Pantai Oetune di kec Kualin Kab., Timor Tengah Selatan NTT.

Oetune, Pantai Eksotis di Selatan Timor

 

Pantai Oetune di kec Kualin Kab., Timor Tengah Selatan NTT.

Alex, kalau tidak salah ingat nama seorang bocah yang cekatan. Dalam waktu singkat bisa memanjat pohon kelapa setinggi 15-an meter lalu turun ganti di pohon lontar dengan tinggai tidak jauh berbeda. Bagi saya yang awam, dia sedang bertaruh nyawa dengan ketinggian. Kekawatiran saya sirna manakala dia membawakan saya kelapa muda dan buah lontar. Segarnnya buah tropis ini sembari menyusuri pantai Oetune di Nusa Tenggara Timur.

Penjual kelapa muda dan lontar.

Pantai Oetune

Oetune,salah satu pantai dengan pasir cokelatnya. Perpaduan pasir pantai yang berasal dari cangkang hewan karang dengan pasir dari sungai. Siang itu saya mencoba mengais-ngais keindahan dan semilir angin laut.

Dari sekian banyak pantai yang dibuka untuk wisata, Oetune salah satu yang menarik meskipun masih di bawah bayang-bayang Kolbano dengan batu kacanya. Untuk menuju Oetune, sangat susah terlebih menggunakan peta digital.

Jalan menuju Oetune.

Dengan mengendarai kendaraan bermotor, kami memacu kendaraan membelah perkampungan tradisionak yang identik dengan ume kbubu dan rumah kotaknya. Lopo di ujung kampung menjadi pertanda sebagai batas wilayah. Setelah melewati savana, kami melihat hamparan laut selatan.

Pantai Oetune berada di Kecamatan Kualin, Kabupatne Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tengara Timur. Pasir pantai ini memanjang, meskipun tidak begitu luas. Barisan pohon cemara laut dan ketapang menjadi peneduh dari teriknya matahari yang menghajar tiada ampun.

Savana Oetune.

Meskipun jauh dari kota, pantai disini menyediakan kuliner khasnya yakni buah lontar. Jika di Jawa dikenal dengan Siwalan, di tempat ini lontar menjadi pemuas dahaga dan lapar. Anak-anak kecil yang menjajakan, namun yang menarik lagi ternyata mereka sendiri yang memetiknya.

Potret Anak Timor

Sempat muncul perasaan tidak tega, anak sekecil itu memanjat pohon kelapa dan lontar. Inilah potret anak Timor. Mereka mengenal kerasnya alam sejak masih dalam kandungan melalui tradisi neno boha. Selama 40 hari mereka ditempa di dalam um kbubu. Mereka kuat karena bisa menaklukan hambatan alam.

Sesaat saya bertanya “berapa harga satu kelapa dan lontar?”, “Kelapa enam ribu, dan lontar tiga ribu”. Dahi ini mengernyit mendengar pengakuan mereka. “Adik, uang untuk apa ko?”, “ini buat sekolah dan uang jajan”. Sangat sederhana, sebab saya berharap ada kata “beli paket data”.

Pasir coklat kuning pantai Oetune.

Kembali saya menyusuri pantai yang sepi dan nyaris tidak ada pengunjung. Jejak kaki hanya ada 2 yakni kanan dan kiri, manakala saya menengok ke belakang. Gundukan pasir laut yang tinggi menjadi penanda ombak pernah menghantam tempat ini dan meninggalkan pasirnya. Jejak lukisan angin begitu jelas. Namun sayang, saya sendirian di tempat yang eksotis ini.

SApi Oetune.

Mungkin suatu saat, pantai ini tertata dan lengkap dengan segala kebutuhan para pelancong. Oetune, nantikan kami kembali.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Museum BPK RI, Pengawal Harta Negara

Di sebuah kerajaan, seorang raja berkuasa dengan segala kewenangan dan kekuasaannya. Dia lupa akan derita rakyat, karena terlena dengan tahtanya. Kerajaan menjadi carut marut, korupsi ...