Kisah Setelah Menggapai Langit Afrika

Buku Menggapai Langit Afrika.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian”

~Pramoedya Ananta Toer~

Medio Januari 2016, saya mencoba menarik lorong waktu ini 3 tahun yang lalu. Pukul 7 malam saya diajak Yohanes Kurniawan untuk makan malam. Menu yang membuat saya harus beberapa kali mengelap keringat karena sambal yang luar biasa pedas bagi saya. Tetiba usai makan “ayo ikut ke kafe sebelah, saya kenalkan teman-teman Fotografer dari Balikpapan“.

Kafe yang terletak di seberang tempat kami makan, kami sambangi. Di dalam sudah menunggu kalau tidak salah 3 orang. “Ststst mereka bos-bos minyak” bisak Yohanes ke saya. Saya hanya tolah-toleh saja.

Saya duduk di sudut sembari mendengarkan mereka bercerita. Sebagai orang baru, saya belum memiliki bahan cerita. Entah mengapa salah satu dari mereka menyeletuk “gunung”. Langsung Yohanes menunjuk saya “kalau gunung dia orangnya”.

Awal Mulanya

Berawal dari obrolan gunung, maka kenalah saya dengan Om Siswo Prayitno. Keinginannya untuk mendaki gunung nampak menggebu saat bertanya-tanya tentang gunung dan seluk beluknya. Hobinya memotret ingi dilampiaskan di gunung agar berbeda dengan orang lain.

Akhirnya, saya menghubungkan om Siswo dengan Jarody Hestu pemilik Equator Indonesia. Gayung bersambut, dipandu oleh mbah Jarod begitu saya memanggilnya, Om Siswa mulai melangkahkan kakinya. Jalur selatan Gunung Merbabu mungkin menjadi yang pertamanya.

Racun Gunung

Merbabu telah meracuni om Siswo dan teman-temannya yang menyebut geng-nya “tuek-tuek pethakilan“. Di usia yang separuh abad mereka ingin moulting/mlungusngi/ganti kulit menjadi anak muda.

Dengan tagline tua itu pasti, sehat itu pilihan menjadi bendera startnya. Saat mereka yang sudah berkepala lima menurun aktivitas fisiknya, lain kisah dengan Om Siswo. Beliu kembali merontokan karat-karatnya tubuhnya dan mengembalikan performa masa mudanya.

Berlari 5 km, lalu naik 10 km, dan akhirnya bisa menembus kelas marathon 42,195 km. Pencapaian yang luar biasa untuk manusia separuh abad. Yang menarik adalah efek sampingnya, dimana istri dan anak-anaknya ikut beserta dalam pelarian ini.

Memotret Ketinggian

Saya hanya mengikuti om Siswo dari sosial medianya. Tidak banyak dia bergulat dengan dunia maya. Tahu-tahu sudah sampai Sumbing. Sumbing usai, sudah sampai Rinjani. Rinjani lulus, lanjut ujian di Gunung Raung. Mungkin itu obsesi anak muda pada umumnya ingin menjajal gunung-gunung tinggi di Indonesia. Namun faktanya tahu-tahu sudah mengunggah hasil perjalanan di Afrika.

Tau-tau sudah sampai Kilimanjaro.

Kilimanjaro, siapa tidak ingin ke sana? Mumpi yang kadang susah diwujudkan meskipun dalam mimpi. Namun, tuek-tuek pethakilan sudah sampai di sana. Saya hanya berguman, sangat disayangkan perjalanan panjang kalau hanya didokumetasikan dan terngiang dalam ingatan. “Ayo nulis dan dibukukukan om” colek saya.

Mulai Menulis

Membujuk Om Siswo untuk menulis bukan perkara mudah. Seperti summit attack ke Jonggring Saloka-nya Semeru. Naik dua langkah melorot 3 langkah. Setelah sata mengirimkan beberapa contoh tulisan saya dalam bentuk sofy copy buku dan majalah, barulah Beliau berulah.

Draft mentah buku Menggapai Langit Afrika.

