ladang pertanian,

Panorama Alam Terasering Panyaweuyan

Pemandangan gunung dari bukit Panyaweuyan

Indonesia konon mendapat julukan sebagai negara agraris, sewaktu saya duduk di bangku sekolah dasar 25 tahun yang lalu. Benar adanya karena memang pada waktu itu sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Saat ini apa yang menarik dari pertanian selain hasil panennya? Tidak banyak anak muda saat ini yang bercita-cita menjadi petani atau menggarap ladang, tetapi saat ini banyak yang tergila-gila memotret ladang pertanian. Sebuah anomali, tetapi demikian faktanya. Tidak percaya, mari berkunjung di Panyaweuyan – Majalengka, Jawa Barat.

Menuju Panyaweuyan

Pukul 19.00 wib kami sampai di Maja, sebuah kecamatan di Kabupaten Majalengka. Tujuan kami malam itu adalah mencari penginapan. Badan kami sudah terlalu lelah, karena seharian kami menapaki aspal dari Sisi selatan Jawa Barat. Alhasil kami tidak mendapatkan penginapan, dan salah seorang pemuda menyarakankan “sok atu manginap saja di rumah penduduk kalau tujuannya ke argapura, kalau tidak ada manginap saja di rumah pak kuwu“. Atas sarannya kami melanjutkan perjalanan darat menuju Argapura.

Rumah-rumah di Argamukti-Apuy.

Berjalan mengikuti panduan GPS membawa kami sampai disebuah dusun kecil setelah berkendara 30 menit. Lagi-lagi kami kembali disarankan untuk menuju dusun sebelah dan tertinggi, yang bernama Apuy. Mendengar nama Apuy saya teringat tahun 2004 saat pergantian tahun baru harus terseok-seok di Lereng Gunung Ciremay di pertigaan jalur Palutungan-Apuy.

Apuy menjadi salah satu pintu masuk pendakian menuju Puncak Ciremai-gunung tertinggi di Jawa Barat. Pukul 21.00 kami disampai juga di Apuy dan di datangi anak muda yang sedang beronda. Kami ditanya tujuan kami hendak kemana, dari mana, berapa orang, dan hendak apa. Kami pun dibawa ke rumah pak Kuwu atau kepala dusun. Dusun yang sudah sepi malam itu, kami buat sedikit gaduh dengan kedatangan 6 orang asing.

Rumah pak Kuwu yang sudah gelap tetiba lampunya menyala setelah pagar di pukul-pukul dengan kayu. “Mari-mari masuk…” kata pak Kuwu dan saya masuk duluan diikuti teman-teman. Saya menjelaskan maksud kedatangan kami, dan intinya kami hendak mencari penginapan malam ini dan jika tidak ada penginapan mohon ijin kami mendirikan tenda di lapangan balai desa. Pak Kuwu geleng-geleng “aduuuh… sudah.. sudah manginap di rumah saya saja, ada 3 kamar buat mas.. mas.. semua, satu kamar di lantai atas, dan 2 kamar di lantai bawah“.Kami saling memandang dan serempak mengangguk.

Bukit Panyaweuyan

Pagi hari, pak Kuwu sudah memanaskan pikap-nya. Arloji saya menunjuk pukul 05.00 wib. Suhu udara masih di angka 19C. “Mari-mari berangkat, katanya mau foto matahari terbit di Panyaweuyan, ini sudah disipakan bekal sarapan oleh istri saya“. Kembali kami salin memandang dan serempak mengangguk.

Pemandangan dari Bukit Panyaweuyan

Bukit Panyaweuyan adalah salah satu bukit dari banyak bukit di lereng barat Gunung Ciremai. Bukit-bukit di sini sebagian besar dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Bukit yang sangat subur, karena dekat dengan gunung berapi, air yang melimpah, dan suhu udara yang dingin. Pagi itu pak Emo Prasiyta selalku kepada dusun Argamukti secara khusus tidak berkantor karena mengantar kami untuk meneroka wilayahnya. Dengan seragam PNS-nya dia mengendarai pikap-nya menuju bukti yang dimaksud.

