sunset di cuezon

Palawan bak Kampung Sendiri Saat Filipina

sunset di cuezon

sunset di cuezon

Senja itu pun datang manakala semburat warna kuning keemasan berpadu dengan gradasi warna merah di sekeliling matahari yang mulai merona. Perahu-perahu nelayan mulai bersandar dan lampu mercu suar sudah dinyalakan. 3 remaja nampaknya sedang asyik bercengkrama di bibir dermaga sembari menikmati terbenamnya matahari. Suasana yang tidak berbeda jauh dengan kampung saya, Indonesia tetapi kali ini saya berada di pulau di tenggara Filipina.

jeppney cuezon

jeppney quezon

Palawan sebuah pulau di sisi tenggara Filipina yang beberapa hari ke depan menjadi kampung saya sementara. 2 orang polisi di tugaskan untuk mengikuti jejak langkah sayang yang kadang liar tidak tentu arah, sembari bercerita tentang pulau karang ini. Semenjak terjadinya gangguan keamanan di negeri Jose Rizal ini, maka tamu-tamu negara mendapat pengawalan ketat terlebih di daerah yang rawan akan keamanan. Kebetulan waktu itu tergabung dalam tamu negara, dan merasakan sedikit menjadi orang penting yang kemana-mana dikawal aparat bersenjata. Dalam sebuah obrolan berkaitan dengan dengan penculikan para pelaut dan orang asing, salah seorang polisi mengatakan “inilah politik, bukan semata-mata tindakan kriminal karena tidak bisa makan dan harus merampok” selebihnya tidak ada pembicaraan.

pasar di quezon

pasar di quezon

Berbicara pulau Palawan saya teringat dengan Nusa Tenggara Timur. Pulau yang kering, panas, curah hujan minim, dan penuh dengan karang untuk beberapa sisinya. Tanah yang saya pijak seolah tidak asing lagi, kecuali bahasanya yakni Inggris dan Tagalog. Acapkali mereka mengira saya serumpun bahasa dengan mereka, begitu bilang “im from Indonesia” maka bahasa tagalok berubah Inggris. Yang berbeda hanya bahasa, selebihnya sama.

japan cake

japan cake

Sayang jika mengunjugi sebuah daerah tidak melihat keaslian penduduk setempat. Maka dengan meminta ijin dari 2 penjaga tersebut saya minta untuk diantar masuk pasar tradisional mereka. Senja berlalu, dan pasar pun masih buka, bahkan ada yang baru menggelar dagangannya. Sebagian besar penduduknya nelayan, maka ikan menjadi produk utama yang dalam pasar. Pasar ikan menjadi satu dalam satu los, begitu juga dengan barang dagangan lain. Benar-benar seperti pasar dikampung saya, termasuk kumuhnya juga, namun bedanya mereka fasih berbahasa inggris.

Secara demografis, penduduk di Palawan berasal dari beragam suku. Yang tidak habis pikir, saya melihat sebuah rumah panggung di antara rumah-rumah modern. Saya hanya memastikan apakah ini rumah khas bugis, dan mereka membernakan tebakan saya. Mereka mengatakan banyak orang-orang laut atau pelaut yang tinggal dan mendirikan rumah di sini. Tidak salah lagi, Bugis menjadi salah satu suku yang menjelajah luatan hingga membentuk koloni sendiri dan tinggal menetap di daerah tertentu.

masjid dan gereja dalam satu halaman

masjid dan gereja dalam satu halaman

Berbicara toleransi agama, saya terkagum dengan perkembangan pola pikir masyarakatnya. Agama tak lagi menjadi hal yang krusial untuk diperdebatkan, bahkan menjadi akar masalah. 90% penduduk di sini adalah kristen dan 10% muslim. Agama Islam menjadi minortas, tetapi mendapat tempat yang istimewa. Surau-surai kecil terdapat dibeberapa tempat, bahkan ada masjid yang berdiri megah disamping gereja. Saat itu kebetulan sedang azan maghrib dan saya merasakan seperti dikampung sendiri.

makan malam di quezon

makan malam di quezon

Malam itu kebetulan saya dan teman-teman mendapat undangan makan malam dari dinas pariwisata Palawan. Balai kota yang ditempat saya sekelas balai desa menjadi tempat berkumpulnya. Ruangaan sebesar 2x lapangan bulu tangkis disulap menjadi ruang jamuan makan malam. Yang membuat saya merinding sekaligus meneteskan air liur adalah sajian masakannya. Aneka jenis makanan laut disajikan dalam meja besar lengkap dengan bebuahan dan aneka macam sayuran.

Lichon atau babi guling khas Filipina.

Lichon atau babi guling khas Filipina.

“are you moslem” salah satu dari mereka bertanya? Mereka begitu menghormati tamu yang beragama Islam, karena pada jamuan makan malam ini ada menu yang tidak dimakan oleh mereka yang muslim. Lichon, jika di pulau Bali disebut dengan babi guling. Awalnya babi dibunung dengan cara di tusuk lehernya lalu dibuang bagian isi perutnya dan diganti dengan bumbu dan rempah-rempah. Selanjutnya, babi utuh ini ditusuk lubang anusnya hingga tembus ke mulut lalu dipanggang di atas bara api. Ini adalah salah satu menu khas Filipina teruntuk mereka yang tidak berpantang.

Rumah orang bugis di palawan FIlipina.

Rumah orang bugis di palawan FIlipina.

Makan malam yang luar biasa untuk sebuah kota kecil. Awalnya saya mengira yang ikut makan malam hanya para tetamu. Pada awalnya memang demikian, tetapi setelah para tamu mengambil makanan dan duduk dikursinya masing-masing maka masyarakat sekitar juga ikut berpartisipasi dalam pesta malam ini. Suasana yang egaliter, tanpa ada pembeda siapa wali kota, siapa rakyat jelata, dan siapa tamu negara. Semua larut dalam pesta tidak peduli apa agamamu, suku, ras, jabatan, yang pasti saya merasakan seperti di kampung sendiri.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Jeep Tour de Telomoyo dan Breakfast ala Chef D’Emmerick Hotel

Beratapkan tenda dan berselimutkan hawa malam yang menusuk tulang, mata ini belum juga mau terpejam. Di tenda sebelam, riuh bunyi dengkuran menandakan sang empunya tidur ...