Mobil sedan kesayangan Affandi yang terletak di ujung dipamerkan dalam museumnya,

Rumah Daun Pisang Sang Maestro Affandi

Pohon randu alas yang tubuh tepay di depan Museum Affandi .

Tidak banyak tokoh di negeri ini yang tampil eksentrik, bahkan terkadang semaunya sendiri. Saya teringat sosok Bob Sadino dengan celana pendeknya, baik saat santai, berbisnis maupun bertemu dengan pejabat. Tidak berbeda jauh dengan sosok yang tak kalah nyentrik yang satu ini. Dengan mengenakan sarung dan sandal jepit dia bertemu dengan orang nomer satu di republik ini-Presiden Soeharto. Sosok Affandi Koesoema yang bergiri bak Salmalia malabarica yang tetap kokoh berdiri dengan jati dirinya meskipun musim mendera.

Siang itu, bunga randu alas (Salmalia malabarica)berguguran di trotoar jalan. Saya berjalan pelang melihat pohon yang nampak angker yang tepat berdiri depan galeri sang Maestro yang sampinga mengalir Sungai Gakah Wong. Agustus-September puncak musim panas telah menggunduli randu alas dengan menebarkan mahkota bunga yang berwarna merah hati. Beruntung sakali saya ini.

Museum Affandi, tidak banyak yang mengenal musium yang menyimpan karya lukisan empunya. Sebelum masuk ke dalam ruang pamer saya menyempatkan untuk melihat pekarangan yang nampak asri. Rasa penasaran akan arsitektur bangunan ini yang kebetulan digarap sendiri oleh Affandi membuat saya harus terbang ke angkasa melalui google earth. Citra dari angkasa menggambarkan museum ini berbentuk daun pisang.

Konon daun pisang ini adalah kisah duka Affandi dan kedua suadaranya saat menderita cacar. Mereka bertiga tidur beralas daun pisang agar tidak dihinggapi lalat, namun sayang kedua saudaranya wafat dan hanya Affandi yang selamat. Kini Affandi sudah tertidur selamannya diteras atap daun pisang ini.

Ruang galeri pertama Museum Affandi.

Perlahan kaki saya masuk ke galeri utama. Patung perunggu Affandi menyapa saya dengan diamnya, lalu pelan-pelan saya langsung menuju karya memiliki cerita paling kurang ajar yang berbanding dengan lukisannya yang menggambarkan semangat juang. “Boeng Ajo Boeng” demikian judul dari lukisan tersebut. Kisah di baliknya adalah manakala Affandi dan Pemuja Kata Chairil Anwar sama-sama mendatangi sebuah rumah di Tanah Abang.

Lukisan Boeng Ayo Boeng.

Affandi membayar seorang wanita penghibur untuk dijadikan model lukisannya. Disisi lain, Chairil Anwar menahan hasrat sembari merangkai kata untuk puisinya. Ternyata melukis lebih cepat dari membuat puisi, sebab Affandi begitu selesai langusng pulang sedangkan kawannya terus melanjutkan karyanya sampai pagi. Keesokan harinya, model itu pun mendatangi Affandi dan memberikan tagihan karena tuan muda mengajaknya tidur semalam. Mungkin malam itu diang menggoda Chairil Anwar “bung ayooo bung…” sembali mendesah.

Mobil sedan kesayangan Affandi yang terletak di ujung dipamerkan dalam museumnya,

Galeri Affandi yang disulap menjadi Museim bahkan rumah terakhirnya menyimpan memorabilia sang legenda. Mobil sedan GTO adalah mobil kesayanganya, begitu juga dengan sepeda, yang pasti adalah koleksi lukisannya. Sang seniman begitu menghargai setiap pernik kekayaannya, yang mungkin bagi kita itu tidak berharga selayaknya sandal jepit kusam.

Geleri kedua museum Affandi.

Banyak penghargaan diterimanya dari berbagai perguruan tinggi ternama di dunia, meskipun tidak menempuh pendidikan tinggi. Dia adalah pelancong sejati dengan membawa kamera berupa kanvas dan cat warna-warni serta kuasnya. Belahan dan penjuru dunia dia datangi untuk menggelar lukisannya, yang pasti semakin banyak pecinta dan pengagumnya.

Makam Affandi dan istri di teras museum.

Sebuah sudut rumah menjadi rumah terakhir sang Maestro yang wafat pada Mei 1990, setahun kemudian disusul oleh istrinya. Sosok pelukis beraliran realis yang mungkin bergradasi ekspresionis. Saya yang buta terhadap lukisan, bisa menikamati setiap goresan emosinya, meskipun gambarnya tidak terbaca dalam imajinasi saya.

Galeri museum Affandi yang menampilkan karya keluarganya,

Museumnya tak hanya menampung karya warisannya, tetapi anak dan cucunya juga ikut mengisi di galeri-galerinya. meskipun sang Maestro telah tutup usia, tetapi warna-warni lukisannya tak pernah pudar. Jiwanya bersemayam dalam tiap goresan, karyanya berdiri kokoh bak Salmalia malabarica yang selalu disegarkan oleh aliran Gajah Wong. Sarung dan sandal jepitmu sudah masuk istana, tetapi karyamu sudah mendunia.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sangiran, Warisan Nenek Moyang yang Diakui UNESCO

Ada sebuh cerita, dulu ditempat ini banyak sekali raksasa. Kehadiran raksasa ditunjukan dengan adanya tulang-tulang berukuran besar. Meskipun tulang-tulang tersebut tidak utuh, tetapi bisa membuktikan, ...