Padi yang masih menjadi primadona bahan pangan,

Jewawut Pakang Burung yang Naik Daun

Biji jewawut (http://www.discoverlife.org/mp/20p?see=I_USID793&res=640&flags=glean:)

Dalam buku The History of Java di sampul belakangnya tertulis “ Saya yakin tidak ada orang yang memiliki informasi mengenai Jawa sebanyak yang saya miliki”. Demikian kata Thomas Stanford Raffles. Seorang tokoh yang tidak asing di Indonesia dalam bidang botani, sehingga namanya disematkan menjadi nama bunga bangkai. Namun, yang membuat saya tertarik adalah halaman pertama dia dalam bukunya tentang sejarah Jawa. Sepintas nama jawa berasala dari kata jewawut,karena banyak tumbuhan ini pada saat orang India menginjakan pulau ini. Mungkin benar, bisa saja tidak, tetapi yang pasti siapakah jewawut itu ?

Sejarah Jewawut

Sejarah mencatat, jika jewawut berasal dari Tionghkok dan sudah dibudidayakan sejak 5.000 tahun sebelum masehi. Tanaman ini kemudian menyebar ke Eropa dan Asia, dan tercatat 3.000 tahun silam sudah sampai Eropa dan Nusantara. Tanaman ini jauh lebih tua dari Padi yang saat ini menjadi makanan pokok. Jewawut sudah lebih dahulu menjadi pengisi perut masyarakat Nusantara jauh sebelum padi.

Nama resmi jewawut adalah jawawut, dan memiliki nama ilmiah Setaria italica. Di berbagai daerah di Indonesia, jewawut memiliki nama lokal seperti; jawa (Sumatera Selatan); jaba ikur (Batak); jaba uré (Toba); jelui (Riau); sekui (Melayu); sekuai, sakui, sakuih (Minangkabau); randau (Lampung); dan jawae (Dayak). Mungkin benar juga nama jawa berasal dari tumbuhan ini, karena di Jawa juga banyak ditemukan.

Nilai Gizi Jewawut

Jewawut adalah tumbuhan semusim seperti halnya padi atau jagung, Periode hidupnya 3 – 4 bulan. Mampu hidup dilahan kering atau kurang air, dari dataran rendah hingg dataran tinggi lebih dari 2.000 meter dari permukaan laut. Kandungan nutrisi jewawut terdiri dari; karbohidrat 84,2%, protein 10,7%, lemak 3,3%, serat 1,4%, yang tidak kalah dengan nutrisi padi atau jagung. Menjadi pertanyaan, mengapa jewawut kalah pamor dengan padi?.

Jewawut dahulu adalah makanan utama disaat padi itu belum familiar, tetapi saat ini sudah tergeser. Di beberapa tempat seperti di Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, jewawut masih dijadikan makanan utama. Namun, kini jewawut sudah tergeser oleh beras yang jauh lebih berkelas dalam status sosial dan keberadaanya yang selalu tersedia.

Pemanfaatan Jewawut

Suatu saat saya berkunjung di sebuah industri roti di Semarang. Pemilik pabrik merasaka kebingungan saat dia hendak mencari jewawut sebagai bahan pembuat rotinya. Dia mencari di berbagai toko perlengkapan kue, namun tetap nihil. Iseng-iseng dia mencari di pasar burung dan didapatilah biji jewawut. Satu kilo gram dihargai Rp 35.000,00. Tidak disangka, bebijian yang kalah oleh beras ini harganya melebihi beras kualitas super sekalipun. Sepertinya hukum permintaan dan penawaran berlaku di sini.

Sorghum yang banyak dikembangkan di Sulawesi Tengah.

Di waktu yang berbeda yang bertemu dengan seorang pengusaha minuman serbuk yang hendak memerlebar saya usahanya. Dia ingin membuat makanan kongbap. Kongbap adalah masakan khas korea berupa beras yang dicampur aneka macam kacang-kacangan dan bebijian. Sejarahnya, makanan ini adalah oplosan dari segala jenis bahan apa yang bisa dimakan lalu dimasak bersamaan dan hasilnya enak. Kini kongbap menjadi salah satu makanan sehat karena komposisi di dalamnya. Salah satu komposisinya adalah biji jewawut, dan maslahnya sama-sangat susah mendapatknya.

Jewawut Pangan Kesehatan

Ancaman penyakit kardiometabolik, salah satunya adalah diabetes gegara konsumsi gula berlebih maka banyak yang melakukan diet keto. Diet ini adalah menjaga asupan karbohidrat dan salah satunya beras. Alternatif dari beras, banyak yang berpindah pada karbohidrat dengan indek glikemik yang rendah. Tujuan dipilihnya jenis makanan ini adalah adalah pelepasan gula yang pelan, sehingga gula darah terkontrol.

Dalam buku History of Jawa, dituliskan beragamm jenis penyakit di Jawa namun sepertinya tidak ada diabetes melitus pada jaman itu, ini karangan saya saja. Ataukaugh jaman dahulu makanan masih benar-benar terjaga dan aktivitas fisik berjalan, sehingga penyakit kardiometabolik itu pun jarang, mungkin saja. Namun, pikiran saya, bisakah jewawut itu kembali tampil saat keberadaanya banyak dicari dan dirindukan banyak orang.

Padi yang masih menjadi primadona bahan pangan,

Selain jewawut ada juga bebijian yang kini mulau naik dau yakni sorgum atau dalam bahasa Jawanya cantel dan bahasa ilmiahnya Sorghum bicolor. NIlai sorgum di pasaran juga fantastis, bisa lebih mahal dari beras dan gandum dan mencarinya sangat susat. Pangan-pangan lokal yang sudah banyak dilupakan orang manakala banyak yang terlena dengan makanan populer saat ini.

Orang-orang tua saat ini pengen bernostalgia menikmati makanan yang saat ini dimakan oleh burung, setidaknya mereka ingin kembali sehat seperti orang-orang jaman dahulu. Jewawut nostalgia masa lalu yang banyak dirindu.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

2 comments

  1. aku beberapa kali menggunakan tepung sorghum untuk eksperimen bikin kue, Mas. Rupanya sekarang, tepung ini sedang digandrungi pelaku clean eating yang menghindari tepung-tepungan berkadar gluten tinggi. Menarik bisa mengetahui sejarah di baliknya dari tulisanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Menyapa Curug Muara Jaya, Majalengka

Sangat teringat pelajaran SD dulu tentang sumber daya alam. Indonesia terkenal sebagai penghasil batu bara, sedangkan Jepang dengan batu bara putih. Apa bedanya kedua batu ...