Pagi di desa Sembalun di Lereng RInjani.

Ancala Rinjani untuk Asa Porter Medapat Rejeki

Luka, menjadi tanda beban berat yang dipikul para porter di Rinjani.

Dari sela buff dan kerah kausnya terlihat luka kulit mengelupas di pundak sisi kanannya. Luka yang menjadi tanda betapa kerasnya  perjalanan untuk mengubah nasib di lereng istanan dewi Anjani. Fendi, pemuda berusia 25 tahun, kesehariannya menjadi porter/pengangkut barang-barang pendaki yang membutuhkan jasanya. Dia bersama ayah dan pamannya menjadi andalan pendaki yang ingin menapaki puncak Rinjani. Kini sekitar 200 porter mengadu nasib di punggung Rinjani, tak sekedar membantu pendaki,  tetapi ada pundi-pundi rupiah yang menjadi rejeki.

Pagi ini, halimun masih menyelimuti Desa Sembalun di lereng tenggara Gunung Rinjani. Puncak Pegasingan nampak membentengi desa ini dengan punggungnya yang kokoh. Sebuah desa diatas ketinggian sekitar 1.200 m dpl terasa menusuk tulang pagi ini dengan hawa dinginnya. Sebuah desa yang mengingatkan pendakian dimana gunung ini masih sepi dan tidak seperti saat ini.

12 tahun menjadi porter diri sendiri.

Saya teringat 12 tahun yang lalu saat sendirian mendaki Rinjani via sembalun. Ransel berkapasitas 120 liter, 1 tas kecil melekat di pundak saya. Entah berapa berat beban yang saya pikul, yang pasti hampir 5 hari saya melangkah menapak menuju puncak rinjan. segara anak, dan turun kembali ke Senaru. 1 tahun yang lalu saya mencoba napak tilas perjalanan masa lalu, dan banyak yang berubah.

Ransel ukuran ukuran besar hanya ada dibeberapa pundak pendaki, sisanya banyak yang menempel di punggung penduduk lokal. Dahulu jarang sekali ada yang memakai jasa porter, bukannya tidak ada namun belum lazim. Bagi saya, selain tidak lazim juga belum mampu membayar untuk sekelas dompet mahasiswa.

Saat ini porter menjadi salah satu kunci keberhasilan pendaki, karena bisa mengurangi beban pendakian. Porter tak semata-mata menjadi pengangkut ransel dan perlenglapan pendakian, tetapi bisa menjadi penunjuk jalan, juru masak, mengambil air, bahkan memberi tawaran menginap di rumahnya.

Porter menjadi pekerjaan yang baru. Dahulu warga Sembalun menggantungkan hidupnya pada pertanian. Pernah mendapat cap sebagai penghasil bawang di NTB karena pertaniannya yang produktif. Saat ini pertanian tak semeriah dahulu, seban sudah bergeser ke bisnis pendakian.

Porter di gunung Rinjani.

Rinjani tidak pernah tutup, kecuali Gunung Baru jari erupsi, ada korban kecelakaan di gunung, atau cuaca buruk. Hari-hari biasa, Rinjani penuh dengan pendaki. Saat liburan tiba, Rinjani akan penuh sesak dengan pendaki. Saat saya mendaki 1 tahun yang lalu, di gunung tercatat ada sekitar 4.000 pendaki menurut data Taman Nasional Gunung Rinjani.

Mendaki gunung saat ini bukan lagi salah satu tujuan hidup, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Naik gunung menjadi trend baru anak muda, agar memiliki eksistensi dalam pergaulan. Semua bisa mendaki, tanpa perlu bersusah payah menggendong ransel yang berat. Cukup ikut paket pendakian, atau datang sendiri mencari porter untuk menemani mendaki.

Porter bak selebritis untuk saat ini, karena selalu ada saja yang mencari untuk membayar jasanya mendaki Rinjani. Porter bukan lagi orang asing, tetapi sudah menjadi bagian pendaki. Bahk

Anak-anak diikutkan menjadi porter meskipun bebanya tidak seberat orang tua mereka.

an ada juga pendaki yang menEyerahkan semua pendakiannya kepada porter, dari makan, tidur, jalan. Pendaki cukup bawa diri dan uang yang cukup.

 

Hari itu, saya terpaksa menginap semalaman di Sembalun Lawang sebelum esok pagi-pagi mendaki Rinjani. Semalam saya mencoba mengubungi beberapa petugas base camp untuk mencari 1 -2 orang porter untuk membawakan ransel-ransel kami. Jawaban yang kami terima, “maaf semua porter sudah naik semua, nanti kalau ada yang turun coba kami carikan” kata pak Matika.

Semalam saya hanya berangan-angan, bagaimana jika tidak mendapatkan porter. Pagi menyingsing dan saya mendapatkan kabar yang baik. Ada 1 orang porter yang baru saja turun gunung, tetapi belum yakin dia mau naik lagi atau tidak. Sekita harapan kami hampir pupus karena tidak kunjung ada jawaban.