Kiriman pertama hanya beberapa lembar tulisan di MS Word yang dikirimkan dalam surel. Saya yang setiap hari membaca tetiba harus mengusap rambut gondrong saya ke atas. Mungkin jika ini mahasiswa saya sudah tak marahi. Khas tulisan orang teknik yang lempeng kaku, tiada koma dan titik, tanda baca diterabas, induk kalimat mana, anak kalimat mana, kosakatanya gado-gado antara Indonesia dan Inggris. Jika disatukan “tulisan komplikasi-parah“.

Saya yang sejak awal sudah berkomitmen “saya siap menjadi bidan untuk membantu melahirkan tulisan pertama om Siswo“. Beberapa kali harus revisi, membuat draft ulang, menerjemahkan kembali, menyederhanakan bahasa, hingga memahat agar enak di baca.

Untung saja, saya sebagai bidan memiliki baby sitter yang baik. Cak Alex begitu saya memanggil. Dia yang bekerja di Media, tanpa babibu saya tunjuk untuk menata repihan-repihan afrika menjadi buku. Dia kadang garuk-garuk jenggot jika setip kali harus ada yang dirubah. Yang pasti, dia melebihi sabarnya mahasiswa semester 14 yang bolak-balik harus revisi. Akhirnya semua tertata dengan baik, anggun, layaknya bendel disertasi.

Hampir satu tahu keluar masuk tulisan dan saya selalu bersemangat untuk kembali membuat tulisan yang keriting menjadi halus. Saya menyadari, Beliau bukanlah penulis, namun mau menulis. Meskipun ada salah ketik, saya kira banyak yang paham yang ingin beliau ceritakan. Buku pertama ini bagi saya adalah capaian yang luar biasa.

Menggapai Langit Afrika

Kisah perjalana menggapai atap Afrika beliau ceritakan dengan runut. Dari persiapan, perjalanan dan hingga pulang. Yang saya salut, tidak banyak orang yang melakukan perjalanan bisa menceritakan kisahnya yang runut dan mengalalir. Tidak hanya ceritanya tentang langkah kakinya, ada juga pesan edukasi yang dia torehkan.

Pesan edukasi dari pengalaman pribadi dimana Beliau harus memuntahkan isi perutnta gegara penyakit ketinggian. Percayalah, sakit digunung itu rasanya menakutkan dan sangat menyiksa. Ini pembelajaran buat kita bagaimana jika tetiba harus berurusan dengan tragedi ini. Pengalaman pribadi yang tidak malu-malu dan gengsi dia ceritakan. Biasanya tragedi adalah aib bagi pendaki, namun dalam buku ini hendak mengedukasi.

Kisah dengan pemandu gunung.

Dalam penutup buku ini dan ini menjadi salah satu gongnya selain Uhuru. Tidak banyak pendaki yang memakai jasa pemandu saling mengenal lebih dalam. Biasanya mereka berhubungan sebatas transaksional. Kamu antar saya ke puncak lalu turu, lalu bayar dan selesai. Namun dalam buku ini pemandu dan pendaki mengenal lebih dalam. Ada ikatan emosi, dimana dikenalkan dengan keluarga kecil pemandunya, menikmati kopi bersama, dan banyak kisah lainnya. Inilah luar biasanya cerita akhir dari buku ini.

Kembali kasih Om Siswo.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Satu buku ini menjadi warisan yang sangat berharga buat Om Siswo, keluarga, kolega, dan rekan. Menulis bak menorehkan guratan pada batu menjadi relief yang bisa dinikmati ribuan tahun. Buku menjadi salah satu warisan dari peradaban yang didalamnya banyak kisah yang bercerita. Selamat om Siswo dan teruslah berkarya untuk keabadian, tabik.

 

 

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Profesor Yang Mengajar Sekolah Dasar

Konon katanya, orang dikatakan pintar itu bukan seberapa besar ilmu dan gelar akademiknya. Namun, seberapa besar dia bisa membagikan ilmunya dengan cara yang sederhana dan ...