Anak-anak dan sepeda motor,

Nasibmu Nak di Atas 2 Roda

Anak-anak dan sepeda motor,

Sore itu saya masih bermain sepak bola dengan teman-teman satu kampung. Tiba-tiba, Herman teman saya yang saat itu masih kelas 2 SMP minta ijin pulang duluan hendak mengikuti ekskul pramuka di sekolahnya. Menjelang maghrib permainan usai, sesaat sebelum adzan dikumandang. Usai adzan tetiba kami yang masih dilapangan bola, terkejut mendengar beritu duka jika Herman teman kami telah meninggal dunia karena kecelakaan sepeda motor.

Rasa duka yang dalam saya alami bersama teman-teman. Dia yang cerdas, mahir bermain bola, teman yang dekat tetiba harus meregang nyawa di aspal. Bisa saja dia pergi ke sekolah naik angkutan umum. Malang sore itu, dia pergi naik sepeda motor di antar pamannya dan dia yang meminta untuk mengendarai. Potret kecil dari kondisi masyarakat kita berkaitan dengan angka kecelakaan anak-anak di jalan raya.

Anak-anak dengan motor cc besar.

Menurut data WHO tahun 2011, sebanyak 67% korban kecelakaan lalu lintas berada pada usia produktif, yakni 22-50 tahun. Sekitar 400.000 korban di bawah usia 25 tahun yang meninggal di jalan raya dengan rata-rata angka kematian 1.000 anak-anak dan remaja setiap harinya. Kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama kematian anak-anak di dunia, dengan rentang usia 10-24 tahun. Dari data Ditlantas Polda Metro Jaya, dari 10 kecelakaan lalu lintas maka korba tiga nyawa. Dari tahun 2010-2015, diketahui ada sekitar 176.000 anak menjadi korban kecelakaan di jalan raya. Artinya, setiap harinya terdapat 85 anak berumur di bawah 15 tahun yang jadi korban kecelakaan.

Lahan parkir sekolah yang penuh sesak dengan motor siswa.

Beragam opini bermunculan berkaitan dengan tingginya angka kecelakaan lalulintas. “dikarenakan kurangnya pendidikan tentang lalu lintas, masih banyak saja anak dibawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan lalu lintas”. Benarkah masalah pendidikan yang menyebabkan kecelakaan lalulintas. Terlali naif jika menyalahkan pendidikan saja, tetapi harus melihat secara menyeluruh permasalah ini.

Beberapa kali saya pergi ke pelosok-pelosok di Indonesia. Fenomena anak-anak mengendarai kendaraan bermotor adalah hal yang biasa, berbeda dengan anak-anak yang tinggal di Kota. Di beberapa kabupaten di Indonesia, terutama yang baru saja mekar masih belum memiliki fasilitas angkutan umum yang memadai. Ketiadaan akses transportasi inilah yang memaksa anak-anak memakai kendaraan bermotor.

Tuntutan pendidikan mengharuskan anak pergi ke sekolah, sedangkan fasilitas transportasi tidak ada. Di sisi lain, orang tua mereka mendapat tuntutan akan kebutuhan ekonomi. Di sisi lain, daerah yang baru mekar sedang gencar-gencarnya menata diri dan belum bisa memenuhi fasilitas angkutan umum. Di lain pihak, bisnis angkutan umum juga tidak terlalu menguntungkan karena mobilitas masyarakat yang kurang, rerata masyarakat memiliki kendaraan, dan harga BBM yang semakin merangkak naik.

Orang tua sebenarnya menyadari potensi bahaya anak-anak mengendarai sepeda motor. Ketiadaan pilihanlah yang membuat orang tua menyerah pada keadaan yakni memberikan jalan kepada anak-anak untuk mengendarai kendaraan, daripada tidak sekolah karena terlalu jauh, atau terlambat karena perjalanan yang lama, sisi lain soal keamanan. Pihak yang berwajib juga menyadari keterbatasan fasilitas ini dan serba salah jika hukum itu benar-benar ditegakan. Lain kisah jika fasiltas transportasi memadai maka tidak ada alasan untuk para pelanggar lalulintas. Memang hukum harus tetap berlaku, tetapi mungkin ada kebijakan saat penopang-penopang hukum agar tegak itu belum terpenuhi.

Kerinduan melihat anak-anak bersepeda berangkat sekolah dan semakin langka sepertinya.

Ironis dan memang sudah kronis kondisi tranportasi umum di masyarakat kita. Namun tidak sepenuhnya menyalahkan fasilitas transportasi umum, tetapi mentalitas masyarakat juga patut dipertanyakan. Keengganan memakai fasilitas angkutan umum karena beragam alasan, seperti mahal, tidak praktis, lama, tidak nyaman, tidak aman, dan lain sebagainya menjadi alasan berpindah pada angkutan pribadi. Potret Herman dan anak-anak di pelosok Nusantara yang masih dalam bayang-bayang bahaya kecelakaan patut menjadi perhatian bersama. Generasi muda ini perlu dijaga, bukan dibiarkan menarik pedal gas tanpa pengawasan dan pengendalian. Pemenuhan fasilitas transportasi umum juga menjadi perhatian pemangku kebijakan agar masyarakat beralih pada moda ini, terlebih generasi muda yang masih di bawah umur agar tidak turun ke jalan.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

2 comments

  1. Kalau dibilang Indonesia banget ya ini memang terjadi di Indonesia ya hehe..

    Boti, bompat, boli sepertinya udah jadi budaya selama ada celah untuk duduk jangan dilewatkan. Bayangkan kayak perjuangan teman-teman yang di kereta api rela berdesakan juga hehe..

    Nice sharing mas Dhave.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...