Penari Dadas dari Dayak Ma'anyan, tarian untuk menyambut pengantin laki-laki.

Bagunung Perak, Pernikahan Sakral Dayak Ma’anyan

Penari Dadas dari Dayak Ma’anyan, tarian untuk menyambut pengantin laki-laki.

Heidi yang berusia 15 tahun, wajahnya nampak berseri-seri ketika hendak memasuki sebuah pintu berhiaskan janur kuning. Bagaimana tidak, sebentar lagi dia akan bertemu calon istrinya, Elsa yang 2 tahun lebih tua. Senyuman Heidi tak sendiri, tetapi diiringi gadis-gadis cantik yang menari bersama 2 pemuda yang nampah gagah dengan pakaian adatnya. Beruntung saya mendapat kesempatan menghadiri adat pernikahan suku Dayak Ma’anyan yang bernama Bagunung Perak.

Beberapa kali terdengar suara dari pembawa acara “mohon para tamu jangan menghalangi pandangan pak Bupati dan rombongannya”. Antusias para tamu begitu membuncah saat melihat prosesi perkawinan agung Bagunung Perak. Bagaimana tidak? prosesi pernikahan ini adalah adat para bangsawan yang sudah lama tidak dilakukan. Hanya kaum bangsawan  yang boleh melakukan prosesi pernikahan ini.

Di Desa Warugin, Kecamatan Tamta, Kabupaten Tabalong – Kalimantan Selatan saya menjadi bagian dari ribuan mata yang menyaksikan perkawinan agung ini. Menurut pak PatraMahu Wu’i selaku tua-tua adat menjelaskan jika prosesi kusus keturuna bangsawan atau orang yang memiliki kekayaan. Perkawinan ini adalah simbol dari status seseorang.

Kedua mempelai sedang dinikahkan oleh dewan adat.

Bagunung Perak tidak semua orang bisa melakukan adat ini. Untuk kaum perempuan, harus dari keturunan keluarga raja, bangsawan, atau status sosial yang tinggi. Untuk pihak laki-laki bisa dari bangsawan atau rakyat biasa. Pak Patra menjelaskan, semua lelaki boleh meminang putri bangsawan. Niat baik untuk menikahi harus diutarakan dengan pemberian sebagai simbol permintaan kepada orang tua gadis. Jika orang tua gadis setuju, pihak laki-laki harus membawa keluarga besarnya untuk meminang sambil menyerahkan seserahan. Untuk adat pernikahan, dewan adatlah yang akan menentukan.

Dewan adat adalah orang-orang yang terpilih untuk mengurusi masalah adat salah satunya adalah perkawinan. Status sosial dari pihak perempuan akan menjadi pertimbangan, kira-kira adat apa yang akan dipakai, sedangkan pihak lelaki harus menuruti. Salah satu adat perkawinan yang tertinggi derajatnya adalah bagunung perak.

Para penari di balik jendela.

Bagunung perak diadakan oleh pihak perempuan. Pada awalnya prosesi Bagunung perak akan di dahului prosesi oleh Balian. Balian adalah ahli spiritual yang akan membersihkan lokasi pernikahan dari gangguan roh-roh jahat yang akan mengganggu. Pembersihan oleh balian ini biasanya berlangsung selama 2 – 3 hari.

Mempelai laki-laki datang dan disambut dengan tarian.

Pada hari yang ditentukan pihak laki-laki akan datang bersama keluarganya mengantar pengantin laki-laki. Tari dadas akan menyambut mempelai lelaki tepat di pintu gerbang rumah mempelai perempuan. Tari dadas akan dibawakan oleh 6 gadis belia. Para gadis yang menari akan memakai beberapa gelang berukuran besar yang terbuat dari logam. Gelang ini akan mengeluarkan bunyi yang nyaring untuk mengimbangi suara musik dayak.

Tidak hanya tari Dadas, tetapi ada tarian lagi yang ditampilkam yakni tari Bawo. Tarian ini dibawakan oleh 2 pemuda yang memakai gelang. Tarian berikutnya adalah tarian giring-giring, tarian ini mendapat sentuhan moderninsasi yang dibawakan oleh para gadis. Untuk tarian atraksi ada yang namanya tarian balian gulat, yanki pertunjukan tarian oleh 2 pemuda yang berpakaian mirip balian.

Balian gulat, atraksi tarian dalam prosesi Bagunung Perak.

Ritual selanjutny adalah mempertemukan mempelai laki-laki dengan perempuan. Mempelai perempuan akan keluar dari rumah sambil diiringi dengan tarian, dan mempelai laki-laki sudah menunggu di pelaminan. Saat yang ditunggu pun tiba akhirnya Heidi bertemu dengan pujaan hatinya-Elsa. Mereka saling melempar senyum, sebelum dipersatukan dalam sebuah pelaminan.

Kedua mempelai dipertemukan diiringi dengan tarian.

Riuh pengunjung semakin memenuhi sekitaran pelaminan untuk menyaksikan prosesi agung ini dari dekat. Setelah sekian lama menunggu akhirnya saya bisa mendekati pengantin baru ini untuk bertanya-tanya. “saya sangat senang ditunjuk untuk ikut melestarikan budaya kami” kata Heidi. “Saya tidak malu dengan adat saya, walau diluar sana sudah memakai acara yang modern“. Di sela-selan saya berbincang dengan mereka, ada yang menyelatuk “Heidi, Elsa jangan lupa sekolah ya..?“. Benar saja Heidi masih kelas 3 SMP dan Elsa duduk di bangku 2 SMA. Beruntung sayang bisa berbicara dengan mereka yang mengaku bangga dengan budayanya, sayangnya ini hanya festival belaka.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

2 comments

  1. Suatu festival yang menarik ya walau dalam bentuk festival tapi di masyarakat lokal biasanya masih tetap terjaga ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...