Petunjuk pernyakit cacingf hati di Lore Lindu,

Zoonisis di Sekitar Kita

 

Siklus hidup cacing parasit pada ikan (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2292572/figure/f2/?report=objectonly)

Jumat sore ponsel saya berdering menandakan ada pesan masuk dari seorang teman yang meneliti tengtang penyakit tropis. Pesan yang sangat singkat “mas bisa nitip sampel virus di kulkas lab”. Bisa dibayangkan, ada sebongkah bom waktu yang daya ledaknya tidak terasa namum mematikan jika salah memerlakukan. Paranoid sekali saya sore itu. Kembali pesan masuk “tenang mas, cuma RNA-nya saja, aman kok”. Kisah yang mengawali saya dengan ketakutan masyarakat saat ini dengan zoonosis.

Zoonisis

Zoonosis adalah penyakit yang proses penularannya dari hewa ke manusia. Saat ini yang sedang marak adalah adanya cacing parasit Anisakis sp pada ikan kaleng. Mengapa begitu heboh? Karena keberadaan cacing tersebut sangat janggal untuk sebuah produk yang diklaim higienis dan siap makan oleh konsumen. Terlebih lagi hasil temuannya adalah cacing yang sudah mendapat stigma masyarakat sebagai hewan yang menjijikan, jorok, biang penyakit dan lain sebagainya. Pada faktanya ada mereka yang sedang terkapar karena tipes juga mengonsumsi pil cacing. Atau di daerah lombok ada bau nyale yang rame-rame menangkap cacing palolo untuk dikonsumsi.

Cacing palolo dalam bau nyale di NTB.

Kontaminasi hewan-hewan dalam produk makanan memang semestinya tidak ada dalam sebuab produk. Namun dalam beberapa analisis para ahli, memang tidak ada masalah karena produk tesebut sudah melewati proses produksi yang ketat. Bahkan ada yang mengatakan, bagaimana jika kita secara tidak sengaja mengonsumsi Anisakis sp tersebut. Ada 2 jawabab, yang pertama anda akan alergi, yang kedua anda tidak bermasalah “anggap saja tambahan protein”. Permasalahan selanjutnya tidak hanya di masalah kesehatan semata, tetapi masalah estetika.

Estetika akan berdampak pada faktor psikis seseorang yang nantinya berujung pada selera makan/appetite. Bayangkan saja, sesaat anda sedang menikmati nasi goreng atau soto tetiba ada lalat yang ikut terolah, apa yang anda rasakan? Sudah barang tentu komplain dan hilang nafsu makan. Begitu juga dengan adanya Anisakis sp saat ada menikmati ikan kaleng.

Berbeda dengan orang yang cuek seperti saya. Sedang menikmati lalapan petai mentah tetiba baru separo menggigit ada potongan tubuh ulat yang sebagian sudah tertelan “anggap saja tambahan gizi”. Namun tidak semua orang demikian, karena semua orang memiliki sudat pandangnya masing-masing. Saat ini mengonsumsi ikan kaleng atau tidak itu sebuah pilihan. Isu dan fakta sudah berkembang di masyarakat, dan masyarakatlah yang memainkan pasar saat ini. Urusan pusing tujuh keliling sekarang ditangan produsen dan distributor.

Ancaman Zoonosis

Daripada membincangkan cacing Anisakis sp, mungkin kita wajib sadar potensi-potensi zoonosi lain yang ada di sekitar kita yang jauh lebih berbahaya dampaknya. Leptospirosis, Hepatitis E, Brucellosis, Tuberculosis, Penyakit Cat-Scratches, Taeniasis/ Cysticercosis, Antraks, Rabies, Toxoplasmosis, Demam berdarah, Cikungunya, Malaria dan masih banyak lagi adalah potensi zoonosis yang harus diwaspadai.

Petunjuk pernyakit cacingf hati di Lore Lindu,

Tidak semua zoonosis kita mengkambing hitamkan binatang sebagai vektor atau pembawa penyakitnya. Diskusi saya dengan teman yang menitipkan virusnya, mengatakan jika manusia juga bisa menjadi vektor penyakit. Sederhana saja, jika seseorang disuatu tempat menderita penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit lain lalu berpergian ke keluar daerah, secara tidak langsung dia membantu menyebarkan penyakit.

Siklus hidup cacing hati.

Tetiba saya tercengang dan teringat saat penelitian di Lembah Napu, Taman Nasional Lore Lindu-Sulawesi Tengah. Ditempat tersebut terkenal dengan ancaman penyakit cacing Schistosoma haematobium (Schistosomiasis) yang disebarkan melalui keong. Bisa dibayangkan jika tetiba salah satu penderita keluar dari lembah napu dan menyebarkan panyakit itu, padajal schistosomiasis adalah penyakit endemik. Diakhir pembicaraan, kita sebenarnya sedang dikepung oleh banyak sekali sumber penyakit, kata dia “waspadalah waspadalah”.

 

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Menyapa Curug Muara Jaya, Majalengka

Sangat teringat pelajaran SD dulu tentang sumber daya alam. Indonesia terkenal sebagai penghasil batu bara, sedangkan Jepang dengan batu bara putih. Apa bedanya kedua batu ...