Memet Ikan, Budaya yang Hampir Hilang

Memet ikan sepanjang kali irigasi diawali dengan mancing bersama.

Waktu saya kecil, orang tua atau kakek nenek saya selalu marah kalau saya ketahuan habis memet. Memet, sebuah kosakata yang saat ini sepertinya hampir punah, namun tetiba muncul lagi menjadi agenda wisata. Sebuah kearian lokal bagaimana menjaga kelestarian ikan dengan budaya memet.

Memet Ikan

Memet adalah teknik menangkap ikan dengan tangan kosong. Tangan meraba-raba dasar sungai atau kolam untuk meraba-raba ikan lalu menangkapnya. Jika ikan terasa masih kecil maka akan dilepaskan, dan jika besar maka akan masuk kepis (wadah ikan dari anyaman bambu).

Entah mengapa orang tua selalu marah jika menjumpai anak-anaknya memet. Memet identik dengan pekerjaan orang miskin, karena tidak memiliki tangkap ikan atau memiliki mata pencaharian menangkap ikan. Bukan hanya itu, memet memiliki risiko. Bisa saja saat memet yang terpegang oleh tangan adalah ular air, atau kaki menginjak beling, terkena kutu air, bisa masuk angin dan lain sebagainya. Yang pasti orang tua melarang betul memet itu.

Beruntung mendapatkan ikan lele besar.

Namun, memet adalah kegiatan menyenangkan. Tangan meraba-raba dan melatih indera peraba kita untuk menebak-nebak ikan. Jika licin mungkin itu lele atau belut. Jika bersisik dan berbentuk bulat segera lepaskan atau tangkap dan lempar jauh-jauh karena itu ular air. Jika bersisik pipih artinya itu ikan mujair, karper, ikan mas dan jika agak lonjong pastilah itu ikan tomang atau gabus. Itulah memet, masa kecil saya terlatih mengidentifikasi ikan hanya dengan merapa. Namun apa daya, jika ketahuan sandal bisa melayang atau gagang sapu mampir di pantat.

Memet sebuah tradisi yang hampir punah. Alat tangkap ikan sudah berubah menjadi lebih modern seperti pancing, seser, jaring, setrum, dan bahkan ada yang menebar racun/apotas/tuba. Memet seolah tidak efektif lagi untuk memenuhi kebutuhan tangkap ikan. Bagimana tidak, jika dahulu memet hanya untuk kebutuhan dapur sehari, sekarang kebutuhan menjurus pada pasar.

Agenda Desa Wisata

Saya beruntung bisa mendapatkan kesempatan memet tanpa dimarahi orang tua. Di Desa Ujung-ujung, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang-Jawa Tengah ada kegiatan memet setiap 3-4 bulan sekali. Memet kali menjadi agenda triwulan dan menjadi atraksi desa wisata.

Pada kesempatan ini panitia menebar 150 kg beragam jenis ikan, seperti; lele, nila, karper, dan tawes. Aliran irigasi dibendung agar lebih dalam. Panitia mewajibkan peserta untuk membayar Rp 10.000,00 dan berhak membawa 1 pancing.

Memet menjadi agenda rutin 3 bulanan desa wisata,

Hari itu peserta ada 450 orang yang siap dengan pancingnya masing-masing. Sebelum memet ikan-ikan akan dijadikan lomba pancing. Peserta yang ikut adalah yang memiliki tiket. Memancing dibatasi hanya 3 jam.

Setelah memancing, saatnya yang ditunggu-tunggu. Peserta masuk ke dalam sungai lalu dengan tangan kosong menangkap ikan. Inilah keseruannya, dimana mereka akan mengenang masa-masa kecil saat sedang memet dan saat ini tidak akan dimarahi orang tua.

Memet menjadi cara konservasi terhadap ikan-ikan sungai. Dengan memet bisa memilah dan memilih ikan yang ditangkap. Selain itu ada nostalgia masa lalu yang bisa dikenang tanpa takut ketahuan.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bak Blau Laguna Mata Biru dari Pulau Enggano

  Enggano adalah pulau karst, dimana batuan penyusunnya adalah batu gamping/kapur yang berasal dari dasar lautan. Karst menjadi penyimpan air hujan yang nantinya akan dialirkan ...