Pahitnya Susu Kental Manis

Untuk menambah citarasa makanan, acapkali susu kental manis ditambahkan sebagai topping.

Masyarakat kembali diresahkan dengan produk berbasis susu sapi. Beberapa tahun yang lalu, sempat digemparkan adanya kandungan bakteri dalam susu formula bayi. Beberapa hari ini kembali dihebohkan dengan susu kental yang tidak mengandung susu.

Iklan Susu Kental Manis

BPOM mengeluarkan surat edaran berkaitan dengan produk Susu Kental Manis (SKM). Surat edaran tersebut berisi tentanga larangan promosi SKM yang melibatkan anak balita, melarang memvisualisasikan SKM dengan susu, melarang visualisasi SKM dalam bentuk minuman cair, dan dilarang menayangkan iklan SKM pada jam tayang acara anak.

Kebijakan BPOM ini sontak menimbulkan tanda tanya besar bagi masyarakat awam yang selama ini memanfaatkan SKM dalam beragam jenis makanan. Sudah benar kebijakan BPOM yakni untuk melindungi konsumen, terutama dalam hal ini adalah anak-anak dan terkhusus balita. BPOM menyadari kandungan dalam SKM memang tidak dianjurkan bagi anak-anak terumtama Balita.

Komposisi Susu Kental Manis

Pada prinsipnya SKM tetaplah produk berbasis dari susu sapi, tetapi ada bahan tambahan yang membuat susu sapi bukan sebagai material utamanya. SKM terbuat dari campuran susu, gula, dan bahan tambahan pangan (BTP) lainnya. Secara definitif BPOM mengatakan susu adalah cairan yang dihasilkan dari mamalia sapi, kerbau, kambing, kuda, dan domba. SKM yang merupakan produk olahan dengan penambahan gula dan BTP tidak didefinisikan sebagai susu. Adanya pernyataan ini maka ada yang menyimpulkan jika SKM bukan susu.

Sebagai salah satu produk dari hasil olahan teknologi pangan, maka SKM harus dicermati secara bijak. Masyarakat harus diedukasi bagaimana mengonsumsi SKM dengan tepat sehingga bisa memberikan manfaat. SKM secara komposisi gizinya sudah diatur dalam SNI oleh Badan Standarisasi Nasional. Produk-produk SKM yang beredar di pasaran diproses dengan baik sesuai dengan standar produksi dan diawasi dengan ketat.

SKM adalah salah satu solusi pemenuhan kebutuhan pangan. SKM memiliki kandungan energi/kalori yang cukup besar yakni gula dengan kisaran 43 – 48%, sedangkan protein sekitar 6 – 7%, dan lemak 6 – 16%. Susu seharusnya identik dengan protein yang tinggi, tetapi faktanya tidak demikian untuk SKM. Masyarakat acapkali terkecoh dengan kata yang merujuk susu yang harapannya setara dengan susu murni atau susu cair.

Kandungan gula yang tinggi oleh produsen SKM tidaklah asal-asalan sebagai formulasinya. Gula yang tinggi sebagai bahan pemanis, pengental, dan pengawet. SKM tidak ubahnya seperti sirup, dimana sari buah dicampur dengan gula cair sehingga mengental. Cara konsumsinya tentu saja dengan cara diencerkan dengan air maka jadilah sirup rasa buah, demikian juga dengan susu.

Bagaimana Menyikapinya..?

Menjadi tugas bersama, baik pemerintah dan produsen SKM untuk mengedukasi masyarakat. Tidak ada yang berbahaya dari produk SKM, namun jika disalahpahami bisa menjadi potensi yang kurang baik bagi kesehatan. Masyarakat harus benar-benar diedukasi tentang bagaimana menfaatkan SKM, meskipun di dalam kemasannya sudah dituliskan “tidak cocok untuk bayi“. Masyarakat sepertinya kurang memahami, karena yang dibaca hanya tulisan besar yakni susu.

Gula adalah salah satu penyebab penyakit kardiometabolik. Bagi anak-anak gula menjadi penyumbang penyebab penyakiti caries pada gigi dan potensi obesitas. Anak-anak dengan perilaku dan kesadaraanya tentang kesehatan tidak bisa dituntut lebih, karena apa yang dikonsumsi anak-anak adalah tanggung jawab orang tua.

Orang tua harus memahami tentang bahaya konsumsi gula berlebih pada anak-anak. Gula yang ada di dalam SKM sangatlah tinggi untuk ukuran anak-anak, sehingga memang tidak direkomendasikan pada kondisi-kondisi tertentu. Anak dengan aktifitas fisik yang baik bisa mereduksi asupan gula tersebut menjadi energi. Tetapi anak-anak dengan aktifitas fisik yang kurang gula akan menumpuk dalam tubuh menjadi lemak. Bisa dibayangkan jika akumulasi lemak dalam tubuh berlebih maka anak-akan akan menjadi obesitas, tak bedanya dengan menyemai penyakit sejak dini.

Kandungan gula yang berlebih dari dalam tubuh juga akan mengganggu kinerja dari pankreas dalam mengelola insulin. Efek lanjut yang terjadi adalah potensi penyakit diabetes melitus (DM). Sangat disayangkan jika DM itu mulai terjadi sejak dini gegara konsumsi gula yang berlabih.

Sekarang masyarakat harus cerdas menyikapi produk-produk pangan yang salah satunya adalah SKM. BPOM sudah memberikan lampu kuning buat masyarakat dan harus segera ditindak lanjuti oleh pihak-pihat terkait. Produsen SKM harus bisa memberikan perspektif yang tepat berkaitan dengan produknya sehingga masyarakat tidak salah memahami. SKM adalah solusi dari industri pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi bijak memahami untuk pangan apa?

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Enggano Pulau Pisang yang Tak Pernah Matang

Truk-truk nampak tergopoh-gopoh memasuki dermaga. Di sisi lain katrol dari KM Perintis melambai-lambai menguras isi palka. Seorang wanita paruh baya dengan gesit menggoreskan kuas bernodakan ...