Pemeriksaan mata bagi warga.

Sejuta Kacamata Bagi Warga Kaloran Temanggung

Susana pagi di Kaloran Temanggung.

Malam diselingi hujan rintik kami menembus kabut di Lereng Gunung Telomoyo. Jalur tersingkat dan bebas macet, meskipun berada di pelosok. Malam ini kami berangkat dari Solo menuju Temanggung, dan tujuan kami adalah sebuah Vihara Jaya Wijaya di Kaloran Temanggung.

Pagi di Kaloran
Menjelang pukul 10 malam, sampai juga akhirnya kami di Kaloran. Sebuah kecamatan di sisi Timur Laut Kabupaten Temanggung. Kami malam ini akan menginap di Wisma Biksu Jaya Wijaya. Dengan ketinggan 700-an m dpl, Kaloran beriklim sejuk bahkan dingin.

Malam ini kami tidur besama Budha Tidur dan patung Semar.

Kami beruntung, malam ini diinapkan di sebuah ruangan yang luas lengkap dengan perlengkapan tidur. Pengelola wihara begitu melayani kami dengan baik. Namun yang berkesan kami malam itu, kami tidur bersama dengan Budha Tidur. Sebuah patung dari batu utuh yang hendak di pasang di bangunan depan Vihara, namun saat ini masih tertutup kain cokelat.

Pagi menjelang, setelah semalam terlelap dalam lelah. Di depan tempat kami menginap, terlihat cahaya merekah. Segera saya mengambil kamera dan melukiskan pemandangan indan di depan mata.

Bukit-bukit indah dilihat dari Kaloran.

Dari sini terlihat dengan jelas Gunung Telomoto, Merbabu, dan Merapi yang masih terlihat samar. Di samping kanan kami berdiri terlihat dengan gagah gunung Sumbing dan di belakang Kami Sindoro berdiri dengan megahnya. Lansekap yang lengkap buat kami pagi ini.

Mayoritas Budha
Pagi ini saya mencoba menengok sebuah wisma Bante yang masih nampak lengang. Namun, terlihat sebuah sosok dengan jubah coklat sedang duduk bersimpuh sembari melantunkan doa. Inilah salah satu potret di Kaloran.

Konon semalam salam berbincang dengan pengurus Vihara. Warga kaloran adalah orang-orang Mataram Kuno yang lari. Mereka menetap di lereng-lereng gunung. Mereka berketurunan dan tetap melestarikan kepercayaan mereka yakni Budha hingga saat ini. Tidak salah jika warga di sini mayoritas adalah beragama Budha. Bahkan, salah satu dusun yakni Kali Manggis, 80% wargannya memeluk agama Budha. Lebih mencengangkan lagi, di sinilah salah satu pusat Agama Budha di Jawa Tengah dilihat dari mayoritas penduduknya.

Kembali kepada kebhinekaan. Tidak jauh dari Vihara berdiri dengan megah sebuah masjid. Dan acara nanti siang saya akan membuktikan benarkah kekawatiran kami itu muncul.

Sejuta Kacamata
Program sejuta kacamata adalah sebuah kegiatan pembagian kacamata bagi warga yang membutuhkan, terutama lansia untuk kaca mata baca (plus). Ini adalah ketiga kalinya saya mengikuti kegiatan ini, setelah yang pertama di Lereng Merbabu dan yang kedua di Lereng Sindoro.

Briefing sebelum acara.

Dari awal kami sudah diingatkan tentang potensi rawan kegiatan ini. “Ingat ini tahun politik”, “ingat ini kegiatan lintas agama”. Sebuah peringatan yang semalam membuat kami gusar bahkan saya hanya memandang sosok Budha Tidur di dekat saya.

Namun, kekawatiran pagi ini berangsur sirna. Pagi itu datang rombongan relawan. Wajah-wajah mereka begitu antusias. Mereka yang akan membantu kami berkegiatan pagi ini. Saya agak adem “relawannya ada yang berjilban, ntuh ada yang berkalung salib, nah itu malah ada yang sembahyang dulu di depan patung Budha”.

Sosialisasi kesehatan mata oleh dr. Eni selaku dokter mata.

Tagline relawan “Berbagi Kasih Tanpa Pilih Kasih” membuat kekawatiran saya hilang. Setelah berkoordinasi, segaralah acara dimulai. Kegiatan awalnya direncanakan pukul 09.00 terpaksa diajukan lebih awal karena warga sudah berdatangan.

“Nanti kalau ada warga non Budha yang tidak berkenan masuk di Vihara saat pemeriksaan dan pembagian kacamata di layani di luar saja” pesan salah satu panitia. Isu berdesus ada mereka yang menolak. Namun tidak terjadi isu tersebut.

Pemeriksaan mata bagi warga.

Sesaat saat saya melayani warga saya menanyakan KTP untuk memastikan usia mereka berkaitan kebutuhan kaca mata. Tidak banyak warga yang ingat usia mereka, dan jalan satu-satunya meminjam KTP. Sesekali saya melirik kolom agama “Budha, Islam” dan hanya itu. Iseng-iseng saya bertanya “mBah mboten napa-napa dilayani teng nglebet?” (Nek tidak apa-apa jika dilayani di dalam vihara). “mboten napa-napa mas, kulo niki moco kur’an, anak mantu, putu podo moco Parita, mpun biasa teng mriki” (tidak apa-apa mas, saya ini membaca Alqur’am sedangkan menantu dan cucu saya membaca Parita”.

Di sisi lain saya melihat betapa antusiasnya warga di sini dalam mendapatkan kaca mata, sisi lain kerukunan umat begitu terjaga. Agama bagi mereka urusan pribadi, sedangkan di luar itu adalah kebersamaan. Bahkan yang membuat saya semakin adem, yang menjaga kegiatan ini adalah Hansip dan Banser.

Banser dan tuan rumah berbincang bersama.

Pukul 13.00 kegiatan pembagian kaca mata berakhir. Di catatan saya melirik sudah ada yang 261 kupon, namun banyak juga yang datang tanpa kupon. Beberapa stok kaca mata juga habis bahkan warga tidak mendapat dan pulang dengan tangan kosong. Namun, 2-3 minggu lagi mereka bisa datang di tempat ini untuk mengambil kacamatanya yang segera kami kirimkan.

Kegembiraan warga usai mendapat kaca mata baru.

Kebahagian kami pagi ini berlipat kali ganda. Bisa membuat warga kembali tersenyum dengan kaca mata barunya. Dan kami dibuat tersenyum dengan kerukunan warga di sini. Di dalam Vihara, semua umat berkumpul untuk berbagi kasih tanpa pilih kasih.

Foto bersama usai kegiatan.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Gua Terpanjang Pulau Enggano

Gubraaak… tolong… tolong…. Suasana hening, saya membalik badan dan langsung lari menuju sumber suara. Suara sepatu boot saya “brak bruk brak bruk” menghujam batuan gua. ...