Pintu masuk Gua Gedang.

Gua Gedang, Potret Kejayaan dan Masa Kelam Bukit Bulan

Kabut pagi di Bukit Bulan.

Rinai hujan di pagi ini masih meninggalkan jejak di dedaunan yang basah kuyup. Kabut pagi di kaki Bukit Bulan masih menyelimuti hutan yang berdiri kokoh di atas bekas batu karang purba. Dari balik jendela saya memandang, “ah pagi ini harus ke Gua gedang“.

Awal Perjalanan

Sepenggal perjalanan di Bukit Bulan, Jambi. Hari ini saya berkisah tentang sebuah penelusuran gua alam yang ada di Kawasan Karst Bukit Bulan, tepatnya di Bukit Raja. Gua Gedang, menjadi tujuan kami. Bukan tanpa alasan memilih gua ini, tetapi ada kejayaan masa lalu yang membuat orang jauh-jauh datang ke situ.

Pak Irawan, yang kini sudah berkepala 6 pagi ini nampak bersemangat mendatangi base camp kami. Beliau adalah warga lokal di Napal Melintang yang dahulunya adalah pencari sarang walet di Kars Bukit Bulan. Puluhan gua, mungkin lebih dari 100 gua beliau hafal di luar kepala. Jangankan jalan menuju mulut gua, setiap jengkal pijakan dan pegangan sudah melekat kuat di ingatannya.

Sehari sebelum perjalanan di sampaikan, “mas jalan ke sana berat, harus pakai tali” katanya. Malamnya saya mengemas peralatan caving/penelusuran gua lengkap. Pagi ini kami berempat sudah bergegas menuju Gua Gedang.

Embun pagi yang belum beranjak tersapu oleh langkah sepatu boot kami. Sayang sepertinya, embun-embun cantik ini terinjak begitu saja dan meninggalkan bekas. Saya yang jalan paling belakang, beberapa saat berhenti dan menarik napas melihat jejak-jejak kaki itu.

Langkah kaki kami berhenti di Sungai Ketari Kecil, lalu segera kami merangsek di hamparan ilalang dan semak setinggi pemain basket Yao Ming. Semua bedan kami terlindungi, kecuali wajah dan leher kami. Garis-garis merah yang dibuat tepi daun Imperata cylindrica menimbulkan rasa perih terlebuh jika kena daun yang basah. Namun, inilah nikmatnya perjalanan.

Saya mengira penderitaan bakalan berakhir, namun luka-luka tersebut hanya sebagai pemanasan saja. Kali ini keluarga Hirudo alias lintah yang siap menyambut kami. Mereka seperti tentara berdiri tegak menghadang kami guna mencari pegangan untuk menempel lalu mencari celah di tubuh kami. Alhasil, kulit kami berhasil dia cumbu dan semula dia nampak kurus ceking seukuran lidi, kini sudah seukuran cabai yang gendut.

Bagitu gemasnya, kami mencabut begitu saja lintah yang sedang asyik menyedot darah. Ahasil, darah segar mengucur lalu segera ditambal dengan plester. Bagi yang sabar akan meneteskan cairan tembakau, sehingga lintah lepas dengan sendirinya. Bagi yang ekstrim akan menyundut pantat lintah dengan korek atau nyala rokok.

Lintah-lintah lapar akhirnya lelah kami hiruakan dan kaki ini ingin segera menerobos hutan. Pak Irawang mulai tengak-tengok, indikasi bahaya buat kami. Mengapa bahaha “Beliau sedang lacak-lacak, atau mengingat jalan dan jika diterjemahkan, dia lupa“. Jika belaiu sampai lupa, alamat cilaka.

Rekatakan-retakan batu gamping yang runcing menjadi jalan kami. Sisi sebelah kanan adalah dinding tebing, sisi kiri adalah jurang sedalam 50 meter. Melipir di tebing, jangan sampai salah fokus dan konsentrasi, atau nanti bisa di evakuasi.

Kejayaan dan Kekelaman

Setalah hampir 4 jam perjalanan, sampai juga kami di mulut Gua Gedang. Saya sebagai orang Jawa, nampak plonga-plongo (melihat kesana kemari dengan tatapan kosong). “Pak mana pohon gedang (pisang) tidak ada cuma paku-pakuan?” tanya saya pada pak Irawan. Toponimi Gua Gedang saya terjemahkan sebagai pisang, mungkin banyak pohon bisang. “Mas Gedang itu artinya luas” kata beliau. “Ah mirip jalan ke Manggis yang tidak ada manggisnya, ada peradun gedang artinya tempat istirahat yang luas” sergah saya dan dia hanya menggerakan hidungnya yang artinya iya.

Pak Irawan sosok pemburu sarang walet.

Sembari istirahat dan mencari sisa-sisa lintah siapa tahu masih asyik menyedot darah kami mendengarkan Pak Irawan bercerita tentang gua ini. “Dulu saya tinggal di Gua ini 3-4 tahun secara bergantian, untuk menjaga sarang walet. Di sini terkenal banyak sarangnya, bahkan dulu kalau panen bisa sampai 4 pikul atau 2 kwintal. Kami banyak uang dulu dari mencari walet, tapi kami juga bingung uang itu untuk apa, kaerna kami tinggal di sini. Akhirnya uang itu lama-lama habis untuk keperluan kami selama menjaga tempat ini”.

