Durian thailand di mata penggermarnya.

Tanaman yang Mulia

Durian thailand di mata penggermarnya.

Durian thailand di mata penggermarnya.

Siang itu pak Slamet tertawa, bisa saja menertawakan saya atau menertawakan nasibnya. Sudah beberapa tahun ini jambu metenya tak seproduktif dulu saat awal-awal berbuah. Lama-lama hasilnya menurun. Pandangan kecut dia layangkan pada jambe mete milik lahan sebelah yang hasilnya memang tidak seberapa, tetapi tetap ajeg sepanjang tahun. Dia baru menyadari, jambu mete hibridanya mulai impoten, sedangkan jambu mete lokal tetangganya tua tua keladi.

Kisah pak Slamet sepertinya berbanding terbalik dengan yang terjadi di negeri gajah putih. Tanaman unggul begitu melimpah dan semakin produktif saja. Kadang memang benar, rumput tetangga kadang lebih hijau, begitu juga dengan buah tetangga lebih ranum. Tak ada buah yang tidak enak, yang tidak enak saat membayar lembaran bath saja.

Logika sederhana diajarkan petani lokal dari Sangiran-Sragen Jawa Tengah tentang budidaya tanaman transgenik. Saya di bawah naungan gubug beratap ilalang mendengar keluh kesahnya tentang lahan pertaniannya yang carut marut tidak karuan. Dulu yang lahannya penuh dengan tanaman lokal, kini sudah bertranformasi dengan tanaman transgenik, akibatnya mimpi indah awal tidur menjelang bangun muncul mimpi buruk.

Perumpamaan sederhana dia mengisahkan. Seorang anak yang tinggal dikota, diajari bertani dalam lahan yang didisain seperti sebuah desa. Anak tersebut mahir bertani layaknya orang desa. Suatu saat anak tersebut dikirim di sebuah desa yang nyata dan disuruh bertani di sana. Awalnya dia bersemangat dan begitu produktif, lama-lama tidak tahan dengan lingkungan barunya. Sebuah pilihan, kalah oleh lingkungan atau tetap bertahan dengan beradaptasi. Berbeda dengan anak-anak desa yang lahir dan besar di desa, sudah pasti sudah tahan banting karena sudah terbiasa.

Suatu hari saat orde baru, pemerintah gencar mengenalkan jambu mete hibrida. Tanaman ini dengan segala keunggulannya seperti: cepat berbuah, tahan terhadap hama, dan buahnya besar-besar. Mimpi indah akan mete yang sebesar jempol ada di angan-angan. Maka mulailah diganti jambu mete loka dengan hibrida, dan serentak menanam semua. Panen raya pun dimulai, semua berpesta karena mete yang melimpah.

Pasar merespon berbeda terhadap pesta tersebut. Seketika harga mete di pasaran anjlog. Konsumen lebih menyukai mete lokal kerena lebih gurih dan enak. Pesta pun tak berakhir manis saat menengok jambu mete di pekarangan rumah sudah ditumbangkan beberapa tahun yang lalu. Pesta-pesta berikutnya masih terasa manis, lambat laun mulai hambar karena produksi mete hibrida tak melimpah seperti dulu lagi karena mulai menua. Mete lokal yang jauh lebih tua tetap saja berbuah walau kecil tetapi tetap ada sepanjang tahun.

Sama kisahnya dengan petani yang membudidayakan kelapa hibrida yang semakin goyah dengan produksinya yang semakin menurun. Kelapa-kelapa lokal yang masih menjulang tingga sepertinya tertawa melihat kelapa hibrida yang santannya semakin mengering. Tanaman transgenik atau introduksi dari luar ternyata tidak setangguh tanaman lokal. Teori evolusi yang bisa menjadi bahan koreksi. Setiap organisme yang sudah teradaptasi dengan lingkungannya akan tetap bretahan apapun kondisinya. Ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, tanaman ini pelan-pelan menyesuaikan diri hingga ada seperti ada sekarang. Dasar sifat manusia yang serakah, yang mengingkan semua harus sesuai keinginan acapkali merecoki hukum alam. Rekayasa manusia terhadap tanaman menciptakan varietas baru yang secara waktu belum teruji. Varietas baru hanya unggul pada awalnya, selanjutnya membutuhkan waktu yang lama untuk adaptasi.

Memang benar, ilmu pengetahuan akan melahirkan sebuah perubahan. Namun, kadang lupa jika alam ini berbeda dengan hitung-hitungan di atas kertas buatan manusia. Alam lebih selektif dan mahir dalam memilih, sedangkan manusia menciptakan masih dengan segala kekurangan dan kelemahannya.

Pelajaran hebat dari seorang petani tentang evolusi dan adaptasi. Tanaman lokal, baik sayur atau buah saatnya tak lagi dipandang sebelah mata. Walaupun tanamana lokal hasilnya tidak memuaskan, tetapi urusan daya tahan jangan ditanya. Lebih baik mengupayakan tanaman lokal agar optimal, daripada mengganti dengan tanamam jadi-jadian. Namun, kembali pada sebuah pilihan saat pasar dan industri menuntut lain dan tidak ada pilihan lagi saat harus mengganti tanaman.

Sebuah permenungan, negara tetangga kita Thailand tetap bangga dengan tanaman lokalnya. Mereka tak semata-mata menanam, tetapi menempatkan tanaman sebagai sesuatu yang penting bak seorang raja. Tanaman dimuliakan, dari yang biasa menjadi luar biasa. Sebenarnya kita bisa, tetapi kenapa tidak dilakukan..?

Buah-buah unggul dari Thailand yang disajikan.

Buah-buah unggul dari Thailand yang disajikan.

 

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...