Pancer door pagi itu.

Ngabekti Alam Bumi Pancer

Aksi perselancar menari di atas ombak Teluk Pacitan.

Pagi itu Marco, peselancar asal Maroko sudah menari-nari di atas gulungan ombal laut selatan. Sementara itu, peselancar cilik dari Pacitan menemani tamunya menuju ujung timur pantai Pancer sembara membawa papan selancarnya. Mereka berdua pagi ini akan menerobos dan menjinakan ombak di Teluk Pacitan. Suasana pagi dimana mentari masih hangatnya bersinar di Pancer Door-Pacitan.

Alarm dari ponsel mengagetkan yang masih terlelap pagi ini. Sesegara saya bangun, setelah itu mengenakan sepatu lari dan langsung menerobos hamparan cemara laut di Selatan Pacitan. Sebuah teluk melengkung mirip dengan ladam, pagi ini nampak memesona. Sesaat saya terkesima dengan hamparan pasir pantai yang pagi itu belum ada pengunjung.

Warga lokal sendang menjala ikan di Muara Sungai Grindulu.

Pesona Pancer Door

Pagi ini saya menelusuri pantai Pancer Door yang ada di pacitan. Saya berjalan dari Muara Sungai Grindulu. Saya tertarik dengan 2 warga lokal yang sedang mengadu peruntungan. Berkali-kali jala ditebarkan, hanya air yang tertangkap dan selepas itu terlepas saat jala dinaikan. Senyuman mereka tersungging manakala memerlihatkan ikan-ikan yang sedang bernasib sial pagi ini. “Lumayan buat lauk sarapan” katanya sembari terkekeh lalu berpamitan pulang, karena takut kesiangan.

Para peselancar sedang menuju ke laut.

Mentari baru saja beranjak dan sinarnya masih merah merona. Papan-papan selancar sudah ada dipinggang tuannya masing-masing dan siap untuk menembus ombak laut selatan. Pancer Door adalah salah satu titik berselancar di Selatan Jawa yang menjadi favorit para peselancar dunia. Bahkan even-even selancar kelas dunia juga pernah diadakan di tempat ini. Tidak salah jika tempat ini saat pagi banyak orang-orang asing yang hendak bermain-main dengan ombak.

Pagi pun berlalu seiring meningginya Sang Surya dengan sinarnya yang mulai memanas. Saya berteduh di bawah pohon ketapang yang cukup rimbun. Terdengar riuh anak-anak yang sedang memainkan kuas di atas kain berwarna putih. Mereka sedang melukis fauna-fauna laut sesuai dengan imajinasi yang ada di kepala mereka.

Anak-anak sedang melukis di atas tas kain.

Kegiatan ini adalah prakarsa dari komunitas Pelangi Samudra. Komunitas ini bergerak dalam aksi peduli lingkungan terutama dalam penyalah gunaan plastik. Anak-anak di Pancer Door diberikan tas dari kain yang dilukis yangn nantinya bisa digunakan sebagai pengganti kantong plastik. Tindakan ini setidaknya sudah bisa mengurangi penggunaan plastik, yang jika nanti tidak ditangani dengan benar akan berdampak buruk bnagi lingkungan.

Ngabekti Bumi Pancer

Baru saja usai melihat anak-anak memainkan kuasnya tetiba ada panggilan dari pengeras suara. “Para pengunjung pantai pancer dimohon untuk berkumpul di dekat tiang bendera. Sore ini kita akan mengadakan acara ngabekti bumi pancer. Kita akan berdoa bersama-sama untuk laut kita, pantai kita, dan keselamatan kita semua. Selesai berdoa kita akan melakukan aksi memunguti sampah yang berserakan di pantai“.

Para pengunjung Pancer Door berdoa bersama.

Berbondong-bondong pengunjung Pantai Pancer menuju titik kumpul yakni tiang bendera. Para peselancar asing yang kebetulan baru saja menyandarkan perahunya juga ikut-ikuta meskipun ada beberapa mereka yang nampak kebingungan. Beberapa dari panitia menjelaskan aksi, lalu nampaklah antusias mereka.

Usai memberi hormat kepada Sang Saka Merah Putih, lalu mereka sujud berdoa. Sejenak suasana pantai menjadi hening dan lantunan doa dipanjatkan. Begitu doa dinyatakan selesai, mereka bergerak ke segala penjuru untuk mencari benda yang bernama “sampah“. Mereka tak ragu mengambil berbagai jenis sampah yang berserakan di pantai Pancer Door.

Nelayan Pancer yang sepenuhnya tergantung pada laut.

Aksi kepedulian ini banyak melibatkan anak-anak yang tadi diajak melukis. Sejak dini anak-anak di sekitar pantai Pancer diberikan pendidikan lingkungan hidup. Mungkin suatu saat mereka adalah generasi yang akan mewarisi teluk Pacitan yang memesona ini. Dengan pembekalan sejak dini niscaya mereka akan lebih memahami dan bisa berbuat untuk lingkungan yang lebih baik.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berpeluh di Gua Rana Sepuluh

“Dulu gua-gua di sini jadi rebutan dan akhirnya di lelang untuk dipanen sarang waletnya. Tahun 84 saya harus rela kehilangan sodara saya yang terjatuh dan ...