Orang-orang Biasa Andrea Hirata dalam Resensi

Novel orang-orang biasa.

Anjani yang baru berusia 10 bulan begitu menikmati aroma kertas bersampul kuning itu. Dia seperti menikmati petrichor diakhir musim kemarau. Sekilas bocah kecil itu enggan mengalihkan pandangannya pada sosok yang memakai topeng monyet sembari memegang buntalan hitam. Dia tertarik dengan orang-orang biasa.

Novel Andrea Hirata

Tahun 2007 saya pertama mengenal sosok Andrea Hirata lewat novel pertamanya-Laskar Pelangi. Entah mengapa dia mampu meracuni saya dan sejak itu saya mendapatkan wangsit untuk terus menulis sampai saat ini.

Untuk mendapatkan novel-novelnya beberapa kali saya mencari PDF-nya. Dokumen ilegal itu secepatnya saya buat pesta pora dalam sekejab. Selebihnya mengumpulkan lembaran rupiah lalu menebus versi aslinya di toko buku.

Orang-oang Biasa

Selepas vovel Ayah, saya begitu kering dengan siraman diksi-diksi ajaib dari sang maestro kata-kata. Tanpa sengaja melihat sosial media ada memegang novel bersampul kuning yang sudah ditandatangani penulisnya. Secepat kilat masuk dalam mesin-mesin pencari laman dan hasilnya “sold out”.

Pil pahit itu berubah menjadi gula-gula yang manis di akhir Maret di sudut toko buku sudah bertumpuk novel berwajah topeng monyet dan lansung sambar. Mau membuka, nanti dulu. Saya seperti anak kecil yang mendapat kejutan kado. Cari tempat yang sepi, tenang, dan pelan-pelan membukanya.

Belum membuka saja saya sudah ngakak duluan. Ah sialan novel ini, entah mengapa yang terbesit di otak saya adalah cerita-cerita konyol dan lucu, bahkan kisah sedih bagi saya ada sebuah degelan.

Tak kurang dari 24 jam novel ini selesai saya kunyah-kunyah dan beberapa bagian saya baca ulang sembari melepas tawa. Orang-orang biasa, memang isinya adalah orang-orang biasa dan tidak ada yang istimewa.

Dalam tokoh yang ditulis, isinya adalah orang-orang dibawah orang biasa menurut saya. Mereka adalah yang tidak sampai garis finis menempuh pendidikan wajib di negeri ini. Merenga tidak ada yang istimewa, kecuali kebodohannya.

Orang-orang biasa,

Orang-orang Luar Biasa

Namun yang menarik, inilah gambaran potret pendidikan negeri ini yang kadang tidak adil dan diskriminatif. Bagaimana tidak, mereka yang punya duit akan sekolah ditempat yang baik. Mereka yang pintar akan dikandangan dengan yang pintar. Mereka yang bodoh dan miskin hanya akan mengisi gelapnya lorong-lorong masa depan.

Namun, tidak selamanya kebodohan dan kemiskinan tidak memiliki apa-apa. Mereka masih memiliki rasa senasib sepenanggungan. Rasa ini yang kadang tidak ada di orang pintar dan kaya, keran mereka memiliki nasib dan tanggungannya masing-masing.

Solidaritas akan kemiskinan memiliki tujuan yang sama, maka mereka grombolan orang-orang gagal ini menjadi sosok jenius yang kadang orang tidak pikirkan. Mereka berada di jalur kewajaran. Mereka adalah anomali orang bodoh. Mereka adalah paradoks masyarakat pada umumnya.

Bisa dibayangkan geng orang miskin dan bodoh yang terbentuk dari SD hingga mereka punya anak bisa-bisanya merampok bank. Tujuan mereka untuk mendapatkan uang guna menyekolahkan salah satu generasi mereka di Fakultas Kedokteran. Awalnya mimpi, namun dasar orang-orang biasa maka mereka berbuat diluar kebiasaan.

Uang rampokan di dapat, anak bisa berangkat kulian. Kembali ke anomali dan paradoks, hasil kejahatan mereka dikembalikan pada yang punya. Penjahat-penjahat sesungguhnya dibuat mereka masuk bui.

Andrea Hirata kembali pada karakter aslinya. Dia mampu menyembunyikan dalil-dalil kehidupan yang lumrah dalam tulisannya. Cerita begitu mengalir lurus lempeng tanpa ada tikungan.

Novoel ini menyita daya ingat yang baik karena banyak sekali penokohan dan karakternya masing-masing. Yang pasti; ada nilai integritas yang ditanamkan untuk menjadi orang baik, meskipun tidak lumrah. Kita bisa belajar banyak dari Inspektur Polisi yang tetap memegang teguh sumpah prajuritnya. Kita bisa belajar solidaritas meskuipun dari kaum marginal. Kita diperbolehkan mimpi di dalam mimpi.

Yang pasti, kita diajarkan untuk menjadi orang-orang biasa. Dari orang biasa kita berangkat untuk menjadi orang luar biasa. Selamat membaca dan jangan lupa tertawa.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Enggano Pulau Pisang yang Tak Pernah Matang

Truk-truk nampak tergopoh-gopoh memasuki dermaga. Di sisi lain katrol dari KM Perintis melambai-lambai menguras isi palka. Seorang wanita paruh baya dengan gesit menggoreskan kuas bernodakan ...