Mungkin saya peserta terakhir yang sampai di KM 18 (dok.pri).

Festival Jalan Tol Salatiga

Ruas tol yang digunakan untuk jalan santai, lari, dan bersepeda (dok.pri).

Beberapa kali saya berselancar di situs berbagi video-Youtube untuk melihat tingkah polah orang yang nyasar masuk dalam jalan bebas hambatan. Dalam tayangan tersebuta ada ibu-ibu masuk jalur tol mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Entah apa yang terjadi selanjutnya yang pasti saya pernah kena damprat ibu-ibu yang naik sepeda di jalan tol. Pagi itu, saya mencoba memberikan tanda bel, bukannya minggir atau memberi jalan malah berhenti dan alhasil saya yang mencoba menghindari tabrakan harus tersungkur. Seperti sudah kita kethaui, saua lalu kena semprot habis-habisan. Pengelaman seumur hidup bersepeda di jalan tol dalam festival tol 2017.

Baru saja melihat laman jasa marga yang memberikan pengumuman tentang adanya festival jalan tol ruas Salatiga-Bawen, rasa kecewa harus ditelan. Kolom pendaftaran secara daring sudah ditutup karena sudah memenuhi kuota. Sebanyak 4.500 pendaftar, baik yang mengikuti jalan santai, lari 22,7 km, sepeda jarak 22,7 km, dan sepeda jarak jauh 35 km.

Minggu 13 Agustus 2017  pukul 05.00 saya mencoba mengayuh sepeda menuju gerbang tol Salatiga yang terletak di Tingkir. Konon gerbang tol ini adalah yang terindah, karena berlatar gunung Merbabu. Bagi saya yang tinggal di Salatiga dan saban hari melihat gunung Merbabu seolah tidak ada yang istimewa, tetapi bersepeda di jalan tol adalah momen istimewanya.

Peserta jalan santai yang berlari (dok.pri).

Sebagai peserta gelap saya mencoba menyelinap dari bahu tol untuk masuk di jalan tol. Tanpa baju peserta dan nomer regristrasi, ternyata diperbolehkan panitia, karena acara memang untuk umum. Festival jalan tol diawali dengan lomba lari sejauh 22,7 km. Peserta akan menenpuh jarak 11 km, lalu kembali ke titik awal perlombaan. tercatat ada 80 peserta lomba lari ini. Sengaja dilakukan pagi-pagi buta agar tidak terpapar panas.

Jalan santai pada sejauh 5 km kemudian menyusul. Denhan mengambil lajur kiri dari arah salatiga, ribuan peserta berbaju kuning memenuhi jalan tol. Lautan warna kuning membuncah berjalan pelan menuju Km 2,5 ke arah Bawen. Semua umur tumpah ruah dalam lajur tol sisi kiri dan sepertinya mereka sangat menikmati momen-momen berharga seumur hidup.

Pesepeda memaki jalur sisi kanan untuk menuju gerbang tol Bawen (dok.pri).

Tetiba dari lajur kanan terlihat rombongan pesepeda mulai meluncur menuju arah bawen. Sebagai peserta penggembira saya menyaksikan dari tepi lajur sembari menangkap momen-momen yang menarik. Sekilas saya tidak percaya, helm sepeda dengan corak warna hijau terang adalah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pronowo. Dia ada dibarisan paling depan dengan cepat memacu road bike-nya. Saya yakin dia juga baru pertama bersepeda di jalan tol seperi ini.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (baju berlengan merah) yang ikut bersepeda (dok.pri)

Rombongan sepeda selanjutnya adalah mereka yang memakai sepeda MTB. Mereka adalah pesepeda santai yang ingin menikmati bersepeda di jalan tol yang bebas hambatan. Temanya fun bike, namun ada juga yang memacu sepedanya dengan kecepatan tinggi, sepertinya ingin menikmati sensasi ngebut di jalan tol.

Para pejuang juga ikut dalam festival jalan tol (dok.pri).

Yang menarik perhatian adalah rombongan bapak-bapak yang memakai seragam tentara perjuangan era kemerdekaan. Mereka mengendarai sepeda onthel klaksik lengkap dengan kostum dan pernak-pernik berbau kemerdekaan dan perjuangan. Raut wajah mereka seolah ingin mengejar pasukan penjajah di KM 18. Sepertinya mereka lupa umur, karena bigitu asyiknya menikmati jalan menurun menuju arah Jembatan Tuntang. Perjuangan mereka terhenti, mereka berbalik arah di Km 10, karena perjuangan sebenarnya adalah saat kembali ke gerbang tol tingkir dengan jalan menanjak.

Jalur tol yang naik turun dan sengatan matahari yang terik benar-benar menyiksa terlebih mengendarai sepeda MTB dengan ban lebar. Untung saja di beberapa titik ada water break yang menyediakan air mineral dan isotonik. Di KM 11 disediakan juga buah pisang untuk mengembalikan energi yang terkuras habis.

Mungkin saya peserta terakhir yang sampai di KM 18 (dok.pri).

Dengan badan yang sudah gemetar saya terus melanjutkan kayuhan hingga KM 18 di titik gerbang tol Bawen. Tidak banyak peserta yang sampai KM 18 atau ikut jarak terjauh 35 KM. Kapan lagi nyasar di jalan tol, terlebih dengan mengayuh sepeda. Dari gawai pengukur jarak, saya baru menyadari waktu tempuh hari ini 5,5 jam dengan jarak tempuh 55 KM. Bukan jarak yang membuat saya gemetar, tetapi dimarahi emak-emak di jalan tol itu jauh lebih menakutkan.

Foto lengkap ada di instagram @dhavers

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sangiran, Warisan Nenek Moyang yang Diakui UNESCO

Ada sebuh cerita, dulu ditempat ini banyak sekali raksasa. Kehadiran raksasa ditunjukan dengan adanya tulang-tulang berukuran besar. Meskipun tulang-tulang tersebut tidak utuh, tetapi bisa membuktikan, ...