Barisan pemain musik.

Karnaval OMB UKSW 2019, Local Heroes itu Bernama Sapu Jagat

Karnaval OMB UKSW.

Ah biasa saja, seperti tahun-tahun yang lalu penampilannya” kata beberapa orang yang siang ini menyaksikan karvanal di kota kecil di pinggang Gunung Merbabu-Salatiga. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kembali mengadakan karnaval sebagai agenda rutin dalam menyambut mahasiswa baru, sekaligus mengenalkan keluarga baru kepada masyarakat Salatiga.

Mungkin bagi beberapa orang menganggap karnaval menjadi sesuatu tontonan yang menjemukan. Begitu juga dengan saya.  Bagaimana tidak, yang ditampilkan itu-tu saja, seperti alat musik, lagu, gerakan, dan semua sudah bisa ditebak. Namun anehnya, meskipun membosankan tetap saja antusias untuk menyaksikan.

Barisan pemain musik.

UKSW menjadikan karnaval di awal tahun ajaran baru menjadi agenda rutin yang sudah bertahun-tahun dilaksanakan. Ini merupakan ajang memerkenalkan mahasiswa baru sekaligus hiburan bagi warga Salatiga, meskipun ada yang dongkol karena jalan ditutup dan harus memutar.

Barisan pembawa bendera.

Tahun ini karnaval mahasiswa baru ada tema yang menarik yakni pahlawan lokal. Saat kancah hiburan di bioskop marak dengan local Heroes difilmkan dalam layar lebar. Sebut saja Wiro Sableng, Gundala Putra Petir, Sebentar lagi Si Buta dari Gua Hantu sudah tidak asing di telinga anak-anak milenial. Pahlawan itu dulu hanya menghiasi komik, layar lebar dengan bintang laga kawakan ala George Rudy atau Barry Prima dan antagonisnya Advent Bangun.

Saras 008,

Saat ini pahlawan lokal kembali diangkat dalam layar lebar yang tidak kalah dengan pahlawan mancanegara milik marvel. Dalam karnaval ini banyak yang tahu siapa Damar Wulan, Panji Tengkorak, Baru Klinting, dan lain sebagainya.

Melalui karnaval ini kita diajak bernostalgia dengan film tempo dulu atau komik era tahun 80-90an. Tokoh-tokoh yang merupakan imajinasi fiktif, legenda, cerita rakyat, bahkan dari sejarah kerajaan masa silam coba ditampilkan. Tiba-tiba saya terngiang pada layar tancap yang ditayangkan di lapangan kecamatan yang disponsori produk minuman bergambar orang tua berjanggut putih. Sehari sebelumnya mobil box dengan pengeras suara berkeliling desa mengumumkan pertunjukan layar tancap. Usai magrib lapangan sudah penuh dengan penonton haus hiburan, meskipun film dimulai pukul 21.00.

Manusia harimau.

Akhir dari karnaval yang membuat saya tersenyum lebar adalah semangat anak-anak muda yang membawa sapu. Mereka mahasiswa baru yang mungkin tidak terpilih menjadi gitapati karena wajah dan penampilannya tidak memenuhi syarat, atau yang tidak berbakat bermusik, atau tidak pas jika didandani dengan karakter cos play.

Sapujagar demikian namanya, barisan pembersih sampah di rute karnaval.

Takdir mereka adalah memberikan citra manis karnaval mahasiswa baru UKSW yakni sebagai penyapu sampah. Meskipun mereka tidak masuk dalam frame-frame kamera atau diajak berswafoto, mereka memantapkan diri menjadi orang terakhir yang memastikan tidak ada sampah di jalur karnaval. Pendidikan karakter yang jauh lebih mengena dari model perploncoan. Selamat datang mahasiswa baru UKSW di kota hati beriman-Salatiga.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Medan Sulit Pemadam Kebakaran Hutan Gunung Merbabu

Menjelang petang tetiba ponsel menunjukan notifikasi pesan berbunyi “besok kosong, bantu pemadaman dan bawa alat panjat, saya jemput pukul 7 pagi“. Saya mengiyakan, dan pukul ...