Menangkao ikan

Diyasinkan Karena Menangkap Ikan di Lubuk Larangan

Sungai Limun di Napal Melintang.

Pak Teguh rekan seperjalanan saya nampak tersenyum kecut sembari melihat sebuah tas berisi 3 buah joran pancing dan lengkap dengan pernak-perniknya. Dia berencana akan memancing di Sungai Limun yang menjadi tujuan perjalanan kami. Niat yang sudah membara tetiba padam karena dia takut di yasinkan oleh warga.

Sungai Limun

Sungai Limun, demikian nama sungai kecil yang membelah dusun Napal Melintang di Kars Bukit Bulan-Jambi. Sungai ini menjadi satu-satunya sumber air warga, sehingga sangat tergantung pada aliran sungai ini. Lantas apa istimewanya sungai ini? Tidak ada yang berani berani mengusiknya.

Tempuyung, makanan khas dari Napal Melintang yang harus dicari di Sungai lain.

Sebagai satu-satunya urat nadi kehidupan di Napal Melintang, sungai Limun benar-benar di Jaga oleh warga sekitar. Air yang tidak pernah kering ini menjadi nyawa mereka, bahkan dulu menjadi satu-satunya akses transportasi menuju Kabupaten Sarolangun.

Lubuk Larangan

Untuk menjaga sungai ini, tokoh-tokoh ada setempat menjadikan sungai Limun sebagai lubuk larangan. Warga dilarang masuk kawasan sekitar sungai tanpa ada alasan yang jelas. Warga juga dilarang merusak dan menangkap ikan di sungai. Aturan yang disepakati bersama oleh tua-tua adat dan warga.

Menangkap Ikan.

Seberapa taat warga dengan aturan yang ada? Semua warga taat. Warga tunduk pada aturan karena melihat sangsinya yang tidak main-main. Ada aturan jika barang siapa merusak atau menangkap ikan di Sungai Limun akan dikenakan denda adat.

Denda Adat

Denda adat yang diterapkan tidak main-main bagi pelanggarnya. Jika ada yang melanggar, siap-siap harus merogoh kantong untuk menyiapkan uang 2 juta, kambing 2 ekor, beras 2 karung. Mungkin secara materi, denda tersebut bisa dibayar. Namun denda terakhir ini yang membuat mereka benar-benar takut.

Warga di Napal Melintang adalah warga yang taat dalam menjalankan kewajibannya sebagai umat Muslim. 100 warga disana menganut agama Islam dan memahami tentang hukum-hukumnya. Apabila ada yang melanggar hukum adat di atas maka pelakunya akan di yasinkan. Dalam ajaran Islam, di yasinkan berarti dibacakan doa-doa tertentu. Doa Yasin biasanya diperuntukan untuk orang yan sedang menghadapi sakratul maut, malam Jumat, malam Nisfu Sya’ban, tahlil, dan lain sebagainya. Inilah yang membuat warga ketakutan untuk melanggar aturan.

Hukum adat untuk menjaga alam juga banyak diterapkan di banyak tempat di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menjaga kelestarian lingkungan/konservasi. Konservasi secara adat ini jauh lebih efektif dibandingkan hukum buatan pemerintah yang berujung pada pidana.

Menangkap ikan

Hukuman ada jauh lebih berat dibanding dengan pidana dari pemerintah. Hukum adat mengharuskan pelaku membayar denda secara materi, secara sosial akan dikucilkan atau dipergunjingkan, secara agama akan diperlakukan seperti orang yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa.

Inilah konservasi berbasis kearifan dan pengetahuan lokal. Ada saatnya hukum adat ini dikompromikan yakni saat Lubuk Larangan dibuka, maka warga bisa bebas mencari ikan dan menangkapnya. “Kapan itu?” tanya pak Teguh.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Gua Kedundung, Lorong Vertikal di Bukit Bulan

Dari Pemenang terus ke Jambi Singgah menginap do Pelawan Ada mas Dhanang dan mas Andi Ditemani oleh Pak Irawan Gegara pantun di atas membuat saya ...