Anak-anak Dusun Manggis yang hendak mandi pagi.

Potret Muram Anak Manggis, Mereka Masih Riang

Anak-anak Dusun Manggis yang hendak mandi pagi.

Saya masih ingat lagu yang dilantukan Iwan Fals “anak sekecil itu tak sanggup kalahkan waktu..” yang menceritakan perjuangan bocah di tengah kerasnya ibu kota. Di Manggis yang terletak di tengah hutan lindung, sebagian anak-anak bernasib demikian. Masa kecilnya dihabiskan dengan mendulang.

Malam di Manggis

Semalam saya hanya membolak-balik badan, gusar tidak bisa tidur. Sarung yang saya pakai tidak bisa mengusir hawa dingin. Saya melirik arloji saya “hah masih pukul 02.00 dan suhu 19C“. Masih 4 jam lagi menunggu pagi. Melihat rekan-rekan seperjalanan saya nampak pulas, bagaimana tidak mereka mengulung badan dengan matras mirip lontong. Entah tertidur atau pingsan, akhirnya pagi menjelang.

Kabut tebal menyelimuti Dusun Manggis.

AKhirnya pagi datang juga. Paghi ini udaranya mulai menghangat, namun di luar sana kabut tebal masih menyelimuti bukit-bukit yang mengelilingi dusun Manggis. Saya berjalan pelan agar lantai papan tidak berderit membangunkan teman-teman yang masih terlelap. Saya berdiri di teras rumah panggung untuk melihat aktifitas warga Manggis pagi ini.

Kemlako Kecil

Nampak beberapa gadis sudah beranjak pergi ke Sungai Kemlako kecil. Sepertinya mereka hendak mencuci pakaian dengan, karena ada bakul rotan di punggung mereka. Anak-anak kecil kemudian menyusul, sepertinya mereka bersiap untuk pergi ke sekolah.

Yang membuat saya heran, adalah rombongan ibu-ibu yang membawa wajan di punggung mereka. Bukan, itu bukan wajan tetapi dulang. Ternyata mereka akan mendulang emas di seberang bukit. Kaum lelaki masih asyik dengan rokok dan berselimutkan sarung, memang demikian laki-laki di sini.

Akhirnya saya memberanikan berjalan menyusuri sungai. Kemarin hampir saja saya kena denda adat. Bagaimana tidak, aturan di Manggis, jika mandi di sungai haru mengenakan basahan alias celana atau sarung. Saya nekat melompat hanya dengan celana dalam. Pantas saja beberapa gadis melihat, tersenyum lalu berpindah tempat. Selesai mandi baru dikasih tahu.

Tidak tersedianya WC, membuat warga Dusun Manggis memilih membuang hajat di Sungai.

Saya melihat anak-anak mulai menuju tepi sungai. ah, sebenarnya saya enggan cerita bagian ini. Tetapi, yang terjadi demikian, anak-anak berjajar jongkok untuk buang air besar di sungai. Jadi kemarin mandi itu, ah sudahlah pikir saya.

Saya berjalan dan berpikir, mereka kaya akan emas tetapi urusan kamar mandi mereka mengandalkan sungai. Untung saja di hulu Kemlako kecil tidak ada desa. Entah apa yang terjadi di bagian bawah dusun Manggis.

Potret Pendidikan

Berjalan melihat sudut-sudut perkampungan. Nampak sebuah bangunan sudah lama terbengkalai, sebuah sekolah dasar milik Kementria Agama. Warga mengatakan, sekolahan ini sudah lama tutup karena tidak ada murid dan gurunya. Lalu tak jauh dari sana ada SD negeri yang cukup ramai pagi itu.

Salah satu sekolah yang tutup.

Seorang anak memegang segepok kunci. Dia menuju satu persatu ruangan untuk membuka pintu. Tak lama berselang teman-temannya berdatangan. Melihat saya yang menenteng kamera mereka balik lagi, sepertinya mereka malu. Lalu segera saya berpindah di sebuah rumah yang dekat dengan sekolahan, sepertinya rumah dinas.

Di rumah tersebut saya disuguhi kopi kental dan manis. “kopi madu pak” kata saya yang tidak suka terlalu manis dan kopi, namun saya berusaha untuk menyeruputnya pelan-pelan. Tuan rumah menceritakan jika pendidikan di sini hanya sampai SD. Jika mau lanjut SMP makan akan di pondokan di Sarolangun sampai SMA atau SMK. Jika tidak mau sekolah makan akan diajak untuk mendulang. Itu saja pilihannya jadi anak-anak Manggis.

Dengan fasilitas pendidikan yang terbatas, mereka tetap berangkat sekolah meskipun hanya tamat SD nantinya.

Mungkin pilihan yang terakhir yakni paling kecut, yakni menikah muda. Saya menarik nafas dalam-dalam. Benar saja, akibat pernikahan muda akan berimbas pada tingkat perceraian tinggi. Tidak salah, banyak gadis-gadis di sini yang sudah menjanda atau ditinggal suaminya. Pandangan saya nanar melihat anak-anak berseragam SD di seberang pagar sana.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Rumah Merah Tiongkok Kecil Sarat Sejarah

“Bang saya minta fotonya ya..?” dua orang santri menyegat saya di tengah jalan. Dalam hati saya bersenandika, siapa mereka. Dia lalu menyodorkan gawai pintarnya dan ...