Pikap sayur pun berhenti di tepi jalan persis di bawah bukit. Pak Emo langsung mangajak kami “ayo mumpung masih pagi, belum banyak warga yang ke kebun“. Suhu udara yang menyentuh 15C dan tiupan angin yang kencang di elevasi 1.941 m dpl membuat kami harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk sampai di puncak bukit Panyaweuyan. Benar saja, di puncak bukit ini saya bisa memandang 360 derahat kesemua penjuru mata angin melihat bukit-bukit yang digores menjadi teras siring dengan dominasi warna hijau.

Menuruni lereng-lereng bukit.

Potensi Wisata Majalengka

Bukit Panyaweuyan dikenal sebagai bukit Argopura, karena terletak di Kecamatan argapura. Oleh pemerintah Desa, bukit-bukit disini disulap menjadi obyek wisata dengan penambahan fasilitas berupa jalan dan tempat parkir yang memadai. Bagi pecinta fotografi lansekap di sinilah salah satu toko serba ada, dan tinggal memilih hendak membeli apa dan gratis.

99% penduduk di Argapura adalah bertani, khususnya di Argamukti. “dari 300KK, hanya 5 yang menjadi pegawai, termasuk saya” kata pak Emo. Dia menuturkan, sebelum menjadi perangkat desa adalah petani yang cukup sukses karena bisa menggarap 7 ladang, tetapi saat terpilih menjadi kepala dusun dia hanya sanggup menggarap 2 ladang. Dari penghasilan, jelas lebih besar dari bertani dibanding menjadi kepala dusun, tetapi karena sudah menjadi tugas dan tanggung jawab maka harus dikerjakan. Sejak itulah dia menukarkan salah satu mobil pikapnya dengan jenis sedan untuk berangkat kerja ke kantor yang berjarak tak lebih dari 100 m dari garasi rumahnya.

ladang pertanian,

Matahari sudah terbih di balik punggung Ciremai saat arloji menunjuk pukul 07.30. Saya entah berapa kali berganti lensa, dari lensa super lebar hingga tele 400 mm. Sepertinya tempat ini tidak ada habis-habisnya untuk dipotret. Bagi yang hendak belajar fotografi, ditempat ini bisa menjadi ajang gladian. Hendak bermain komposisi, cukup melihat pola-pola ladang yang ada dan jika jeli akan menjadi suatu komposisi yang menarik. Bagi yang suka dengan human interest, aktifitas petani di ladang adalah subyek yang bisa dipotret. Bagi yang suka makro, ratusan serangga banyak yang hinggap di ladang tinggal adu cepat dengan petani yang siaga dengan semprotan pestisidanya.

Desa Wisata

Berjarak sekitar 40 km dari Pusat Kota Majalengka dengan waktu tempuh 60 menit menjadikan Panyaweuyan sebagai salah satu obyeki wisata alam yang menarik. Tidak banyak di Indonesia yang bisa memberikan suguhan alam seperti di Panyaweuyan. Wisata di sini sama sekali tidak dipungut biaya. Kedatangan turis bisa memberikan masukan yang berarti bagi Desa dalam menggerakan perekonomiannya. Dengan kita membeli di warung-warung desa, membawa oleh-oleh berupa sayuran segar yang langsung dibeli di petani, menginap di rumah-rumah penduduk yang disewakan secara tidak langsung sudah berkontribusi pada masyarakat setempat.

Makan malam bersama keluarga pak Kuwu.

Potensi alam ini sudah di sadari pak Emo, sehingga tidak salah dia membuat rumah 2 lantai dengan 5 kamar. Dalam sela-selap perjalana dia meminta masukan bagaimana mengelola wisata desa. “Turis tidak butuh tempat mewah, yang penting bersih dan nyaman. Mereka akan sangat senang dengan apa yang asli di desa, baik makanan, minuman dan apapun. Tidak perlu menyajikan apa yang di kota untuk di desa, cukup berikan inilah desa kami. Turis yang sudah terbiasa klayapan, akan sangat mudah menyesuaikan diri dan tahu diri, percayalah pak“. Kami saling memandang dan mengangguk.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Ciheras, Membangun Negeri dari Tepi

18 jam perjalanan, melewati 10 kabupaten, 5 kali berhenti di tambal ban, dan setelah menjelajah 2 provinsi, sampai juga kami di Ciheras. Sebuah tempat tertepi ...