Sang Surya yang beranjak mewarnai dunia.

Jeep Tour de Telomoyo dan Breakfast ala Chef D’Emmerick Hotel

Menikmati Sunrise di puncak Gunung Telomoyo.

Beratapkan tenda dan berselimutkan hawa malam yang menusuk tulang, mata ini belum juga mau terpejam. Di tenda sebelam, riuh bunyi dengkuran menandakan sang empunya tidur dengan lelap dan nyenyak. Mereka sedang bermimpi indah bertemu dengan noni-noni belanda, sedangkan saya masih mimpi buruk bersama para ekstrimis-ekstrimis. Malam yang panjang saat mencoba berkemah di halaman rumah Tuan Emmerick.

Baru saja mata ini terpejam, sontak terbangun karena suara gaduh diluar sana. Tetiba sorot lampu dari seorang Satpam masuk di celah-celah tenda sambil mengatakan “mas cepat, kita segera berangkat”. Segera tas ransel berisi kamera ini memeluk punggung untuk ikut tuannya melangkah pergi.

Jeep de Telomoyo

Pagi buta ini kami akan mendaki gunung Telomoyo (1885 m dpl). Rekan-rekan pendaki gunung menyebutnya dengan summit attact, atau pendakian menuju puncak. Kali ini saya mendapat fasilitas yang istimewa untuk summit attact. D’emmerick menyedian Jeep dengan percepatan 4×4 untuk menuju Puncak Telomoyo.

Iring-iringan Jeep menuju Puncak Telomoyo.

Jarang sebuah hotel yang memiliki layanan tambahan bagi para tetamu yang ingin menikmati atraksi alam yang ada disekitar hotel. Hotel yang terletak di pinggir Kota Salatiga memiliki paket tour de telomoyo dengan jeep. Kendaraan yang biasa digunakan untuk melibas jalanan off road ini lengkap dengan sopir yang berpengalaman. Bagaimana tidak, hotel ini bekerja sama dengan komunitas Jeep Salatiga sebagai sebuah hubungan mutualisme.

Pukul 03.30 pak Doni, segera menghidupkan jeep buatan tahun 70-an. Lampu LED berwarna hijau dinyalakan, lalu kopling diinjak dan masuk gigi 1 dan gas dipacu. Saatnya summit attack dengan kendaraan double gardan. Kami berjalan beriringan dengan beberapa kendaraan yang suka berjalan di lumpur ini. Setiap kendaraan diisi 3 orang penumpang dengan seorang supir.

Peta menuju Telomoyo.

GPS saya nyalakan untuk merekam setiap jejak roda yang sedang melibas aspal pagi itu. Dengan kecepatan rerata 40 km per jam kami melibas udara pagi. Sungguh perjalana yang menyiksa, saat udara sedang dingin-dinginnya naik kendaraan yang tiada pintu dan kaca depan. Dusta mana yang kau nikmati.

Tiba kami di gerbang Telomoyo, tepatnya di ketinggian 1.200 m dpl dan udara semakin menusuk tulang. Sembari menunggu kendaraan lain yang tercecer di jalanan kami merapatkan kendaraan satu dengan yang lainnya. Sesaat kemudian, kembali gas dipacu untuk mendaki dan kali ini semua gardan difungsikan.

Menuju Puncak Telomoyo

Jalan berliku meliuk-liuk sejauh 7 km untuk menuju puncak kami lalui. Melewati sisi kiri gunung, sudah tersedia jalanan yang sudah di aspal untuk menuju puncak. Jalan ini sengaja dibangun sebagai akses menuju puncak gunung, karena untuk trasnportasi pegawai yang bertugas menjaga menara-menara telekomunikasi.

Sejenak menjalankan ibadah.

30 menit kendaraan meraung-raung dan akhirnya sampai juga di titik terakhir perjalanan. DI ufuk timur sudah semburat berwarna ungu menandakan sang surya sebentar menggeliat untuk barngkit mewarnai dunia. Dengan berbalut halimun tipis, rekan-rekan menunaikan ibadah pagi sebagai kewajiban imannya.

Sang Surya yang beranjak mewarnai dunia.

Kamera mungil segera saya seting 10 detik untuk memotret secara berulang. Akhirnya doi ufuk timur mentari mungil menampakkan diri dengan semburat rona merahnya tepat di utara Gunung Lawu. Merbabu yang gagah bersanding di sisi selatan dan Rawa Pening masih membisu kedinginan. Gunung Andong di belakang kami menanti mendapat pancaran sinar baru giliran Sumbin dan Sindoro.

CHEF GUNUNG

Emmerick memanjakan tetamunya dengan sarapan pagi dengan caranya yang unik. Chef yang semalam hendak tidur nyenyak dibuat gusar, sebab pagi ini harus memanjakan lambung tetamunya. Bakmi godog lengkap dengan daging dan sayuran menjadi sarapan di atas ketinggian 1.800 m dpl sembari ditemani segelas teh panas.

Chef gunung ala Emmerick.

Ingin menikmati matahari terbit di puncak gunung sambil sarapan di atas hamparan awan ? Munkin anda bisa mendapatkannya di Emmerick Hotel Salatiga. Bagi saya ini adalah salah satu jalan pintas menikmati keindahan dengan cara yang menyenangkan.

Tautan terkait

SEPEDAAN DI TELOMOYO

PENDAKIAN SISI TIMUR TELOMOYO

LARI-LARI DI GUNUNG TELOMOYO

Bersama di ketinggan 1.800 m dpl besama komunitas jeep Salatiga.

 

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

10 comments

  1. aku ketinggalan nang gunungpati….
    jadi pengen nang timur telomoyo

  2. semoga kapanan bisa ngetrip bareng lagi, hahahaha.

  3. HUUUFT kemarin udah sempet ke Telomoyo, tapi ga sampe puncak krn kesorean, pengen camp tapi masih musim hujan, bagus sunrise nya:””

    Nuhun follow back nya mas di http://www.onixoctarina.com/
    🙂

  4. Wah keliatan jalurnya, pantesan miring-miring di jeep. Trus.. fotonya apik-apik!

  5. Sayang sekali…cuma sesaat..
    Kurang lama adventurenya…
    But foto2nya sll keren…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Menyapa Curug Muara Jaya, Majalengka

Sangat teringat pelajaran SD dulu tentang sumber daya alam. Indonesia terkenal sebagai penghasil batu bara, sedangkan Jepang dengan batu bara putih. Apa bedanya kedua batu ...