museum nasional filipina.

Isi Dapur Museum Nasional Filipina

museum nasional filipina.

museum nasional filipina.

Sore itu saya mengajak 2 teman asal Filipina untuk masuk museum Ronggowasito di Semarang. Mereka nampak senang, karena suasana yang sepi, tenang, dan bisa menjelajah setiap jengkal museum dengan nyaman. Kisah sebaliknya, saat saya diajak masuk di Museum Nasional Filipina di Manila. Saya sangat senang bisa ikut antre antra di barisan pengunjung yang mengular. Pengunjung museum membludak padahal sudah sore pada waktu itu. Komparasi kesenangan saat mengunjungi museum antara sepi dan ramainya pengunjung. Kesenangan saya berlanjut manakala saya tidak jadi mengunjungi museum, tetapi dapurnya museum.

Sangat jarang pengunjung diperbolehkan mengunjungi dapurnya museum, terlebih museum nasional yang menyimpan benda-benda bersejarah dan prasejarah milik negara. Dengan ijin khusus, saya mendapatkan kesempatan untuk melihat para pagawai museum bekerja di dapurnya museum Pambansang atau Museum Nasional Filipina. Tidak hanya melihat kegiatan para pagawai museum, tetapi melihat koleksi benda-benda bersejarah yang tidak di pamerkan di museum karena alasan tertentu.

Pengunjung museum

Pengunjung museum

Usai mendarat di bandara Nino Aquino, mobil museum yang sengaja menjemput kami, langsung mengarahkan kemudinya menuju museum nasional. Karena bukan sebagai pengunjung, saya langsung digelandang lewat pintu belakang. Sesaat saya meliriki pengunjung museum yang masih mengular, hanya untuk masuk dalam museum. Sungguh pemandangan yang kontras dengan museum-museum di tempat saya.

Sebuah sudut museum

Sebuah sudut museum

Dari pintu belakang langsung diminta masuk lift dan menuju lantai 4. Dari lantai 4 saya melihat pengunjung yang masih mengular, pemandangan kota filipina, Rizal Park lengkap dengan tiang bendera yang menjulang tinggi dan kain bendera yang berkibar. Sesaat meletakkan ransel dan meminta ijin untuk menancapak catu daya ponsel yang sudah mengering dayanya sejak mendarat tadi. Tanpa membuang waktu, saya dikenalkan dengan beberapa staff museum yang ramah-ramah dan tidak nampak menyeramkan seperi benda-benda museum.

Tujuan pertama adalah melihat koleksi benda-benda prasejarah yang sedang direstorasi. Dr. Dizon yang mengantarkan saya menjelaskan tentang eskavasi atau penggalian temua prasejarah ini yang wujud repihan dan selanjutnta disusun menjadi benda yang utuh. Tantang bagi para arkeolog adalah bagaimana merekronstruksi benda yang sudah terpecah belah tanpa menambahkan material lain sebagai pelengkap kecuali alat perekat. Tidak boleh ada kesalahan karena bisa mengubah bentuk dan makna dari benda-benda tersebut. Yang paling banyak ditemukan adalah terakota, seperti; kuali, tembikar, buli-buli, hingga peti jenazah. Beberapa alat batu yang digunakan sebagai pisau, kapak, hingga palu juga ada.

Keramik yang mirip dengan yang di trowulan

Keramik yang mirip dengan yang di trowulan

Berpindah pada benda temuan bersejarah, yakni terakota dan keramik. Yang menarik bagi saya adalah buli-buli besar yang baru saja selesai direkronstruksi. Dr. Dizon menjelaskan tentang motif dari ukiran yang mirip dengan yang ada di museum trowulan, Jawa Timur. Dia menjelaskan, ini adalah benda dari perdagangan atau pertukaran pada era Maha Patih Gajah Mada. Saya tidak membayangkan, lelahnya penerbangan dari Jakarta menuju Manila ternyata pedagang jaman dahulu lebih lelah dalam pelayarannya.

Koleksi tengkorak dari masa ke masa.

Koleksi tengkorak dari masa ke masa.

Belum puas melihat hasil dagang orang-orang Majapahit, Dr. Evangelista seorang ahli botani menyeret saya masuk dalam ruangannya. Ruangan seluas 6×5 m yang berisikan 6 orang botani dan seorang Doktor Botani, begitu saya melihat langit-langit. Begitu kepala saya menunduk, ruangan tersebut penuh dengan koleksi tumbuh-tumbuhan Filipina yang sedang diidentifikasi. Ada juga yang sedang sibuk mengamati hasil karyanya beruba herbarium, yakni tumbuhan yang dikeringkan dengan cara dijepit dengan kertas koran lalu diseterika.

Dari paparan ahli botani dijelaskan tentang kesamaan tumbuhan yang ada di asia. Mereka menceritakan sebelum jaman es berakhir manakala masih 1 daratan dan memiliki kesamaan flora. Begitu juga dengan fauna yang ada karena merupakan represtasi dari flora barkaitan dengan sumber makanannya. Kunjungan di ruangannya baru benar-benar nyambung diskusinya setelah 1 minggu lebih di Filipina, karena memilik rumpun ilmu yang sama dengan saya yakni biologi.

Lukisan sepanjang 8m

Lukisan sepanjang 8m

Di sela-sela melihat dapurnya museum, beberapa kali saya juga penasaran dengan apa yang dipamerkan dalam museum. Begit masuk dalam sabuah ruangan besar terpampang lukisan sepanjang lebih dari 10 m. Saya tidak memahami cerita dibalik lukisa itu karena kembali staff museum menggelandang saya untuk masuk dalam ruang makan. Kunjungan ke meseum diakhiri dengan santap makan bersama, tetapi dalam benak ini masih memikirkan mengapa bisa begitu ramai dan antusias pengunjung museum ini.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Tak Bisa Berkata untuk Pulau Timor

“Mas, itu ke arah Pika berlawanan dengan arah tujuan mas” Kata seorang ibu yang berkebaya tais saat saya bertanya arah jalan. Sial memang hari itu. ...