Pintu masuk Gua Gedang.

Tatapannya nanar melihat dinding-dinding gua dan seolah membawa dia kembali ke masa lalu, dimana waktunya dihabiskan menjadi manusia gua. Jejak-jejak masa lalu masih terlihat di sini, ada arang bekas tungku, bambu bekas gubug kecil, batu baterey untuk senter, coretan di dinding. Mulut Gua gedang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu dan kekelaman nasib penjaga gua.

Istana Bawah Tanah

Sarung tangan, helm, headlamp sudah terpakai dan saatnya kita masuk dalam gua. Sebuah ceruk kecil di sisi kiri adalah mulut guanya. Bagi mereka yang berbadan lebar mungkin harus menahan napas dan memipihkan perutnya, mulutnya sangat sempit. Beruntunglah saya, dan langsun bisa bisa masuk. Di dalam ada Mas Andi yang sudah sedia dengan buku primbon gua dan laser distonya. Dia ahlinya tukang gambar gua. Di belakang saya ada Mas Sigit dengan cetok kecil punya tukang bangunan tergenggam erat di tangganya. Dia adalah seorang arkeolog yang ahli tentang sejarah peninggalan masa lalu, tetapi bukan batu baterey dan bambu yang tadi.

Chamber Gua Gedang.

Di dalam gua, saya melihat sebuah chamber atau ruangan yang luas, bulat, dan tinggi. Lebarnya sekitar 14 – 20 meter dan tingginya 16 meter. Seperti kubah di dalam tanah. Kelewawar gua yang merasa terusik dengan kedatangan kami terbang tak beraturan namun tidak saling bertabrakan.

Di pinggir gua terdengan tetesan air, dan saya mencari dimana letaknya sebab pasti ada stalagtit dan stalagmit. Benar saja, nampak dua buah kreasi alam berusia ribuan tahun itu. Ingin rasanya membelai, tetapi itu pantangan buat kami. Kami tidak ingin merusak kreasi alam ini yang masih berproses.

Pulang Lebih Sengsara

Pemetaan gua dan pencarian benda purbakala usai. Saatnya kami berkemas pulang. Saat hendap perjalanan pulang acapkali kami dihadapkan pada pilihan, mau mencari jalan lain atau jalan semula. Tujuan kami adalah eksplorasi, dan biasanya pilihan pertama. Benar saja Pak Irawan paham akan kemauan kami. Berjalanlah beliau di depan. Kakinya nampak lincah berjalan di sela-sela tonjolan batu, sedangkan kami harus meraba.

Stop mas, kita harus hati-hati, di depan ada jurang. Bagimana mau lanjut atau balik kanan. Kalau lanjut ada jalan, tapi berbahaya?“. Kami terjebak di tengah tebing. Mau kembali tanggung, mau lanjut harus berhitung. Akhirnya kami memutuskan “oke pak lanjut, tapi istirahat dulu”.

VIDEO PERJALANAN KE GUA GEDANG

 

Kami istirahat di lereng tebing. Di samping kami menyembul kanopi pohon alias pucuk pohon. artinya di bawah ada batang pohon yang menjulang, bisa dihitung berapa tingginya. Kami membuka bekal makan siang kami. Bersandar di sebuah batang pohon dan segan melihat ke bawah daripada mutah.

Baru separo kami makan “mas saya sudah sampai bawah” teriak pak Irawan. Entah beliau lewat mana, pegangan apa, dan pijakan dimana kami tidak bisa membayangkan. Yang pasti jam terbang dan pengalaman tidak berkata bohong. Kami hanya berani mengumpat dalam hati dan terlihat dari ekspresi cara mengunyah kami.

Oke kita turun pake tali. “Kita repling mas” kata mas Andi. Pengalaman pertama bagi Mas Sigit. Jangkar pengaman kami buat, dan mas Andi turun pertama sembari membuat jalur. Saya orang terakhir yang nanti akan membersihkan peralatan untuk dibawa turun.

Harus rapeling saat harus mencari jalan turun.

Awalnya cukup merinding juga. Bagaimana tidak, ternyata tempat istirahat kami adalah hanging atau menggantung. Bayangkan kalau runtuh. Maka kami sembari makan sembil mengenakan perlengkapan safety. Akhirnya saya menjadi orang terakhir yang turun. Dan sampai bawah terlihat Cu Pe Tong demikian kami memanggil guide kami sedang makan siang dengan lahap.

Sudahlah kita istirahat dulu di sini, nanti kita pulang nyusur sungai, paling sekitar 4 jam perjalanan” katanya sembari mengunyah. Kami saling bertatapan dan sepakat berkata “cu pe tong“.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Wastra Nusantara yang Semakin Renta

Di bawah naungan kanopi trembesi (Albizia saman) yang berukuran raksasa saya melihat jajaran sepeda tua terparkir berjajar dan samar terdengar riuh suara perempuan. Siang ini, ...