Sebanyak 250 warga ikut serta dalam kerja bakti ini.

Gotong Royong di Puncak Gunung Andong

peta gunung andong

Di era modern yang serba digital dan virtual saat ini sangat susah menemukan interaksi sosial yang layaknya homo homini socius. Banyak yang sibuk dengan gawainya masing-masing atau setidaknya dengan komunitasnya. Namun yang menarik adalah, masyarakat kita bisa dibilang reaktif. Reaktif untuk masalah kebersamaan, gotong royong jangan ditanya untuk orang-orang seantero nusantara. Seorang ibu penjual makanan yang barusan kena razia satpol PP, tetiba dikeroyok netizen yang memberikan sumbangan hingga terkumpul lebih dari 100 juta rupiah. Sedemikian reaktifnya tanpa perlu melihat siapa yang dibantu, yang penting kebersamaan. Apakah demikian sifat bangsa ini, mari kita lihat di kaki Gunung Andong, Magelang-Jawa Tengah.

Sang Surya baru saja meninggalkan peraduaannya. Sinarnya yang hangat perlahan menyapu tetesan halimun yang perlahan-lahan mulai sirna. Pagi yang hangat di Dusun Sawit, Desa Girirejao, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Penduduk yang terdiri sekitar 6 RT sudah bersiap untuk mendaki gunung Andong setinggi 1726 meter dari permukaan air laut. Tua, muda, lelaki, perempuan, bahkan anak-anak mereka juga diajak ikut serta. Tanpa sarapan mereka bersiap, benar saja karena hari ini mereka masih menjalankan ibadah puasa.

Berawal dari bantuan pemerintah yang mengucurkan dana untuk perbaikan Makam Joko Pekik di puncak barat Gunung Andong. Tidak ada yang memastikan siapa sosok yang dimakamkan di puncak gunung tersebut. Ada sebagian masyarakat yang mengatakan dia adalah murid dari Sunan Geseng yang menyebarkan agama Islam di sekitar Gunung Andong. Ada juga yang mengatakan Joko Pekik adalah seorang pertapa sakti. Tidak ada yang tahu pasti, yang pasti masyarakat juga tidak mempermasalahkan siapa dia. Namun yang menarik, tanpa harus tahu siapa Joko Pekik, tetapi masyarakat di kaki Gunung Andong ‘guyub”/bersama-sama membangun makamnya yang ada di puncak gunung.

Bagi pendaki gunung, Gunung Andong bukanlah gunung yang tinggi. Bagi mereka yang terlatih, waktu tempuh menuju puncak sekitar 1 – 1,5 jam. Catatan bagi para pendaki, mereka membawa ransel yang nyaman dan tidak begitu berat, mereka membawa makanan dan minuman yang cukup, mereka melengkapi diri selayaknya pendaki gunung. Namun bagi warga sekitar, bekal mereka hanyalah saat sahur tadi untuk modal tenaga, sisanya adalah kesungguhan dan keiklasan.

Karung berisi pasir yang siap dibawa menuju puncak gunung.

Karung berisi pasir yang siap dibawa menuju puncak gunung.

Pasir sebanyak 3 rit atau 3 bak truk besar harus diangkut dari kaki gunung menuju puncak gunung melewati jalur pendakian. Masing-masing warga membawa sebuah karung beras yang kemudian akan diisi pasir. Rerata berat pasir yang diwadah karung antara 15-25 kg. Bagitu juga dengan semen yang satu sak semen seberat 40kg. Model membawa pasir atau semen menuju makam Joko Pekik dengan cara disunggi, yakni meletakkan beban di atas kepala.

Sebanyak 250 warga ikut serta dalam kerja bakti ini.

Sebanyak 250 warga ikut serta dalam kerja bakti ini.

Sekitar 250 warga, pagi ini siap mendaki gunung bersama-sama untuk mebawa pasir dan semen. Tidak ada paksaan, tetapi semua berdasar kesadaran bersama atau mungkin ada sangsi sosial. Orang Jawa akan merasa aneh dirinya jika tidak ikut terlibat, sehingga ada rasa “rikuh pekewuh” sungkan atau tidak enak. Perlahan-lahan mereka mendaki sesuai dengan kekuatan dan kecepatannya masing-masing, dan menarik lagi para pendaki yang menggendong ransel juga didahului oleh para warga.

Gerbang Gunung Andong yang dibangun masyarakat.

Gerbang Gunung Andong yang dibangun masyarakat.

Sangat menarik dilihat dari sisi antropologi berkaitan dengan budaya. Fenomena ini tak beda jauh dengan sikap reaktif, tetapi warga gunung Andong tak hanya reaktif, tetapi memiliki kesadaran akan sebuah partisipasi. Mereka tidak kenal dan paham siapa Joko Pekik, yang mereka paham dan tahu adalah warga diminta membawa pasir dan semen menuju puncak gunung. Lupakan mereka dibayar berapa atau mendapat apa, yang pasti itu tidak ada, yang pasti mereka turun gunung mendapat rumput dan kayu bakar. Saya menyadari bahwa inilah karakter asli bangsa ini, bahwa kebersamaan itu masih ada tanpa menunggu sebuah kejadian baru ada reaksi setelah ada stimulasi.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Menyapa Curug Muara Jaya, Majalengka

Sangat teringat pelajaran SD dulu tentang sumber daya alam. Indonesia terkenal sebagai penghasil batu bara, sedangkan Jepang dengan batu bara putih. Apa bedanya kedua batu ...