Peter Bellwood dalam seninar Legacy of Island di jakarta.

Asu, Kitorang Austronesia

Peter Bellwood dalam seninar Legacy of Island di jakarta.

Peter Bellwood dalam seninar Legacy of Island di jakarta.

Kata “asu” mungkin sangat familiar di telinga kita. Asu, bisa diartikan untuk menyebut Anjing (Canis familiaris), atau makian. Mungkin lebih enaknya, asu adalah anjing dalam bahasa jawa. Tetapi saat anda berkunjung ke bebera daerah lain di Indonesia, kata asu juga sama artinya dengan anjing. Mungkin kata asu di beberapa daerah di Indonesia, menyerap dari bahasa Jawa. Sehebat itu kah asu dalam bahasa Jawa dipakai di beberapa tempat di Indonesia, mungkin gegara transmigran, ternyata tidak sepenuhnya benar. Asu untuk sebutan anjing adalah bahasa asli nenek moyang kita, jangankan di Indonesia, di Filipina familiar juga dengan Asu dalam bahasa Tagalog yang artinya anjing.

DI Joser Rizal park, banyak warga manila yang membawa anjingnya untuk olahraga sore dan mereka menyebutnya dengan asu.

DI Joser Rizal park, banyak warga manila yang membawa anjingnya untuk olahraga sore dan mereka menyebutnya dengan asu.

Di penghujung Juni, saya bertemu Peter bellwood. Mungkin bagi yang tak mengenalnya, dia hanyalah sosok kakek bule, berambut putih dengan muka yang serius tetapi sangat ramah. Dia adalah seorang dosen arkeologi di School of Archaeology and Anthropology Australian National University (ANU) di Canberra, Australia. Bidang keilmuannya meliputi prasejarah Asia Tenggara dan Pasifik dari segi arkeologi, bahasa dan biologi, asal usul pertanian. Dia adalah seorang ilmuwan dari benua kanguru, yang terkenal dengan teori out of taiwan. Jauh sebelumnya muncul teori out of africa, yakni tentang kisah perjalanan Homo sapiens dari Afrika menuju Eropa, Asia, Australia. Lebih spesifik Peter Bellwood mengatakan, nenek moyang orang Indonesia datang lewat Taiwan. Secara prinsip saya tidak mempermasalah, nenek moyang dari mana, tetapi bagaimana dia beragumentasi seperti itu, itulah menariknya.

Pola persebaran bangsa austronesia ribuan tahun yang lalu.

Pola persebaran bangsa austronesia ribuan tahun yang lalu.

Untuk menjawab alasan Peter Bellwood maka kata kuncinya adalah austronesia. Dia berteori ada satu rumpun bangsa yang memiliki kesamaan dalam berbahasa. Rumpun tersebut diberi nama Austronesia, yang artinta pulau-pulau di selatan. Secara geografis, austronesia dari ujung Taiwan, Malaysia, Aceh, turun ke selatana hingga ke Madagaskar, lalu naik ke seluruh Indonesia, kembali turun hingga selandia baru, hingga ke Hawai. Penuturan dalam bahasa Austronesia inilah yang menjadi dasar kesamaan asal-asul dari mana nenek moyang.

Wilayah austronesia.

Wilayah austronesia.

Jika terlalu rumit berbicara Austronesia, bisa mengambil contoh yang sangat sederhana, yakni wong jawa atau wong tegal (orang Jawa atau Tegal). Katakanlah saya di daerah luar jawa, saaat mendengar dialek atau aksen saya yang medok orang jawa langsung dikatakan “masnya orang jawa ya..?” tidak peduli jawa sebelah mana. Begitu juga saat di jawa sendiri, ada orang ngomong “ngapak” langsung bisa menyimpulkan “dari tegal ya..?”, padahal aksen ngapak atau banyumasan itu sangat luar dari Tegal yang ada di Pantura hingga Cilacap yang ada di Pantai Selatan Jawa. Dari bahasa atau aksen bisa langsung menilai dari mana seseorang berasal, Papua, Ambon, Flores, Batak dan lain sebagainya. Begitu juga dengan teori out of africa yang berdasarkan penuturan bahasa.

1 sampai 10 dalam beragam bahasa bangsa austronesia.

1 sampai 10 dalam beragam bahasa bangsa austronesia.

Di era sekarang bukan jamannya lagi, kita dari daerah mana, beragama apa, suku apa, dan lain sebagainya. Jika menelisik siapa nenek moyang kita, kita akan tersadar jika sodara-sodara kita tidak hanya di pulau Jawa, atau Papua saja, bahkan Indonesia. Sodara kita berdasarkan penuturan bahasa berasal dari satu nenek moyang yakni bangsa Austronesia yakni dari ujung Taiwan, Madagaskar, Selandia Baru, hingga Hawai. Salah satu keuntungannya adalah kita dapat mudah berhitung minimal 1 sampai 10, karena pelafalannya sangat mirip saat kita berkunjung ke Seluruh pelosok Austronesia, tetapi khusus Indonesia jauh lebih mudah semenjak 28 Oktober 1928. Salah satu sudut pandang dari ilmu pengetahuan purbakala yang mengulik asal usul manusia, dengan berteori out of taiwan.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...