Seorang pmbudi daya rumput laut di desa kertasari sedang mengangkat rumput laut usai dipanen untuk dijemur.

Ironi Rumput Laut Kertasari

Seorang pmbudi daya rumput laut di desa kertasari sedang mengangkat rumput laut usai dipanen untuk dijemur.

Seorang pmbudi daya rumput laut di desa kertasari sedang mengangkat rumput laut usai dipanen untuk dijemur.

“Tanam jagung tumbuh gedung, tanam pada tumbuh korupsi” sebuah cukilan syair lagu yang entah siapa penyanyi dan pengarangnya. Sekilas menyimak syairnya adalah tentang cerita kegelisahan akan semakin tergusurnya lahan pertanian. Bukan hal yang aneh lagi, saat alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan, pusat perbelanjaan atau yang lainnya. Mau pergi kemana lagi petani bercocok tanam “ke laut saja” kata anak kekinian. Benar sekali, laut bisa menjadi lahan potensial untuk berladang, yakni menanam rumput laut.

Warga desa kertasari sedang menjemur rumput laut.

Warga desa kertasari sedang menjemur rumput laut.

10.000 tahun yang lalu para arkelog menemukan bukti jika manusia purba sudah mengonsumsi rumput laut. Pada abad 46 sebelum mahesi bangsa Yunani juga sudah menikmati tumbuhan yang terendam air laut ini. Bangsa Asia, terutama Asia timur adalah pengonsumsi rumput laut terbesar. Pada tahun 1899 lewat ekspedisi Sibolga, Max Weber dan istrinya van Bosse mulau mengenalkan rumput laut di Nusantara. Perdagangan rumput laut dimulai sekitar tahun 1940 di Makassar dan Surabaya. Baru tahun 1967 dimulailah budi daya rumput laut yakni di kepulauan seribu. Indonesia sebagai negara maritim, memiliki potensi yang luar biasa dalam pengembangan rumput laut.

Halaman warga kertasari penuh dengan rumput laut yang di jemur.

Halaman warga kertasari penuh dengan rumput laut yang di jemur.

Tahun 2004 untuk ke dua kalinya saya mengunjungi Karimunjawa. Saya masih teringat persis karena baru pertama kali mengenal rumput laut. dan waktu itu 1 kg rumput laut kering di hargai Rp 12.500,00. Ingatan akan rumput laut Karimunjawa hilang begitu saja lalu muncul saat mengunjungi desa Kertasari Kec. Taliwang di Sumbawa Barat-NTB. Saya berpikir harga rumput laut pasti lebih mahal dari Karimunjawa pada waktu itu. Saya tercengan saat pengakuan ibu Bungawati yang baru saja menurunkan rumput laut Euchema cottonii dari perahunya yang dihargai Rp 7.000,00 per 1 kg kering.

Desa Kertasari sangat strategis untuk dijadikan sentra rumput laut di pulau Sumbawa. Pantai yang berupa teluk dan di lindungi pulau menjadikan perairannya begitu tenang. Rumput laut dapat dengan mudah tumbuh dan berkembang ditempat ini. Dalam 1 bulan, seorang petani yang membudidayakan rumput laut bisa menghasilkan 0,2 ton sekali panen. Untuk ukuran satu desa bila ditotal mampu menghasilkan 90 ton rumput laut dengan harga jual Rp 630.000.000,00. Angka rupiah yang fantastis, namun dengan syarat semua terserap pasar dan memenuhi standar kualitas.

Bungawati mengeluhkan harga rumput laut yang hanya Rp 7.000,00/kg

Bungawati mengeluhkan harga rumput laut yang hanya Rp 7.000,00/kg

Dibalik berlimpahnya rumput laut di sini, cerita miris kadang mengiringi para pembudi daya. Tidak semua bercerita manis tentang rumput laut. Biaya terbesar yang dikeluarkan adalah upah pekerja untuk; pemanenan, penjemuran, pemasangan bibit, pencucian tali (ris) hingga pengangkutan. Tidak seberapa penghasilan yang diterima jika harus membayar beban produksi yang tidak sedikit. Alhasil angka-angka hasil hitungan matematis hanya menjadi angin surga sedengkan taraf kehidupan mereka juga tak banyak berubah.

Beruntung di Kertasari ada seorang anak muda yang memiliki inisiatif mengolah rumput laut, sehingga bisa memberi nilai tambah. Dia tak lagi menjual rumput laut mentah atau setengah jadi, tetapi menjadi produk siap untuk di nikmati. Maulan jebolan fakultas bahasa ini mampu menyulap harga rumput laut seharga 7.000 perak menjadi 5.000 perak dalam banyak kemasan. Keuntungan tentu berkali-kali lipat, bahkan saat ditemui stok dodolnya sudah menipis dan hanya tinggal beberapa saja.

Resep baksi rumput laut karya mahasiswa UNDIP

Resep baksi rumput laut karya mahasiswa UNDIP

Rasa frustasi sempat muncul hendak diapakan rumput laut yang melimpah namun berharga murah. Gayung bersambut, 6 hari paska kunjungan ke Kertasari saya diminta menjadi moderator seminar yang bertopik tentang potensi rumput laut. 2 orang pembicara yang alumni yang mengambil master di Kwansei Gakuin-Jepang sama-sama menekuni studi tentang rumput laut memaparkan dengan gamblang. Windu Merdekati memaparkan topik “Seaweed, From Ocean To The Table” yakni bercerita tentang sejarah rumput laut hingga menjadi sajian kuliner. Dia menceritakan bagaimana rumput laut memiliki banyak potensi dalam bidang pangan, farmasi, dan kosmetika. Damar Murti sebeagai penyaji kedua yang berjudul “Aneka Teknologi Pengolahan Seaweed dalam Bidang Pangan”. Dia memaparkan bagaimana rumput laut usai dipanem diolah menjadi beragam produk untuk makanan. Rumput laut dari yang sederhana menjadi agar-agar, hingga diolah menjadi bakso, nata, beras, hingga mie rumput laut.

Wajar saja mereka menekuni ini, karena tempat studinya yakni di Jepang adalah salah satu negara yang mengonsumsi rumput laut terbesar dunia setelah Korea. Menjadi pertanyaan, kurang apa dengan Indonesia dibandingkan Jepang. Bukan permasalah luas laut atau berapa banyak rumput yang dihasilkan, tetapi budaya mengonsumsi rumput lautlah yang masih kurang. Di Gunung Kidul yakni sepenjang pesisir laut selatan Yogyakarta, rumput laut hanya sebatas digunakan sebagai lalapan saja, sedangkan di Kertasari biasa sebagai urap.

Urap Rumput laut salah satu menu makanan dari warga Kertasari

Urap Rumput laut salah satu menu makanan dari warga Kertasari

Sebuah permenungan bagaimana sedikit mengubah pola pikir masyarakat jika mulai memanfaatkan hasil ladang lautan. Rumput laut tidak berbeda jauh dengan sayur mayur di darat, bahkan memiliki kandungan vitamin, mineral , serat, protein yang lebih baik. Setidaknya sejak dini harus dikenalkan sayur mayur dari laut ini yang bisa dibuat olahan apa saja, yang pasti ini menjadi ladang potensial yang tidak banyak orang garap.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

4 comments

  1. mas Dhanang.. waaah informasi inspiratif banget ttg realita rumput laut di kertasari dan indonesia. Apalagi ada sejarahnya.

    Asyiik ada bahan tulisan..

  2. Kenapa orang bule malah namain expedisi nya SIBOLGA ???? saat mengenalkan di nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...