Lahan gambut yang sudah direstorasi dengan tumbuhan lokal.

Sepucuk, Restorasi Lahan Gambut Yang Sudah Terdegradasi

Lahan gambut yang sudah direstorasi dengan tumbuhan lokal.

Tahun 2015 adalah salah satu bencana alam terbesar yang dikarenakan ulah manusia, yakni kebakaran hutan. Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura mengeluhkan dampak dari kebakaran hutan dengan menurunnya kualitas udara. Kalimantan dan Sumatra adalah 2 pulau besar yang berkontribusi besar dalam sumbangan asap kebakaran karena ulah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kini sisa-sisa kebakaran meninggalkan kisah pilu, salah satunya adalah lahan gambut.

Gambut adalah wilayah dengan tanah yang lunak dan basah yang ditumbuhi tanaman rendah hingga tinggkat tinggi dan biasanya ada di daerah rawa atau danau yang dangkal. Sisa-sisa tumbuhan yang telah mati lalu akan mengedap dan menciptakan air yang masam. Menjelang musim kemarau, akan mengering dan menjadi daratan. Mereka yang ingin memanfaatkan lahan gambut untuk pertanian akan membakarnya, karena itu cara paling murah dan praktis. Seresah dan kayu yang lapuk akan mudah sekali terbakar, padahal lapisannya ada yang berkisar 2 – 5 m. Akibatnya api akan masuk ke dalam  lapisan dan terus membakar ditandai dengan keluarnya asap. Inilah yang menyebabkan kebakaran lahan gambut susah dikendalikan dan dipadamkan.

Di Provinsi Sumatera Selatan yang dibelah oleh Sungai Musi memiliki daerah gambut yang luas dan salah satunya di Kabupaten Komering Ilir. Kebakaran lahan gambut hampir terjadi setiap tahun saat musim kemarau. Terjadinya kebakaran bisa saja dengan disengaja ataupun terkena imbas oleh permbukaan lahan lain dengan cara membakar. Lahan gambut di Komering Ilir yang rusak akibat kebakaran hebat pada tahun 2015 menjadi keprihatinan Balai Litbang LHK Palembang,

Sebuah kesempatan yang langka saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi lahan gambut yang kini sudah berubah wajah menjadi hutan yang sebelumnya ludes terbakar. Butuh waktu sekitar 4 jam perjalanan dari pusat kota Palembang menuju Kabupaten Komering Ilir. Sebenarnya waktu tempuh hanya 2 jam perjalanan, dikarnakan perbaikan jalan dan pembangunan jalan bebas hambatan lintas Sumatra sehingga harus buka tutup jalan.

Senja itu saya dan rombongan arkhirnya menurunkan kaki dari bus yang  hampir setengah hari kami tumpangi. Kami disambut Kepala KLH Sumatera Selatan, Thabrani. Dia langsung mengajak kami masuk ke area hutan gambut sembari berjalan di sebuah jembatan beton yang bagian bawahnya mengalir air berwarna mirip black tea.

Jalan menuju lokasi restorasi lahan gambut.

Kaki saya nampak ragu manakala menginjkan kaki di lahan gambut. Tanah yang saya inja amblas beberapa cm, lalu timbul lagi saat kaki di angkat. Saya teringat dengan film The Run Down dimana Beck dan Travis terjebak dalam lumpur hidup. Pikiran kotor saya sirna manakala pak Bustoni salah satu peneliti silvikultur LHK jalan dengan mantab dengan postur tubuh yang tanbun.

Di bawah pohon jelutung rawa (Dyera iowii) dia menjelaskan area konservasi ini. Pada tahun 1997 area yang kini seluas 20 hektar pernah terbakar hebat, kemudian terbakar kembali tahun 2006. Setelah 4 tahun pasca kebaran, suksesi atau tumbuhnya tumbuhan alami sangat minim, karena hanya tumbuhan tingkat rendah seperti paku dan lumut yang tumbuh. Tumbuhan tingkat tinggi sangat susah tumbuh, mungkin mustahil.

Pada tahun 2010 lewat kajian dan penelitian yang panjang akhirnya dimulailah drainase atau pengeringan lahan gambut. Tahun 2012 muka air sekitar 20 – 40 cm dan perlahan-lahan mulai mengering.  Dengan lahan yang mulai kering dimulailah menanam tumbuhan tingkat tinggi lokal setempat (indigeneous species).

Jelutung (Dyera iowii) dan ramin (Gonystylus bancanus) adalah spesies lokal lahan gambut rawa yang asali daerah setempat. 2 jenis tumbuhan tersebut selain memiliki nilai ekologis juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Jelutung bisa di sadap getahnya saat usia 6 – 7 tahun dengan diameter minimal 15 cm. Getah jelutung dimanfaatkan sebagai gum/bahan permen karet, isolator dan bahan-bahan kosmetik. Ramin dijadikan bahan furniture yang mahal karena pola dan tekstur kayunya yang menarik. Tahun 2016 sudah berhasil dikembangjan 25 jenis tumbuhan lokal dari target sebanyak 80.

Keberhasilan merestorasi lahan gambut ini menjadi salah satu upaya konservasi dan pemanfaatan lahan yang telah rusak. Selain mengembalikan tumbuhan lokal, juga bisa mebdatangan fauna-fauna yang dahulu bermigrasi akibat kerusakan lahan. Secara territorial juga akan terciptat mikroklimat yang ideal untuk sebuah ekosistem lahan gambut.  Selain itu menurut pak Thabrani, kawasan lahan gambut di Sepucuk di Ogan Komering Ilir ini bisa menjadi percontohan untuk  wlayah lain dalam upaya pengembalian fungsi lahan gambut yang sudah mengalami degradasi.

Lokasi yang akan menjadi lokasi kunjungan Bonn Challenge 2017.

Lahan gambut di Sepucuk ini nanti pada tanggal 9 – 10 Mei 2017 akan menjadi lokasi bagi 81 delegasi Bonn Challenge Asia Pasifik. Mereka akan datang di lokasi ini untuk melihat upaya dan keberhasilan penyelamatan lingkungan sekaligus akan melakukan penanaman pohon-pohon lokal. 30 negara akan hadir dalam KTT perubahan iklim ini. Indonesia menjadi tuan rumah dan Sumatera Selatan ditunjuk sebagai tempatnya. Sepucuk dipilih karena sudah membuktikan jika gambut yang sudah rusak parah bisa direstorasi menjadi lahan konservasi dan sekaligus produktif menghasilan sumber daya alam. Sang surya akhirnya tenggelam, dan kami meninggalkan hamparan jelutung dan ramin yang sudah rimbun.s

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sangiran, Warisan Nenek Moyang yang Diakui UNESCO

Ada sebuh cerita, dulu ditempat ini banyak sekali raksasa. Kehadiran raksasa ditunjukan dengan adanya tulang-tulang berukuran besar. Meskipun tulang-tulang tersebut tidak utuh, tetapi bisa membuktikan, ...