Wajah kami berbinar manakala ada seorang pemuda berbadan tegap menghampiri kami. “Mas saya Fendi, yang jadi porter mas. Maaf cuma saya sendiri, sebab yang lain tidak adak. Saya lihat dulu barangnya seberapa ya?”. Sesaat dia mengukur ransel kami, sebab porter tidak mau membawa jika bebannya melebihi 25 kg. Dia mengagguk dan menyanggupi menemani kami mendaki. Saya juga ikut tersenyum, walau senyum kecut karena ransel yang berukuran sama harus saya gendong.

Pukul sembilan pagi itu kami mulai berjalan menyusuri jalan setapai menuju Plawangan sembalun. Langkih kecil kami yang tidak terbiasa dengan medan pegunung harus menyesuaikan dulu dengan narfas yang mulai ngos-ngosan. Fendi sudah tidak terlihat usai kami sampai di Pos 1. Dia mengatakan akan menunggu di Pos 3. Saya mencoba mengejar, namun langkah kaki saya masih kalah jauh dengan kekuatan kakinya. Selepas tengah hari barus saya sampai di Pos 3.

 

Belum sempat nafas ini reda menderu, dia kembali menngendong ransel untuk langsung menuju Plawangan Sembalun. Kesempatan saya untuk mencoba lutut ini masih mampu atau tidak. Dengan nafas tersengal-sengal mencoba mengekor putra rinjani ini walau harus tertatih-tatih. Pukul 16.30 akhirnya saya merebahkan diri di rumput di Plawangan Sembalun. Tidak terlihat dimana sosok yang nyaris tidak punya rasa lelah.

Dari kejauhan nampak dia menenteng 3 botol air mineral berukuran besar. Dia baru saja pulang dari mata air untuk mengambil air. Pelan-pelan saya mencoba membangun tenda, namun segera dicegah Fendi. “Mas ini tugas saya, mas istirahat saja”, katanya lantas saya menimpali “yang mendaki saya, dan ka

Pagi di desa Sembalun di Lereng RInjani.

mu membantu saya, nah sekarang kamu yang istirahat”. Malam ini, Fendi nampak gusar dan serba salah. Malam ini dia tidak mendapat peran. kami bertiga bergantian tugas; memaskan, membuat minum, membuah pop corn, bahkan menggoreng ikan. Fendi merasakan, dia merasa aneh sebab biasanya yang menakai jasa mereak tidak seperi ini. Malam larut dan udara semakin dingin. Saya memerhatikan kegundahan Fendi yang serba salah. Saya yakin dia kedinginan, tetapi sungkan. Alhasil pertahanan dan gengsi dia ambruk juga. Yawaran saya untuk tidur di tenda diterima, bahkan dia bilang “mas saya pinjamk kaos kaki, saya tidak tahan dinginnya”. Jangankan kaos kaki, sleeping bag juga kita kasih”.

Sembari merebahkan badan dia bercerita mengapa memilih menjadi porter. Tidak lain tidak bukan, dengan menjadi porter lebih mudah mendapatkan uang. Dalam satu hari, porter dihargai Rp 200.000,00 dan itu sudah bersih. Uang rokok, makan, dan ojek semua menjadi tanggungan pendaki. Mendaki Rinjani rerata 3 – 5 hari pendakian, sehingga akan mendapatkan Rp 600.000,00 – RP 1.000.000,00. Acapkali ada juga yang memberikan lebih. Dalam satu bulan biasanya jika ramai bisa mendaki 4 – 5 kali. Dengan penghasilan sebesar itu, mereka memilih porter daripada bertani.

Saat ini usianya sudah 25 tahun, memiliki anak laki-laki berusia 4 tahun. Luka-luka di pundaknya menjadi bukti bagaimana tanggung jawab kepada anak semata wayangnnya dan seorang istri. Beban 25 km selalu melekat di pundak, kakinya terus melangkah tanpa mengenal lelah adalah kesehariannya. Beberapa kesempatan dalam perjalanan dia minta diajari ngomong bahasa Inggris agar tidak kikuk saat ada tamu bule.

Porter bisa menjadi juru masak yang handal sekaligus penunjuk jalan.

Beberapa saya mendapat pesan singkat “mas jika ada yang mau naik rinjani dan butuh porter kasih nomer saya di 085338560561. Sekarang agak sepi tamu dan saya kembali ke ladang”. Sebuah kisah bagaimana warga sembalun memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan rejeki dari gunung Rinjani. Yang pasti mereka adalah pekerja keras, penentu keberhasilan pendakian, dan bisa dihandalkan dalam keadaan apapun. Yang paling saya suka adalah keramahan dan sopan-santun yang tetap dipegang untuk melayani tamunya.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...