Magellan Cross, monumen untuk mengenang pelaut tangguh dari Portugis. (dok.pri).

Rempah-rempah Yang Membuat Eropa Sumringah

Magellan Cross, monumen untuk mengenang pelaut tangguh dari Portugis. (dok.pri).

Suatu saat saya mengunjungi Cebu-Filipina. Bangunan tua khas Eropa masih nampak kokoh berdiri di sana, walau beberapa sudah nampak runtuh karena gempa bumi. Di depan Kampus St. Nino nampak sebuah bangunan tepat di tengah jalan. Area tersebut dikenal dengan Magellan’s Cross. Selintas saya teringat nama seorang pelaut yang terkenal dan sudah mengelilingi dunia. Ternyata benar, dialah Fernao de Magalhães seorang navigator Portugis yang sudah mengitari bumi. Yang manarik bagi saya adalah kisah perjalanannya yang nantinya akan membawa orang-orang Eropa berbondong-bondong ke Nusantara.

Rempah-rempah yang diincar bangsa Eropa (dok.pri).

Selintas cerita di atas, saya tari benang merahnya saat mengunjungi museum bahari di Sunda Kelapa-Jakarta Utara. Sejarah tentang pelayaran orang-orang Eropa, Timur Tengah, Tiongkok terpampang dengan gamblang. Semua beramai-ramai menuju Nusantara. Ada apa di Nusantara, sehingga mereka mengarahkan haluan menuju ke sana.

Dalam Alkitab diceritakan, orang Majus mengunjungi bayi Yesus lantas memberikan persembahan emas, kemenyan, dan mur. Terbesit pertanyaan, apakah istimewanya kemenyan. Dalam benak saya, kemenyan identik dengan klenik, aroma asap sesaji, asap rokok dan tidak ada yang luar biasa. Kemenyan atau olibanum merupakan wewangian berbentuk kristal yang digunakan untuk dupa dan parfum. Kristal berusmber dari pohon jenis Boswellia dalam keluarga tumbuh-tumbuhan Burseraceae, Boswellia sacra, B. frereana dan B. serrata (kemenyan India). Kemenyan banyak ditemukan di Sumatera Utara. Styrax sumatrana adalah jenis pohon kemenyan yang pada umumnya tumbuh di daerah kabupaten Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah. Bisa dibayangkan aroma harumnya sudah sampai Timur tengah, bahkan Firaun juga memakainya.

Pala salah satu harta dari palau Banda (dok,pri).

Aroma wangi kemenyan bukan satu-satunya yang membuat bangsa-bangsa di dunia ini melirik Nusantara. Pala (Myristica fragrans), Cengkeh (Syzygium aromaticum), Cendana (Santalum album) adalah beberapa harta karun yang tumbuh di Nusantara dan menjadi rebutan para pedagang. Gegara cengkeh, pala, dan cendana tetiba Nusantara menjadi daerah jajahan. 3 spesies tumbuhan tersebut ramai-ramai di ekplotasi hingga di monopoli, karena memiliki nilai yang sangat tinggi di Eropa.

Jalur pelayaran Magellan (dok.wikipedia).

Cengkeh pada 176 M sudah diperdagangkan di Alexandria dan abad ke-8 menyebar ke Eropa. Banyak pedagang dari Arab yang merahasiakan asalnya cengkeh. Pada abad ke-16 dimulailah ekspedisi pencarian cengkeh dan rempah-rempah oleh orang-orang Eropa. Pedihnya adalah kisah dari Fernao de Magalhães, tahun 1521 dia keliling dunia untuk mencari rempah. Meskipun armadanya mencapai sumber cengkeh dan pala – Maluku, namun dia tidak sampai karena meninggal di Cebu-Filipina. Hingga akhirnya VOC berhasil memonopoli seluruh perdagangan rempah-rempah di Nusantara.

Acapkali sangat disayangkan jika tumbuh-tumbuhan berharga kini beberapa sudah tinggal kenangan. Cendana, sepertinya tinggal cerita. Di daerah asalnya-Nusa Tenggara Timur, cendana hanya meninggalkan wawangian masa lalu yang tak lagi wangi saat ini. Yang tersisa hanya cendana-cendana muda yang belum wangi dan kisah masa lalu yang kelu. Cengkih yang biasa melintas di telinga adalah cengkih zanzibar dari Afrika, padahal itu berasal dari Maluku yang dikembangkan di sana. Masih banyak tumbuh-tumbuhan lokal yang tidak lagi megah layaknya tuan rumah.

Cengkeh yang lebih berharga dari emas, pada waktu itu (dok.pri).

Gospel, Gold, Glory menjadi semboyan imperialisme yang datang ke Nusantara. Harta kekayaan dikeruk, Mereka mendapat kekayaan dan kekuasaan, sekaligus penyebaran agama. Sangat ironis memang, tetapi itulah fakta sejarah Nusantara. Namun patut bersyukur, Nusantara yang utuh masih merdeka dan berdaulat, kini bisa kembali menanamkan benih-benih kejayaan masa lalu.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...