Santri di kawasan pecinan Lasem.

Rumah Merah Tiongkok Kecil Sarat Sejarah

Rumah merah saat malam.

Bang saya minta fotonya ya..?” dua orang santri menyegat saya di tengah jalan. Dalam hati saya bersenandika, siapa mereka. Dia lalu menyodorkan gawai pintarnya dan membuka aplikasi sosmed “IG abang apa? Saya follow lalu fotonya di DM ya bang?”. “Kalian meskipun memakai pakaian tempo dulu dan naik sepeda usang, tapi pemikiran kalian sudah empat titik nol, oke nanti saya DM”. Awal perjalanan saya di Lasem untuk mengulik masa silam yang tak lekang digerus jaman.

Santri empat titik nol begitu saya menyebutnya menjadi indikator keberadaan masa lalu itu masih ada sampai saat ini. Saya berjalan menyusuri gang-gang di daerah Karang Turi yang merupakan kawasan Pecinan pada masa lalu dan saat ini masih berdiri kokoh meskipun ada yang sudah compang-camping karena dimakan usia.

Berjalan menyusuri Rumah Merah di Karang Turi, kawasan pecinan di Lasem (Dewi Ratna Sari).

Rumah Merah

Saya berjalan dari tempat saya menginap, Rumah Merah demikian namanya. Saat pertama kali masuk di penginapan tersebut saya seolah berada di tengah adegan fil Wong Fei Hung. Pagar rumah dari tembok sekitar 3 m. Pintu gerbang bergaya Fujian dengan semua ornamen bercat merah mengucapkan selamat datang bagi para tetamu yang dibuat termangu.

Mangga lali jiwo yang banyak di pelataran rumah (Dewi Ratna Sari).

Di pelataran parkiran sekaligus dibuat rumah makan berdiri tegak pohon mangga tali jiwa. Gegara pohon mangga ini saya mendapat komentar di halaman media sosial saya “mas apakah mangga tali jiwo ini endemik jawa, dan mengapa ditanam dihampir disetiap rumah di Lasem”. Pak Rusyad Adi Surianto seorang arkeologi dari UGM membuat saya gelisah untuk kembali membuka buku etnobotani.

Gerai Batik Tiga Negeri.

Rumah merah adalah salah satu penginapan yang terkenal di Lasem. Penginapan ini tetap memertahankan nuansa Tiongkok masa lalu. Sebelum masuk rumah saya harus melewati gerbang Batik Tiga Negeri dimana didalamnya adalah gerai penjualan batik dari harga ratusan ribu hingga puluhan juta. Batik tiga negeri, nanti kapan-kapan saya ceritakan.

Gerbang batik tiga negeri terlewati saatnya saya masuk di Rumah Merah. Lorong tembok dengan dinding yang dibalut batik mengarahkan saya pada pintu dari bekas tembok yang dijebol. Sepintas sesaat teman-teman saya menyebut bangunan di depan mata kami adalah Klenteng, “bukan mas ini penginapannya, mari saya antarkan di kamarnya”.

Ornamen di dalam penginapan.

Begitu masuk, patung-patung berukuran besar seperti tentara langit dalam cerita Kera Sakti berdiri berjajar. Pilar-pilar dari kayu Jati menopang bangunan china kuno ini. Di dalamnya terdapat altar persembahyangan dengan dua barongsai berwarna ungu dan hijau yang mengapit. Dalam hati saya, kalau boleh menginap tempat lain boleh lah.

Saya ditunjukan sebuah kamar bertuliskan Taipei tepat dibelakang patung tentara tadi. Saya hanya berguman, bagaimana kalau tengah malam saya terbangun dan harus ke kamar mandi yang terletak di luar tepap di belakang saya kanan. Empat tentara dan 2 barongsai harus saya lewati, namun kenyataan selanjutnya saya memilih memutar daripada tidak bisa tidur lagi.

Penginapan Eksotis

Rumah Merah Tiongkok Kecil Heritage begitu nama rumah penginapa ini yang dimiliki oleh Rudy Hartono. Rumah yang tetap dipertahankan keasliannya meskipun sudah diberi sentuhan modern, bagimana tidak kamera CCTV, lampu LED, pendingin udara, televisi layar datar akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi para tamu yang menginapnya.

