Benih yang siap tanaman di hutan.

Pro dan Kontra Hutan Tanaman Industri

Seperti dataran tinggi nazca padahal di riau.

Seperti dataran tinggi nazca padahal di riau.

Boeing 737-800NG yang menerbangkan saya dari Jakarta sesaat sebelum mendarat di bandara Sultan Syarif Kasim II-Pekanbaru nampak terbang rendah sembari mengurangi kecepatannya. Mas Yuda, teman seperjalanan yang sering bolak-balik Riau-Jakarta mengatakan “kalau sudah terlihat sungai besar, artinya kita sudah dekat”. Benar saja, sungai seperti ular raksasa menggeliat membelah hamparan hijau pepohonan. Saat itu saya seolah sedang terbang pada tahun 1920an saat melintasi kawasan Pampa, Propinsi Nazca, Peru. Jika di peru terkenal dengan Nazca lines,atau lukisan bentang alam, tetapi di bawah sana juga mirip demikian. Johan Reinhard dari National Geographic Explorer sekaligus penulis buku The Nazca Lines: A New Perspective on their Orgin and Meaning mengungkap bahwa pola lukisan berhubungan dengan air, dan masih banyak teori yang lain. Namun, Riau Lines begitu saya menyebutnya adalah hasil buah karya manusia yang memanfaatkan lansekap menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI).

Hutan akasia dan truk yang sedang panen kayu.

Hutan akasia dan truk yang sedang panen kayu.

Sepintas dari angkasa jika melihat ke bawah adalah mirip di Nazca, tetapi di Riau memiliki kisah yang menarik dibanding berteori tentang mahluk alien yang mendarat di peru. Begitu pesawat mendarat, tujuan selanjutnya adalah perjalanan darat menuju Kecamatan Perawang di Kabupaten Siak dengan waktu tempuh sekitar2,5 jam perjalanan. Sepintas apa yang saya perhatikan dari kabin pesawat tadi, saya rasakan bersentuhan langsung. Dari udara terlihat lukisan-lukisan dengan pola segi empat yang merupakan petak-petak lahan, sedangkan jalan berliku adalah jalan raya.

Perawang, sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Siak yang cukup maju untuk ukuran sebuah kecamatan. Kemajuan kecamatan ini disebabkan adanya beberapa Industri salah satunya adalah PT. Indah Kiat Pulp and Paper. Industri ini memperkerjakan ribuan penduduk lokak, sehingga secara ekonomi bisa mengangkat kemajuan daerahnya. Kebetulan kali ini saya mendapat kesempatan melihat dari dekat hutan buatan yang memasok bahan baku utama pembuatan kertas.

Beberapa jenis kayu yang dibudidayakan di HTI.

Beberapa jenis kayu yang dibudidayakan di HTI.

Setelah 2,5 jam perjalanan akhirnya kendaraan yang membawa saya masuk dalam kawasan RnD yang di halaman luarnya penuh dengan hutan yang baru berumur mingguan. Inilah lokasi budidaya pembibitan tanaman untuk hutan industri. Tujuan utama saya adalah untuk melihat bagaiamana memproduksi benih-benih hingga menjadi bibit yang kemudian akan ditanaman dalam lokasi hutan.

Sedang memotong-motong bagian tumbuhan untuk dikembangkan dalam kultur jaringan.

Sedang memotong-motong bagian tumbuhan untuk dikembangkan dalam kultur jaringan.

Sesaat sebelum memasuki ruangan harus mengikuti SOP-nya, yakni memakai alas sepatu. Sepatu harus dibungkus dengan kain pembungkus untuk mecegah kotoran sepatu mencemari ruangan. Ruangan ini sangat istimewa, karena benih-benih unggul dihasilkan di ruangan ini, yakni kultur jaringan. Prinsip kerja di ruangan ini adalah menghasilkan benih-benih yang seragam, siap untuk dijadikan bibit, sehingga saat panen nantinya akan dihasilkan pohon dengan umur yang sama, ukuran yang relatif sama. Pada intinya pohon induk, anakannya akan digandakan dalam jumlah yang banyak sehingga menjadi ribuan anak kembar.

Tidak sulit sebenarnya dalam membuat kultur jaringan. Cukup dengan mengambil bagian tanaman yang disebut pohon induk yang dianggap baik. Dari bagian yang diambil, biasanya daun lalu akan disuci hamakan, yakni bebas dari jamur, bakteri, lumut, alga, dan virus. Setelah steril kemudian akan dipotong-potong menjadi bagian yang kecil lalu dimasukan dalam media agar yang berisi agar, makro-mikro nutrien dan hormon pertumbuhan. Tujuan dari dari proses ini adalah untuk merangsang pembentukan tunas dan akar. Setelah akar dan tunas muncul kemudian dipindahkan dalam media pembesaran khusus untuk menumbuhkan perakaran dan siap untuk di tanam.

Benih hasil kultur jaringan yang siap di tanam.

Benih hasil kultur jaringan yang siap di tanam.

Ada 3 genus yang dijadikan bahan baku pembuatan kertas yakni Eucaliptus, Hibiscus, dan Acacia. Alasan dipilih 3 genus tersebut karena memiliki serat atau lignin yang besar sebagai bahan kertas, cepat tumbuh, tidak bersifat ekspansif, dan yang pasti cocok dengan lahan yang ada. Kadang timbul permasalahan bagi ekologi, berkaitan dengan keharmonisan alam.

Benih yang siap tanaman di hutan.

Benih yang siap tanaman di hutan.

Idelanya sebuah hutan berisik dengan diversitas flora dan fauna, tidak monoton berisi dengan 1 spesies atau monokultur. Memanga ada garis pemisah antara hutan tanaman industri dengan hutan alami. Bisa diibaratkan lokasi kebun sayur dengan hutan, dimana kebun sayur berisi hanya sayuran sedangkan hutan berisi dengan bermacam flora dan fauna. Begitujuga dengan hutan monokultur, risikonya akan memiliki diversitas yang rendah dibanding hutan heterogen.

Minimnya diveristas hutan homogen, tetap saja memiliki keuntungan, seperti; pasokan udara bersih, lansekap tertutup oleh flora sehingga terbebas dari erosi, menjaga mikroklimat, dan menjadi hunian floran dan fauna yang ada di sana. Hutan Tanaman Industri memang didesain demikian dengan alasan kebutuhan industri yang tetap menjaga kelestarian lingkungan walau dengan dengan segala macam hambatan dan kekurangan. Memang harus dibedakan hutan konservasi dan peruntukan industri.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

One comment

  1. Riau hancur semua gara2 indah kiat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...