Danau Habema Wamena

Danau Habema, Indahnya Papua Rasa Eropa

Danau Habema Wamena

Anak kau su gila kah… baru pertama ini sa lihat orang berengang di sini” Kata Radio, sebutan untuk kawan seperjalanan saya saat mengunjungi danau Habema di Pegunungan Tengah Papua.

Berenang di Danau Habema

Danau Habema

Ketinggian 3.200 meter dari permukaan air laut, jika itu di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat adalah ketinggian untuk puncak gunung. Tetapi di Pegunungan Tengah Papua, ketinggian tersebut adalah jalan tembus yang menghubungkan antar kabutpaten. Sebuh saja jalan yang menghubungkan Kabupaten Wamena dan Puncak Jaya atau Pegunungan Bintang.

Jalan membentang di atas ketinggian 3000 m dpl serasa jalan di awang-awang. Bagi yang tidak terbiasa dan memiliki kadar hemoglobin rendah, siap-siap saja mata berkunung-kunang dan nafas tersengal-sengal. Semakin tinggi suatu tempat, maka kadar oksigen semakin tipis dan tekanan udara semakin meningkat. Gejalan tersebut disebut dengan mountain sickness.

Puncak Trikora.

Kesempatan langka saat bisa berkunjung di pegunungan Tengah Papua. Beberapa waktu lalu sempat dihebohkan Presiden Joko Widodo mengendarai motor trail melintasi jalan trans wamena. 4 Tahun sebelumnya saya mencoba jalan tersebut saat dalam tahap pembangunan.

Jalan yang menembus Taman Nasional Lorenz benar-benar sangat memukai. Tahun 2000-an ada film nasional yang berjudul Denias, negeri atas awan karya sineas Ari Sihasale. Ditempat tersebut lah saya berkunjung.

Di tepi jalan besar terdapat sebuah danau yang indah. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan Habema. Danau di ketinggian 3200 m dpl ini mungkin satu-satunya danau tertinggi dan terluas. Permukaan danau yang tenang terpantul dengan indah puncak Gunung Trikora yang samar-samar tertutup salju abdi. Seperti di pegunungan Alpen saja.

Air Gletser

Rasa penasaran akan danau ini membawa kaki saya menuju tepian danau. Suhu yang dingin begitu terasa menusuk kulit. Tangan ini sudah keriput menahan hawa dingin, mulut ini sudah mengeluarkap asap uap air dan muka yang kisut. Benar-benar cuaca yang sangat dingin.

Danua Habema dari tepi jalan Trans Wamena.

 

Entah setan mana yang membujuk saya “menceburlah”. Benar saja, tanpa berpikir 2 kali, dan hanya mengenakan celana pendek saya melompat ke danua. Sensasinya melebihi ice bucket challange. Rasa dingin yang kuta langsung membekap dalam tubuh dan rasanya seperti ditusuk jutaan ujung jarum.

Sesaat tubuh masih gegar goncangan suhu, namun pelan-pelan saya mulai teradaptasi. Saya menikmati berenang di Habema sembari melihat permukaan airnya yang tenang dan memantulkan salju abadi. Saya baru menyadari, ini air danau juga merupakan lelehan dari es. Gletser yang tergenang.

Beberapa penduduk lokal yang sedari tadi masih saja terpaku melihat tingkah saya di dalam air. Mereka geleng-geleng kepala. Jangankan masuk dalam air, sepertinya mereka juga enggan menyentuh air walau dengan telunjuk jarinya. Iseng saya cipratkan air ke wajah Radio, alhasil sumpah serapah khas Papua keluar dari mulutnya sembari lari terbirit-birit.

Habema adalah niche yang manarik. Sebuah bentang lansekap montana yang penuh dengan tumbuhan berjarum dan edelweis. Langit yang cerah adalah sebuah keberuntungan saat saya mengunjungi tempat ini. Bersama fotografer asal Jepang, Fuji Ishiara dia nampak kagum juga kerena beru pertama kali melihat puncak bersalju setelah 21 kali ke sini. Mungkin saya pembawa  keberuntungan itu, senandika saya.

Yang menarik lagi di tempat ini adalah tumbuhan benalu yang di dalamnya dijadikan sarang semut. Konon tumbuhan ini banyak yang mencari sebagai obat. Sangat istimewa sekali tempat ini. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah persiapkan fisik yang baik dan hari yang baik dan berharap alam memberikan keberuntungan.

Fuji Ishiara yang memotret puncak Trikora.

Ini mungkin adalah salah satu wisata yang paling mahal yang saya kunjungi. Maraknya gaya hidup dengan travel, suatu saat tempat ini bukan lagi ekslusif untuk para pelancong untuk menikmati Papua rasa Eropa.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

2 comments

  1. ga boleh komen,,,

    gila kau super active bikin blog yaa
    keren euuy
    udah lama ga baca2 blog kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Madu Hutan Leuweung Sancang

8.000 – 10.000 tahun yang lalu nenek moyang kita sudah merampok cadangan makanan lebah. Lukisan dinding goa di Valensia-Spanyol menjadi bukti tindakan tidak berperilebahan tersebut. ...