Dewa Itu Bernama Medsos

Adat yang berbeda tidak menghalangi menari bersama.

Sepertinya rekor kecepatan cahaya 299.792.458 meter per detik sudah ditumbangkan oleh materi yang bernama Medsos (media sosial). cahaya untuk mencapai jarak 300 juta km hanya membutuhkan waktu 1 detik dengan syarat tanpa ada halangan. Berbeda dengan media sosial, hanya membutuhkan 1 sentuhan jari akan langsung secara masiv menguasai dunia. Faktanya memang demikian, terlebih lagi jika materi yang disebarkan adalah yang berkaitan dengan masalah keyakinan yang berujung dengan toleransi dan keberagaman.

Pertanyaan sederhana, apakah media sosial akan menjadi berkah atau musibah bagi toleransi dan keberagaman? Musibah atau berkah sangat tipis sekali jaraknya bahkan nampak samar karena ada gradasi warna yang susah dibedakan. Acapkali musibah itu menjadi berkah, atau berkah itu nantinya berujung pada musibah, jika sudah ditangan media sosial.

Media sosial saat ibarat dewa-dewi dalam agam hindu tersebut seperti: Brahma, Wisnu, Siwa, Agni, Baruna, Aswin, Kubera, Indra, Ganesa, Yama, Saraswati, Laksmi, dan surya yang bisa mendatangkan kebaikan, kebijakan, kemakmuran, bahkan musibah. Saat ini dunia seolah porosnya sudah dikuasai oleh yang namanya media sosial, bagaimana tidak hampir semua mengenal den memiliki.

Jika ditanya, dagangan apa yang paling laris “keyakinan”. Tidak perlu modal, tetapi akan banyak pembeli yang bisa memborong habis dagangan dan menjual lagi ke orang. Pepatah jawa mengatakan, kriwikan didi grojokan yang artinya tetesan air akan menjadi air terjun atau masalah yang kecil akan menjadi besar dan modsos menjadi pirantinya. Isu atau kesalahpahaman bisa menjadi momok yang besar dan menghacurkan yang namanya toleransi dan keberagaman.

Sebut saja Saeni, yang warung wartegnya kena razia Satpol PP. Media masa mampu menggiring sebagian opini lalu menjadi viral. Efek yang muncul dari opini yang viral tersebut membuat para netizen rame-rame saweran untuk menyumbang Saeini dan terkumpul hingga 200-an juta. Bukan masalah siapa Saeni, tetapi embel-embel toleransi dan keberagaman yang disematkan mampu membuat netizen langsung reaktif tanpa peduli permasalahan yang sebenarnya.

Medsos bak seperti dewa yang dipuja. Setiap saat mata dan jemari ini selalu menjalani ritual dan masuk dalam labirin-labirin media sosial, dan acapkali mewartakan tanpa harus berkotbah. Medsos tak lagi sebagai sarana berjejaring tetapi menjadi sarana pewarta yang efektif dan masiv. Hendak mencari dewa mana, semua ada di medsos. Urusan keberagaman, toleransi bisa menjadi dupa-dupa persembahan yang bisa mendatangkan berkah atau musibah.

Jawaban sederhana, musibah atau berkah? Kembali kepada pengguna sosial media dan aktor intelektual yang bisa memainkan media sosial. Media sosial bak senjata yang bisa diarahkan untuk membunuh, atau melindungi dari pembunuh. Kembali lagi pada tujuan pelakunya. Pepatah mengatakan mulutmu harimaumu, tetapi sekarang hati, pikiran, dan mulut berpindah dalam genggaman yang bisa dilontarkan dalam media sosial. Pesan moralnya, bijaklah menggunakan media sosial karena bisa memposisikan diri dalam ujung tanduk.

artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa.

1 uksw2

 

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sangiran, Warisan Nenek Moyang yang Diakui UNESCO

Ada sebuh cerita, dulu ditempat ini banyak sekali raksasa. Kehadiran raksasa ditunjukan dengan adanya tulang-tulang berukuran besar. Meskipun tulang-tulang tersebut tidak utuh, tetapi bisa membuktikan, ...