Gua sebagai hunian masa lalu.

Mengintip Tukang Gali Tulang

Gua sebagai hunian masa lalu.

Hujan yang turun dengan lebatnya, membuat saat malah bisa berfantasi liar. Di mulut gua, saya membayangkan waktu ini mundur 50 ribu tahun silam. Saya berdiri di mulut gua, dan rekan-rekan saya sedang meramu makanan. Nyalam api yang tak boleh pada menjadi satu-satunya penerang, penghangat badan, dan media untuk memasak makanan. Imajinasi saya menjadi manusia awal yang tinggal di Nusantara.

Gua Rumah Masa Lalu

Lamunan saya buyar manakala hujan reda dan langit kembali terang benderang. Saya baru tersadar, mengapa manusia purba memilih gua sebagai tempat tinggal. Benar, mereka tidak perlu membangun rumah dan cukup tinggal di lorong goa yang remang.

Sebelum saya sampai mulut gua, sumpah serapah keluar gegara masuk ke mulut gua yang terjal. “Ini manusia kenapa tinggal di tempat yang sulit seperti ini, enakan tinggal di bawah dekat dengan sungai”. Baru saja saya turun dari gua dan saat menuju sungai “barusan terjadi banjir, manusia masa lalu ternyata lebih pintar dan arif daripada saya”.

Arkeolog

Namun yang ingin saya ceritakan adalah, bagaimana saya bisa bercerita ini. Berkat para penggali tulanglah saya paham tentang apa yang terjadi pada masalalu, ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu. Saya sangat beruntung diajak menjadi barisan penggali tulang, dan merekalah para arkeologh.

Lukisan dinding gua.

Dinding gua yang sepi, menjadi saksi bisu tentang masa lalu. Lukisan dinding gua bisa saja bercerita banyak tentang waktu itu lewat goresan oker di dinding gua. Namun, dibalik kebisuan itu ternyata ada kotak hitam yang menyimpan rekaman ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu.

Lapisan tanah pelan-pelan disingkap dengan menggunakan kuas. Jika ada benda keras barulah mereka memakin pengorek dari logam, lalu di kuas lagi. Mereka menyingkap lapisan tanah demi lapisan. Setiap temuan sekecil apapun, baik tulang, batuan, atau fosil harus tercatat dan terpetakan dengan baik.

Benda Temuan

Fosil menjadi salah satu masterpiece jika ditemukan, artinya barang tersebut berusia ribuan bahkan ratusan juta tahun yang lalu. Tulang, bisa menjadi indikator waktu puluhan, ratusan, dan ribuan tahun yang lalu. Batu, bisa menjadi keduanya tergantung bentuk, ukuran, dan kegunaanya.

Tulang temuan yang bisa menyingkap masa lalu.

Saya memerhatikan para penggali tulang, baru dapat satu lapisan tanah saya sudah nyerah. Mereka masih asyik bahkan semkain antusias, sebab setiap temuan adalah jawaban dari pertanyaan mereka. Semakin banyak temua maka jawaban semakin akurat. Temuan aka mereka masukan dalam plastik lalu diberi label.

Sudah sinting ini orang, kemana-mana bawa tulang dan batu. Arkeologi sebagai salah satu ranah ilmu yang jauh dari gemerlap dan pesta pora para ilmuwan. Mereka bekerja jauh dari keramaian, nyaris kesepaian. Namun di balik kesepian, mereka sebenarnya sedang berdialektika dengan memutar waktu ribuan tahun ke belakang.

Baru saja sampai di kemah dasar. Saat orang seperti saya merebahkan badana, para pencari tulang itu sibuk mencari air. Mereka sedang tidak mandi, sebab sebelum temuan dimandikan/dicuci mereka belum mandi. Sepertinya mereka lebih sayang temuannya bau badan dari pada badannya sendiri. Namun, yang dimaksud adalah, setiap temuan harus segera diamankan dan secepatnya dianalisis guna menentukan esok bertanya tentang apa?

Para arkeolog bekerja siang malam dalam keheningan,

Malam semakin laru. Saat arloji menunjukkan pergantian hari, saya melirik ke kemah belakang. Nyala lampu kepala masih terang benderang menerangi jemari meraka yang sedang melihat dan memutar-mutar temuan. Setiap temuan haru didokumentasikan, dicatat, dan segera dipilah-pilah.

Tidak mudah mengidentifikasi setiap temuan. Bayangkan, sepotong tulang yang orang awam tidak paham itu tulang apa. Mereka bisa menebak ini tulang hewan ini dan tulang bagian ini berikut nama ilmiahnya. Gila, saya mereka ini luar biasa. Baru tulang, sedangkan batuan beraneka macam mereka juga bisa mengidentifikasi, berikut juga batu tersebut sudah berubah komposisinya.

Satu lagi yang membuat saya tak habis pikir. Sebilah batu, bisa menceritakan batu ini dibuat untuk apa, ditemukan dimana, bagaimana membuatnya. Contoh saja, serpihan obsidian. batu ini dipakai sebagai pisau yang sangat-sangat tajam pada masa lalu. Bahkan, konon ada yang mengatakan, serpih obsidian lebih tajam dari pisau bedah untuk operasi. Gila, saya kembali berguman. Dengan sebilah batu, para penggali tulang bisa bercerita sampai pagi.

TIm yang solid untuk pekerjaan yang berat.

3 minggu saya menahan diri agar tidak keluar dari barisan penggali tulang. Saya banyak belajar dari meraka arti kesabaran demi menguak masa lalu. Saya diajarkan berimajinasi liar dengan melihat setiap temuan. Saya belajar bagaimana mencari jawaban masa lalu, lewat repihan-repihan kotak hitam yang ditinggalkan nenek moyang. Mereka bisa bercerita banyak, saya hanya berkisah tentang mereka.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sejuta Kaca Mata Bagi Warga Lereng Sindoro-Wonosobo

Musik gending jawa terdengar bertalu-talu dari pengeras suara. Tetembangan yang memanggil warga untuk segera datang di lokasi acara. Dari kejauhan saya memerhatikan, “sepertinya akan ada ...