Kondisi hutan Kalimantan, pasca kebakaran.

Hari Bumi, Hendak Apa Kita…?

Kondisi hutan Kalimantan, pasca kebakaran.

Kondisi hutan Kalimantan, pasca kebakaran.

 

Ibu Pertiwi

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa

Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu

Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa

Berkali-kali saya memutar dan mendengarkan lagu ciptaan Ismail Marzuki – merinding, ada rasa duka yang mendalam. Bersamaan dengan peringatan hari bumi, lagu Ibu Pertiwi menjadi sebuah permenungan. Meskipun lagu tersebut hanya lagu anak-anak yang diajarkan dan dinyanyikan di bangku SD, setidaknya sudah bisa membekali generasi muda ini untuk menjaga ibu pertiwi.

Masih ingat beberapa waktu yang lalu, orang-orang pada heboh dengan baskom berisi air yang dijemur dipelataran berharap bisa menciptakan hujan. Langkah sederhana betapa anak bangsa ini mencintai ibu pertiwi, walaupun diluar nalar dan akal sehat. Tindakan yang menjadi cemoohan di media sosial, walaupun kaum haters juga tidak berbuat apa-apa.

Dulu hutan sekarang hutan, bedanya belantara dengan sawit.

Dulu hutan sekarang hutan, bedanya belantara dengan sawit.

Kisah jerebu, yakni kebakaran hutan yang masiv di Kalimantan dan Sumatera ikut menggemparkan dunia. Setidaknya negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura ikut menikmati dampak kebakaran hutan walau hanya menghirup asapnya. Mereka yang benar-benar dilokasi kebakaran tak hanya asap, tetapi banyak hal yang dirugikan. Hanya segelintir orang yang bisa menikmati bencana ini, selebihnya hanya pesta pora para korporasi dan kaum kapitalis yang sengaja membakar untuk membuka lahan.

Kemana jerebu dan asap-asap kemarin yang menjadi bahan makian banyak orang? Sudah hilang seiring pergantian musim, yakni musim hujan dan musim tanam. Tunggu beberapa waktu lagi saat menjelang musim kemaru, bersiaplah napas menjadi parau saat titik-titik api bermunculan. Semua akan kembali teriak, kembali pemerintah kadang menjadi kambing hitam yang membuat presiden sampai gusar hingga turun ke lapangan.

Haloo… kata sinis menanyakan, selama orang-orang bagaimana yang selama ini menikmati layanan ekologi yang diberikan gratis. Sebelum waktunya tiba, mana kala ibu pertiwi kembali lara ada baiknya kita menjaga. Bencana sudah berlalu, maka ada baiknya kita jangan terlena.

Sebuah anekdot lucu, andaikata pohon itu menghasilkan sinyal WIFI gratis, maka orang-orang beramai-ramai akan menanam pohon. Padahal jelas-jelas pohon bisa menghasikan oksigen gratis sebagai penyokong utama kehidupan, tetapi banyak yang lupa dan memilih wifi. Betapa fungsi ekologi saat ini sudah kalah oleh fungsi teknologi. Beberapa orang lupa, dia hidup dimana, makan dari mana, dan menghirup udara dari mana.

 

Mungkin ada yang merasa nyaman duduk di dalam kabin mobil dengan AC yang dinyalakan, padahal lupa di luar sana banyak orang kepanasan. Tidak sadar, emisi dari mobil yang juga menggerakan pendingin udara lah yang menjadi salah satu penyebab naiknya suhu. Atas nama zona nyaman, banyak yang melupakan sesama dan lingkungan.

Jika ingin mencari kambing hitam permasalahan lingkungan saat ini sangat mudah, kadang cukup berkaca pada diri sendiri. Apa yang sudah saya perbuat dengan ibu pertiwi; membuang sampah sembarangan, pemborosan energi, melanggar aturan, atau tidak melakukan perbuatan yang baik buat lingkungan, bahkan diam saja saat ada yang melukai lingkungan.

Sebuah rawa yang menopang 1 kecamatan, kini tinggal kubangan.

Sebuah rawa yang menopang 1 kecamatan, kini tinggal kubangan.

Hari bumi, hanyalah seremonial yang seharunya bisa diperingati setiap hari. Berbuat baik buat bumi, tidak melanggar aturan, bisa menjadi contoh untuk perbuhan yang lebih baik. Berbuat dari hal yang sederhana, yakni menyadarkan diri apa arti bumi bagi kita, lalu berbuat. Sudah banyak pahlawan lingkungan, tak perlulah berlomba-lomba menjadi pahlawan. Cukup menjadi pejuang mengalahkan diri untuk memenangkan ibu pertiwi, selamat hari bumi.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

2 comments

  1. Tragis dan ironis bumi kita sekaranf ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...