Datsun go+ panca yang berhasil melewati kubangan.

Guratan Asa Cempaka bagi Batu Mulia Martapura

6b

Ladang tambang yang menjadi kolam raksasa

Chrysoberyl, chrysocolla, chrysoprase, hematite, jasper, kunszite, lapis lazuli, malachite, obsidian, olivine atau peridot, pyrite, tanzanite, tourmaline, dan zircon adalah jenis-jenis batu mulia. Hanya orang geologi yang menggeluti batu yang paham, sedangkan saya cukup menjadi penikmat saja. Datsun Risers Expedition etape ke-2 Kalimantan mengajak saya mengunjungi tambang intan di Martapura, Kalimantan Selatan.

Martapura, ibu kota dari kabupaten Banjar adalah kota kecil yang terkenal namanya. Buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap yang saya baca saat di bangku SD selalu menyebut nama Martapura jika mencari tambang intan. Bener saja, berjarak 7 km dari Martapura saya diajak menuju kecamatan Cempaka. Perjalanan sekitar 20-30 menit untuk sampai di lokasi penambangan intan.

6d

Datsun go+ panca yang berhasil melewati kubangan.

Jalan tanah dan berpasir dengan kubungan di beberapa tempat menjadi indikator jika sudah sampai di lokasi. Datsun go+ panca yang kami tumpangi dipaksa melewati jalan yang biasa dilewati truk-truk. Cukup berdebar-debar juga saat roda mungil ini melewati kubangan, ternyata hanya air yang tergenang dan tidal ada lubang. Bisa dibayangkan jika ada lubang, bisa berkubang semua kita. Kanan kiri sepanjang mata memandang yang ada hanyalah kolam-kolam raksasa dengan air berwarna kuning kecokelatan. Kolam-kolam raksasa ini adalah tempat pendulangan. Ada beberapa titik kolam yang masing-masing adalah daerah kekuasaan penambang-penambang yang beroprasi di sini.

Suara mesin-mesin terdengar saling bersahutan. Mesin-mesin ini bertugas menyemprot batuan hingga bercampur dengan air, kemudian menyedotnya. Batuan yang tersedot bersama dengan air kemudian dilakukang penyaringan secara bertingkat. salin penyaringan kemudian dituang dalam sebuah kubangan. Di kubangan inilah penambang bekerja untuk mencari batu dan logam mulia.

Dengan sebuah piranti mirip dengan wajan raksana mereka mendulang batu, pasir, tanah yang bercampur dengan air. Awalnya mereka mengambul endapan didasar kubangan lalu mengayaknya hingga air keluar lewat wajan besar tersebut. Mata mereka begitu jeli mengamati tiap batuan, pasir, kerikil, kericak hingga remahan-remahan lembut. Sekilas saya melihat sepertinya semua sama, tepi dimata para pendulang mereka bisa mengidentifikasi mana yang berharga mana yang tidak.

6c

Senyum kecut atau rona bahagia saat batu dan logam mulia itu tersibak dan tertangkap mata.

Senyum dan rona bahagia menyambangi mereka manakala ada batu mulia yang mereka temukan. Jika tidak ada satu pun batu mulia yang tersaring, senyum kecut mereka tahan dengan kembali mengaduk dasar kubangan untuk terus mencari peruntungan. Dalam benak penambang, mungkin berangkat dengan pas-pasan, pulang bisa jadi jutawan, atau pulang dengan hampa. Cempaka menyimpan batu dan logam mulia, salah satu harta terpendam di Martupa tempat mendulang asa.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sangiran, Warisan Nenek Moyang yang Diakui UNESCO

Ada sebuh cerita, dulu ditempat ini banyak sekali raksasa. Kehadiran raksasa ditunjukan dengan adanya tulang-tulang berukuran besar. Meskipun tulang-tulang tersebut tidak utuh, tetapi bisa membuktikan, ...