Meretas Sisi Timur Telomoyo

7

Dulunya tanah ini adalah sebuah perkampungan. Letaknya yang persis di bawah tebing, maka suatu saat bencana longsor pun terjadi. Maka seluruh penduduk desa berpindah ke daerah yang lebih aman. Jalan yang cukup lebar menjadi bukti, masih ada dusun yang bernama Pandan. Bekas dusun inilah yang menjadi salah satu pintu masuk untuk mendaki Gunung Telomoyo dari sisi timur.

Gunung Telomoyo sebenarnya tidak terlalu susah untuk mencapai puncaknya yang setinggi 1896m dpl. Ada jalan aspal yang walaupun rusak masih bisa dilalui kendaraan roda 2 atau roda 4 untuk sampai di puncaknya. Entah berapa kali saya mencapai puncak baik dengan mobil, sepeda motor, sepeda gunung hingga jalan kaki dengan jalur jalan beraspal. Kali ini ingin rasanya mencoba menggapai puncak dari sisi timur dengan jalur pendakian yang konon katanya sudah ada.

Minggu pagi saat matahari gelap dari pertigaan salaran-Kopeng berbelok kanan menuju arah air terjun kali pancur. Sebelum obyek wisata tersebut ada jalur pendakian di dusun Pandan, ds. Ngrawanm Kec. Getasan, kab. Semarang-Jawa Tengah. Informasi yang tidak begitu jelas, maka sependapat langsung menuju jalan dengan plang bertuliskan puncak.

Setelah sekitar 200m berjalan, sebuah bangunan seperti pendapa berdiri tepat di bawah pohon. Prasasti Ngrawan, salah satu benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Sejenak mengamati batu-batu besar bertuliskan dan bercorak yang samar-samar. Sekilas melihat ada lukisa dewa Shiwa. Hipotesa sederahana, ini adalah peninggalan pada masa hindu. Mungkin tak beda jauh dengan candi gedong Songo di lereng Gunung Ungaran, atau candi Dieng di dekat gunung prau. Tetapi sampai saat ini belum ada informasi yang jelas tentang prasasti ini.

Dari ketinggian 1200m dpl pendakian sebenarnya dimulai. Seperti biasanya, untuk gunung dibawah 3.000m dpl benar-benar akan membuat lutut benar-benar tersiksa. Baru beberapa langkah tanjakan curam sudah di depan mata. Saya melihat layar GPS untuk mengira-ira jalur pendakian. Sepertinya sebuah bukit harus dilewati, dan ada 4 bukit lagi sebelum sampai tepat di puncak Telomoyo.

Nafas yang terengah-engah sepertinya tak mau kompromi dengan jalur yang terjal. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya memberi tahu jika teman yang di belakang merasakan pusing dan mual. Seketika itu pula saya menghentikan langkah kaki yang sudah menginjak pos 2, sedangkan seorang teman sudah jauh di depan. Mendaki ber-3 dengan kemampuan berbeda.

Di pos 2 sambil beristirahat, tercium aroma wangi serai (Cymbopogon nardus). Tumbuhan mirip alang-alang ingi benar-benar seperti aroma terapi, tetapi di alam bebas. Namun, wewangian tersebut rusak oleh pemandangan yang kurang menarik versi saya. Semalam saya dan kawan-kawan berbincang-bincang dengan salah seorang anggota Polsek setempat. Dia menceritakan bahwa beberapa waktu yang lalu Gunung Telomoyo terbakar di sisi timur. Cerita yang tak beda jauh dengan kejadian akhir-akhir ini di beberapa gunung di Jawa yang mengalami kebakaran.

Kata terbakar menunjukan ketidaksengajaan. Fakta di lapangan yang saya lihat bukan terbakar, tetapi dibakar. Beberapa titik api terlihat dari sisa-sisa pembakaran. Tumpukan daun-daun kering dikumpulkan lalu dibakar. Banyak sekali titik-titik yang siap dibakar dan ada juga yang sudah dibakar. Tindakan ini adalah sebuah kesengajaan. Acapkali dalam kondisi saat ini saya berani bertaruh, bahwa kebakaran di gunung yang mengkambing hitamkan puntung rokok dan api unggun pendaki adalah kurang tepat.

Ada faktor kesengajaan untuk membakar lahan di gunung. Alasan sederhananya adalah mencari rumput. Saat ini ladang susah penuh sesak dengan tanaman produksi tak ada lagi rumput yang tumbuh dalam jumlah yang banyak. Di sisi lain petani juga merangkap menjadi peternak dan harus menyediakan rumput setiap harinya. Mereka merangsek hingga ke gunung untuk mendapatkan rumput. Menjelang musim hujan, maka mereka akan memupuk rumput liar tersebut agar saat hujan datang bisa tumbuh subur. Pemupukan sederhana adalang dengan menabur abu, maka dibakarlah dan tanpa mengeluarkan biaya dan tenaga. Soal kerusakan lingkungan mungkin menjadi nomer kedua, tetapi yang penting perut sapi kenyang.

