Jenis kacang-kacangan di pulau timor.

Ilmu Racun dari Timor

27 jenis kacang lokal di pulau timor, dan 4 di antaranya beracun.

27 jenis kacang lokal di pulau timor, dan 4 di antaranya beracun.

Saya teringat dulu waktu menjadi anggota Pramuka SMA, ketika kakak pembina mengajari materi survival atau bertahan hidup di alam bebas. Dalam salah satu materinya adalah mencari makanan di hutan. Dia mengatakan, semua jenis kacang-kacangan bisa dimakan dan aman. Ingatan itu kemudian sirna saat saya dihadapkan 27 jenis sampel kacang-kacangan dari Timor dan 4 di antaranya beracun. Mungkin kata kakak pembina saya adalah jenis kacang-kacangan yang ada di Jawa dan familiar dimakan. Mungkin jika praktik survival itu di Pulau Timor, bukannya kenyang masuk UGD iya.

Sedikit merinding saya membawa 4 jenis kacang dari total 27 jenis kacang lokal Nusa Tenggara Timor. Kengerian saya saat melihat tulisan “beracun” dalam labelnya. Kata rekan saya, Binerd Toy yang berasal dari NTT dan kebetulan sedang menempuh studi S2-Biologi mengiyakan tentang beberapa jenis kacang dari Timor yang beracun. “Mas kalau salah memilih kacang lalu memakannya, untung kalau pusing atau sakit perut. Biasanya mereka yang keracunan bisa sampai mutah, sesak nafas dan mati“, kata rekan saya yang tahu betul tentang kacang-kacang lokal di sana.

Jenis kacang-kacangan di pulau timor.

Jenis kacang-kacangan di pulau timor.

Kengerian tentang kacang beracun ini memaksa saya untuk mencari tahu apa sebenarnya sumber racun yang dimaksud bisa menghilangkan nyawa orang yang salah mengonsumsinya. Kacang-kacangan atau legume memiliki 680 ordo dan 18.000 jenis atau spesies. Jumlah yang sangat banyak dan melimpah, tetapi hanya sebagain kecil saja yang bisa dimakan.

Kacang-kacangan adalah sumber protein nabati yang potensial. Ada 20-40% kandungan protein di dalamnya, dan kandungan ini besarnya 3 kali lipat dibanding dengan kelompok serealia (padi-padian). Besarnya kandungan protein inilah yang menjadi potensi sebagai sumber gizi bagi warga lokal NTT, namun ada ancaman di balik itu jiga tidak memahami dengan benar.

Kacang biasanya hanya diolah dengan cara dicampur dengan jagung yang direbus.

Kacang biasanya hanya diolah dengan cara dicampur dengan jagung yang direbus.

Seperti yang diceritakan rekan saya, sangat sedikit warga lokal yang keracunan. Mereka sudah bisa memilah dan memilih jenis kacang-kacangan yang beracun atau tidak. Pada masa-masa tertentu saat sumber makanan menipis tidak ada pilihan lain selain memakan kacang beracun tersebut. Nenek moyang mereka sudah menemukan cara bagaimana cara mengurangi dan menghilangkan kadar racun dalam kacang. Cara yang biasa mereka gunakan adalah dengan memasak sebanyak 12 kali.

Di dalam beberapa buku dan jurnal dikupas tuntas tentang senyawa beracun pada tumbuhan dan salah satunya pada kacang. Sebenarnya racun dalam tumbuhan adalah racun alami yang dibuat sendiri oleh tumbuhan. Racun alami pada tumbuhan berfungsi untuk membela diri dari pemangsa, jamur, bakteri, virus, dan serangga. Manusia dalam konteks ini adalah pemangsa, sehingga wajar saja terdampak racun alami ini.

Beberapa senyawa racun alami yang umum dijumpai pada legume antara lain; KCN, phytic acid, saponin, polipenol, lathyrogens, a-galaktisida, protease inhibitor, a-amilase inhibitor, dan lektin. Efek dari racun alami jika terkonsumsi bisa menyebabkan gangguan pencernaan, pusing, bahkan pada dosis berlebih bisa mengakibatkan kematian. Kearifan lokal masyarakat Timor memiliki teknik agar terhindar dari keracunan, yakni dengan menengarai kacang mana saja yang beracun atau dengan mengolahnya. Orang timor biasa mengolah kacang Arbilan (hampir semua jenis kacang ini beracun) dengan cara merebusnya sebanyak 12 kali. 12 batu di sediakan di dekat tunggu dan membuannya satu buah saat usai merebus yang pertama, sedemikian rupa hingga 12 kali sehingga tidak ada yang terlewat.

Dalam teknologi pengolahan makanan, sebenarnya ada teknik untuk mengurangi bahkan menghilangkan kadar racun. Cara paling sederhana adalah merendamnya dalam jangka waktu lebih dari 5 jam. Selain itu proses perebusan, pengkususan, sangrai, digiling, dikecambahkan dan difermentasi bisa menginaktifkan racun pada kacang-kacangan.

Menyangrai kacang lokal.

Menyangrai kacang lokal.

Saya belajar banyak pada orang-orang lokal saat mereka mampu mengenali sumber makanan yang bisa dikonsumsi langsung atau diolah terlebih dahulu bahkan harus dihindari. Tidak hanya kacang-kacangan yang mereka pahami dalam konteks etnobotany. Disini ilmu pengetahuan menjawab ketidaktahuan masyarakat lokal.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...