukit Bulan. Dalam penelitian ini terdiri dari beberapa pakar untuk melengkapi penelitian ini.

Ada ahli antropologi yang bertanggung jawab meneliti tentang kebudayaan masyarakat. Ada pakar geologi yang akan menjadi dewa bumi, bagaimana tidak, karena dia bertanggung jawab untuk menguak misteri terbentuknya kawasan tersebut. Ada ahli fauna yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi hewan-hewan yang ada di sana. Kebetulan saya diminta membantu untuk mengidentifikasi tumbuhan dan tidak berani mengatakan pakar tumbuhan atau botani.

Pagi yang cerah kami berangkat menuju SD Napal Melintang 2. Satu-satunya SD yang ada di sana dan jumlah murit yang tidak lebih dari 30 siswa dan gurunya hanya 4 orang. Ada juga SMP yang jumlah siswanya hanya sekitar 17 orang saja.

Suasana ruang kelas.

Mereka dikumpulkan di ruang kelas, namun perkiraan kami meleset. Yang hadir tidak hanya anak-anak sekolah, tetapi juga tokoh masyarakat. Jelaslah kami hari ini akan mengajar pada 2 generasi yang berbeda.

Karst Bukit bulan adalah kawasan batuan gamping di Jambi. Kawasan ini menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, baik flora maupun faunanya. Di samping itu, kawasan di sana juga menjadi hunian manusia purba puluhan ribu tahun silam. Temuan-temuan benda prasejarah seperti, lukis dinding gua dan batu obsidian adalah buktinya.

Warga bukit bulan adalah ahli warisnya, dan anak-anak sekolah adalah ahlinya. Namun sayang, tidak banyak yang mereka ketahui tentang potensi kekayaan alam dan prasejarah tempat ini. Kami sebagai peneliti harus segera membacakan surat wasiat alam ini kepada mereka.

Mas Ruly yang jebolan master arekologi di Eropa nampak kikuk dengan benda-benda temuannya. Dia seperti hendak jualan obat dimana pembelinya anak-anak SD dan SMP. Namun, orang pintar harus bisa bersiasat bagaimana menjelaskan ini kepada anak-anak SD. Kesuksesan jualan jamunya nampak dari anak-anak yang antusias melihat dan bertanya. Saya hanya mencuri dengan saja, supaya bisa menjajal jurus jualan jamunya.

Selanjutnya giliran mas Andi yang seorang peneliti dan ahli geologi. Sebagai dewa bumi dia tak kurang akal. Dia membawa beberapa jenis batu lalu mendongeng seperti pak Raden. Tatapan tajam wajah anak-anak dan sesekali ada yang angkat tangan memotong pembicaraan untuk bertanya. Wah jamunya laris manis.

Kali ini giliran mas Ami. Dia adalah Doktor yang masih fresh gelarnya, dan salah satu universitas ternama di perancis. Dia belajar khusus tentang tulang fauna atau hewan. Dari satu ruas tulang saja, otaknya seperti mesin pemindai dan langsung tau tulang hewan apa dan dibagian mana serta lengkap dengan nama ilmiahnya. Otaknya isinya tulang semua, mirip kamus-guman saya.

Antusiasme anak-anak.

Kini giliran bu Hamilda ahli antropologi. Dia membawa senjatanya berupa; alat perkakas tradisional, makanan, dan pakaian. Dengan mudah ibu ini menjelaskan dengan gaya mak-mak. Anak-anak tak kalah hebohnya. Kini tinggal saya yang bingung.

Pelan-pelan saya maju ke depan sembari bingung hendak ngomong apa. Cara yang paling sederhana adalah main tebak-tebakan saja. “pohon alpukat dan di pohon tersebut banyak ulatntya, dimana ulat meletakan telurnya, apakah di daun, di buah, batang, kulit kayu, akar atau ranting..?”. “di daun, kata seorang guru”, lalu ada murid yang bertanya “pak kan yang bertelur kupu-kupu” lalu hebohlah seisi kelas. “Saya kan guru olah raga bukan guru biologi” bela guru tadi. Demikian seterusnya hingga saya menyelesaikan durasi jualan jamu saya.

Foto bersama.

Cerita singkat bagaimana membumikan keilmuwan. Acapkali ilmu pengetahuan hanya menjadi konsumsi privat para ilmuwan, sedangkan orang awang hanya masih menerawang. Ilmuwan kini yang dituntut meneliti, publikasi yang terindek scopus, namun jarang yang menyentuh masyarakat. Ada saatnya ilmu itu harus dipertanggungjawabkan pada masyarakat, salah satunya generasi muda yang kelak menjadi penerus.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Cemara Udang (Casuarina equisetifolia) Benteng Alam Tsunami Pantai Bopong

Indonesia ditakdirkan menjadi pinggiran benua yang setiap saat bisa bergeser. Akibat geseran itu akan menimbulkan goncangan yang hebat. Jika di darat akan ada gempa, jika ...