Sunset di Sebalil Enggano.

Merapah Sebalik Barat Daya Nusantara

Mengarungi Samudra Hindia.

Sesaat saya tidak percaya saat melihat perahu yang akan kami tumpangi mengarungi Samudra Hindia. Dengan perahu dengan pajang 8 meter dan lebar 1,5 meter dilengkapi dengan mesin 15 PK. Rasa kalut saya semakin membuncah manakala pelampung hanya ada 2 buah. Nenek moyangku seorang pelaut, seloroh saya saat naik perahu.

Dari muara sungai Malakoni kami keluar menuju laut lepas. Ade, motoris kami langsung memutar gas untuk melompati ombak sebelum pecah. Awal kengerian saya peralahan-lahan mulai sirna manakala perahu bisa berjalan dan menari-nari di atas ombak yang kadang bisa membuat pulau Enggano hilang dari pandangan.

Sebalik Enggano

Hari ini kami bertugas untuk meneroka sisi barat pulau Enggano. Kami akan berada di sisi barat daya Indonesia, dan selepas di luar sana adalah luatan lepas dan Benua Asia Selatan. Mungkin jika kami terus ke barat akan terdampar di Maladewa atau apes-apes sampai di Srilangka, lamunan saya saat perahu sudah di laut lepas.

Kami berangkat berdelapan orang, 4 dari kami adalah peneliti, dan 4 rekan kami adalah juru mudi, nelayan, guide hutan, dan seorang yang mengurusi perbekalan kami. Kami memiliki tugas masing-masing untuk kelancaran misi ini. Seperti biasa salah satu tugas saya adalah menceritakan apa yang terjadi di sana.

Sekitar 3 menit kami berlayar, tetiba bunyi joran kail berderit-derit. Umpan kami yang disambar ikan. Sengaja kami memancing dengan teknik troling memanfaatkan laju perahu kami yang berkecepatan 8-12 km/jam. Dengan sigap pak Irfan meraih joran dan siap berkelahi dengan ikan. Ade segera melambatkan mesin perahu dan kami melihat pertarungan yang sengit.

Kenur kail terlihat tegang dan badan kalap bergoyang. Mas Sigit sepertinya tidak tahan, sejak tadi menahan perahu yang bergejolak oleh laut selatan. Seketika dia memegang dinding perahu dan mengarahkan kepela ke laut lalu memuntahkan isi perut. Muntahnya rekan kami diiringi sorak-sorai, bagaiama tidak kami berhasil mendaratkan ikan barakuda seberat 15 kg, lalu Ade gas pol kembali.

3 jam kami membelah lautan biru di sisi barat daya Indonesia. Lalu perlahan Ade mengarahkan moncong perahu ke darah pantai. Dia mencari jeda ombak untuk menembus sawang luat. Salah perhitungan, perahu bisa hilang digulung ombak atau jika masih beruntung akan terbalik. Ombak tinggi datang, segera dengan kekuatan penuh perahu diarahkan menembus sawang tepat di puncak ombak. Setelah itu terlalui maka sampailah di peairan yang tenang dan ketegangan pun hilang.

Sunset di Sebalil Enggano.

Di tepi pantai kami mendarat di Sawang Bugis, demikian orang Enggano menyebut tempat ini. Lokasinya terdapat gubug mungil tempat singgah nelayan, ada sumur air tawar dan beberapa phon kelapa peninggalan Bina Karya/transmigran. Setandan kelapa mudah langsung ditebas oleh pak Dame yang hanya membutuhkan hitungan detik dalam memanjat.

Berkemah di Sebalik

Malam ini kami akan bermalam di Sawang Bugis. Menjelang senja, sang surya sudah di Peraduan. Ade, Pak Ifan, dan pak Dame datang tergopoh-gopoh membawa serenteng ikan. Ada kerapu, todak, gurita, dan beragam ikan karang. Mereka mendapatkanya dengan cara mengambil saja dari jebakan karang yang mengurung ikan-ikan tersebut.

Bakar ikan di Sebalik Enggano.

Segera perapian dibuat sebelum langit gelap. Dengan gagang yang ditusuk ikan, kami memulai memanggang ikan sesuai dengan selera kami masing-masing. Bumbu-bumbi instan disiapkan oleh rifal, kru perahu yang serba bisa. Malam ini kami menikmati ikan bakar, ya hanya ikan bakar dan sedikit lauk berupa nasi yang belum begitu masak dengan segelas teh tubruk panas andalan saya.

Perut kenyang, namun mahluk-mahluk kecil sepertinya kelaparan. Beberapa dari kami sengaja mendekati api agar terhindar dari nyamuk, bahkan rela kena asap. Ada juga yang membalur tubuhnya dengan lotion anti nyamuk, ada yang menutup rapat tubuhnya dengan sarung sembari meringkuk. Sepertinya kami sia-sia, dan akhirnya nyamuk agas yang terkenal dengan gigitannya yang super gatal mulai menyantap kami.

Ayo mumpung masih surut, kita tidur di bagan apung saja” teriak pak Irfan dan kamipun mengikutinya. Benar saja, di atas laut yang sedalam betis tidak ada satupun serangga di sini. Malam ini kami bisa tidur dengan nyenyak.

Pukul 02.00 mendadak saya terhenyak. Ada gempa pikiran saya, ternyata laut sudah pasang dan mengangkat bagan kami. Samudar Hindia kembali menggoda kami untuk gelombang. Mungkin jika tidak tahan, isi perut bisa keluar. Namun saya mencoba menikmati itu dengan melihat angkasa yang bertaburan bintang dan nyaris tidak ada awan.

Malam ini saya benar-benar dimanjakan dengan kosntelasi bintang-bintang yang menjadi beraneka macam bentuk menurut imajinasi saya. Beberapa kali saya melihat meteor yang bergesekan dengan atmosfir bumi dan tidak lupa saya tidak meminta apa-apa “buat apa.?” sembari saya tersenyum sendiri. Goncangan ombak makin membut tidak nyaman, dan menjelang subuh saya melompat dan segera merapat ke darat. Lebih baik basah daripada muntah.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

One comment

  1. nyamuk agas sing gigitane gatal. apa persis seperti nyamuk yang di pantai marina dan di pantai maron yak?
    giyateeel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Cemara Udang (Casuarina equisetifolia) Benteng Alam Tsunami Pantai Bopong

Indonesia ditakdirkan menjadi pinggiran benua yang setiap saat bisa bergeser. Akibat geseran itu akan menimbulkan goncangan yang hebat. Jika di darat akan ada gempa, jika ...