Menyapa Curug Muara Jaya, Majalengka

Ari terjun Muara Jaya-Majalengka.

Sangat teringat pelajaran SD dulu tentang sumber daya alam. Indonesia terkenal sebagai penghasil batu bara, sedangkan Jepang dengan batu bara putih. Apa bedanya kedua batu bara tersebut, lama sekali saya memahami makna sebernarnya dan kiasan tersebut. KBBI menyebutkan, batu bara putih adalah sumber tenaga pembangkit tenaga listrik dari air terjun. Menjadi pertanyaan selanjutnya, Indonesia apa tidak ada batu bara putih? Mari ke lereng barat Gunung Ciremai, ada Muara Jaya yang dahulu menjadi salah satu batu bara putih.

Menuju Muara Jaya

Apuy, nama sebuah dusun di desa Arga Mukti, Kabupaten Majalengka memiliki potensi energi ramah lingkungan. Air terjuan Muara Jaya, demikian namanya. Air terjun setinggi 70-an meter ini berasal dari sungau Muara Jaya yang bermata air di lereng barat Gunung Ciremai. Air terjun ini memiliki 2 tingkat dengan aliran airnya yang deras. Di air terjun utama, hempasan airnya menjadi butiran-butiran kecil yang mirip kabut menjadi penanda betapa besar energi potensialnya.

Butiran-butiran air yang membahasi lensa.

Untuk menuju muara jaya, dapat ditempuh dari Majalengka menuju Kecamatan Maja sekitar 30 menit perjalanan. Dari Maja langsung menuju Argapura dan langsung bisa bertanya pada penduduk sekitar tentang obyek wisata air terjun Muara Jaya.

Pengelolaan obyek wisata ini dibawah dinas Pariwisata dan Masyarakat setempat dilibatkan. Akses menuju lokasi sudah dilengkapi dengan jalan permanen yang nyaman berikut dengan fasilitas-fasilitas pendukungnya. Infrastruktur pendukung di sana bisa dikatakan lengkap, bahkan aliran listrik juga sampai bawah untuk penerangan jalan.

Curug Muara Jaya

Curug Muara Jaya dengan debit air yang cukup besar dimanfaatkan sebagai kawasan wisata alam, tetapi di sisi lain dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk membangkitkan listrik. Pipa besi dan bendungan kecil dipasang untuk mengalirkan air yang kemudian dipakai untuk menggerakan generator. Namun, saat ini yang terlihat hanya seperti petilasan saja sebab hanya tinggal bekas bangunannya saja. Pak Emo selaku kepala dusun menjelaskan, jika tenaga listrik mikrohidro tersebut belum efisien karena tenaganya kurang besar.

Air terjun utama Muara Jaya.

Air terjun yang indah, konon katanya demikian, tetapi sudut pandang saya mengatakan air terjun penuh dengan sampah. Beberapa kemasan air mineral nampak terpung di tepian jeram, popok sekali pakai juga terselip di antara bebatuan, plastik nampak terdampar dibantaran sungai. Dari mana datangnya sampah, sebab dikatakan jika di atasnya sudah tidak ada desa lagi. Ada yang mengatakan, jika sampah tersebut dari pengunjung, tetapi saya menyangsikannya.

Pencemaran Sungai

Sungain adalah tempat sampah yang praktis, karena begitu dibuang langsung hilang ditelan aliran. Saya berjalan di penggiran desa tempat aliran Sungai Muara Jaya. Ada sebuah jalan dan jembatan serta tulisan dilarang membuang sampah. Di bawah jembatan nampak tumpukan sampah yang belum terbawa aliran sungai, dan yang pasti di bawah sana ada air terjun. Meskipun di atas air terjun tidak ada desa, tetapi ada jalan dan jembatan.

Sampah yang menuju Air Terjun Muara Jaya.

memang benar jika kita belum layak mendapat julukan batu bara putih. Batu bara putih kita masih ada noda-noda akibat ulah perilaku yang tidak ramah terhadap lingkungan. Tindakan yang tidak mencerminkan kelestarian. Sangat disayangkan air terjun indah ini penuh dengan sampah.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Grindulu yang Merindu

Warna airnya yang hijau tosca, alirannya tenang, dan tepian kanan kiri yang menghijau mengingatkan saya pada sungai Loboc di Bohol-Filipina. Berbeda dengan sungai Loboc yang ...