Rumah makan hokki di Lasem.

Senja berlalu, malam mulai gelap saya mencoba mencari makanan di Lasem kira-kira apa yang spesial di sana. Jalan menyusuri lorong, akhirnya menyerah dan berhenti di kios bakso tepi jalan dari pada pingsan. Semangkuk bakso yang hanya mengisi ujung lambung saya menjadi tenaga untuk mendapatkan apa yang khas di Lasem.

Benar, saya menemukan rumah makan bergaya Hindia. Tuan rumah sepertinya mengetahui maksud kedatangan saya. Dia berdiri di samping luar pintu dan mengucapkan selamat datang di rumah makannya. Sepertinya saya sedang beruntung, teman-teman saya sudah di dalam terlebih dahulu dan sudah memesan aneka macam menu khas Lasem. Peruntungan saya sirna, tidak ada yang khas.

Buku menu saya bolak-balik hingga bertemu dengan yang saya cari-kawis. “mBak pesan jus kawis” kata saya para pramusaji. Kawis adalah salah satu ikon di rembang. Kawis atau nama ilmiahnya Limonia acidissima masih satu famili dengan jeruk/Rutaceae. Bagian daging buahnya yang diambil lalu dihaluskan dan dicampur dengan air. Untuk produk turunannya, kawis biasa disajikan dalam bentuk sirup.

Malam di Rumah Merah

Puas menikmati kawis, saya kembali ke rumah merah. Malam ini akan saya habiskian untuk menikmati rumah merah ini dengan memotret dan memandanginya sampai ngantuk dan lelah, daripada tidak bisa tidur. Pukul 21.00 saya mulau menggelar kamera dan penyangga kaki tiga. Setiap sudut rumah merah saya abadikan untuk merekam setiap detail bangunan. Tidak ada kesan rasa angker dan menakutkan seperti pertama kali saya datang. Ada kesan damai, tenang, terlebih tata cahaya dengan lampu yang berwarna kuning temaram yang hangat.

Ujung rumah merah.

Akhirnya rasa lelah dan kantuk datang juga. Pintu dengan tebal lebih dari 3 cm dengan gagang pintu berbentuk bulat saya dorong. Kamar dengan label Taipei menjadi rumah saya malam ini. Segera saya merebahkan badan sembari mendengarkan rekaman suara burung walet di rumah sebelah dan sesekali suara anjing yang menggonggong. Tenang ada tentara yang berjaga di luar sana.

Restoran rumah merah.

Subuh pun datang, segera saya meninggalkan Taipei sembari melirik kota-kota lain dan belum ada yang terbuka pintunya. Langkah kaki saya senyap dengan bekalung 2 kamera saya meninggalkan penginapan untuk melihat kehidupan lasem saat dewa matahari belum menampakkan diri. Lasem pagi itu, nanti akan saya kisahkan.

Usai berkeliling di Pecinan pagi itu saya di panggil penjaga penginapan “Mas Sarapan dulu”. Saya seperti Panglima Tian Feng yang hendak bertemu dengan adik Chang E segera menuju tempat makan. Rumah merah pagi ini menyediakan apa yang sata temukan tadi di pasar.

Menu sarapan di Rumah Merah.

Dua buah botol jamu sudah siap saji di dalam ember berisi es. Jamu kunyit asam dan beras kencur. Pilihan yang tepat sebelum sarapan. Saya berlanjut membuka daun pisang yang digunakan sebagai penutup. Ada jajan pasar seperti; cenil, klepon, dan gethuk. Kudapan ringan seperti arem-arem dan naga sari sudah tergeletak di piring dari terakota. Berlanjut ada nasi uduk, sayur asem, dan sayur tahu. Tidak lupa ayam goreng yang bersanding dengan setoples berisi kerupuk dan rempeyek. Bagi yang ingin bergaya western ada roti tawar dan selain, saya yakin tidak ada yang menyentuhnya pagi itu karena banyak yang kesemsem dengan makanan Lasem.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Medan Sulit Pemadam Kebakaran Hutan Gunung Merbabu

Menjelang petang tetiba ponsel menunjukan notifikasi pesan berbunyi “besok kosong, bantu pemadaman dan bawa alat panjat, saya jemput pukul 7 pagi“. Saya mengiyakan, dan pukul ...