Tidak akan selesai jika mendebatkan siapa yang salah, termasuk saya yang melihat dari sudut seperti itu. Sampai saat ini tidak ada barang bukti puntung rokok dan api unggun yang ditemukan saat kebakaran hutan, dan hanya menjadi bualan media yang kadang tanpa ada investigasi dalam melaporkan. Mari kita lanjutkan pendakian menuju pos 3.

Jalur menuju pos 3 ternyata lebih menanjak lagi. Lutut yang sudah bergetar tak ada ampun lagi. Sebelum memasuki pos 3 terdapat tumpukan batu-batu besar yang oleh penduduk setempat dikeramatkan. Sebuah papan nama menjelaskan tentang mitos batu tumpuk watu 3. Diceritakan jika batu tersebut menjadi tempat bertapanya baru klinting, yakni naga yang menguasai rawa pening. Selain ada legenda ada cerita juga bahwa ditempat ini juga di gunakan oleh mantan presiden Soekarno untuk meditasi.

Pos 3 sampai juga akhirnya. Sebuah puncak bukit pertama sudah kami lalui. Dari puncak bukit ini masih terlihat 3 bukit yang harus di daki. Puncak telomoyo juga sudah terlihat. Di bawah pos ini terdapat air terjun dan samar-samar terdengar suara aliran airnya. Sepertinya tidak bisa berlama-lama di sini sebab masih ada jalan terjal untuk di daki.

Jalam turun yang curam lalu menjanjak tajam. Kekuatan kaki, nafas dan mental benar-benar di uji. Berat ransel 40 liter memang tidak seberapa di punggung, tetapi lutut ini minta istirahat. Beruntung membawa kamera sebagai alasan untuk berlama-lama memandang keindahan alamnya. Kembali langkah tertating dengan tongkat trekking yang membantu kaki ini melangkah dan menjaga keseimbangan. Perlahan namun pasti bukit ke-2 sudah terlampaui. Dari bukit ini terdapat patok yang menjadi tanda tapal batas Kabupaten Semarang dan Magelang. Saatnya berpindah kabupaten dengan sekali lompatan.

Bukit terakhir menjadi ujian pendakian ini. Padang Cymbopogon nardus mendominasi sepanjang perjalanan membuat seperti di padang ilalang. Akhirnya sampai juga di bukit terakhir sebelum puncak menjelang. Mata ini terkejut saat melihat puncak bukit terdapat sebuah tenda dari terpal biru dan ada 5 pasang kaki terjulur keluar. Kaki-kaki mungil namun kekar terlihat pasrah dibawah peraduan tenda.

Mereka adalah anak-anak dusun Pandan yang sedang membuat jalur pendakian. Bocah berusia belasan tahun ini mengaku sudah 2 hari ditempat ini. Sisa perapian yang masih menyisakan bara ada didepan tenda. Singkong dan keladi menjadi ransum selama mendaki. Termos air panas tergeletak di sudut tenda. Sepatu dan sandal berserakan di pelataran tenda. Sesaat kami menawarkan air mereka begitu girangnya, ternyata persediaan air mereka telah habis.

Akhir dari sebuah pendakian. Awalnya mendaki bertujuan menuju puncak, tetapi esensinya adalah bagaimana kembali dengan selamat. Mount not altitude but attitude, kata bijak untuk mengakhiri pendakian ini. di tempat ini adalah titik terakhir pendakian, selebihnya sudah tidak ada jalan. Bisa saja dipaksakan untuk menggapai puncak, tetapi sepertinya bukan untuk hari ini.

Trangia sudah menyala dan air dalam ceret siap didihkan. Teh, batangan tebu dan serai alam akan menjadi harmoni menikmati pagi. Aroma harum teh berbaur dengan wangi serai dan dibalut manisnya gula pasir dan tebu. Teh yang hangat ini adalah sesuatu yang benar-benar nikmat pagi ini tepat di bawah puncak yang belum tergapai. Minum teh bersama sebagai tanda, i was here.

Kaki melangkah pergi dan saatnya meninggalkan bocah-bocah pandan yang melanjutkan niatnya. Bukit ke-3 sudah terlewati dan bukit ke-2 hendak di jelajahi. Kali ini ingin turun dengan jalur berbeda. Seorang teman sudah turun duluan dan ingin mengambil jalur di tepi jurang, sedang teman satunya masih memotret di belakang. Saya mencoba menyusul teman di depan tetapi sudah ketinggalan, dan teman di belakang sudah hilang dari pandangan. Apakah mereka yang hilang atau saya yang hilang. Hanya satu tindakan, berhenti dan tenang sebab perjalanan masih jauh di depan.

Foto dok.pri

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. kira kira tulisan sama edelweisnya masih ada gak ya mas?

  2. wah wah, sampe ditulis jangan dipetik edelweisnya gitu 😀 kayaknya banyak tangan-tangan jahil ya?

  3. Telomoyo dkt ambarawa y mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bangkit Setelah 300.000 Tahun Terkubur

Saya membayangkan tanah Jawa sekitar 300.000 tahun yang lalu. Sebuah hutan hujan tropis yang lebat dengan pepohonan seperti pencakar langit. Di angkasa berterbangan kepak-kepak sayap ...