Goa Latea Bersemayamnya Leluhur Orang Poso

latea6

Pintu gerbang yang suram terkesan mencekam saat sebuah bukit kecil berdiri di tepian danau poso. Bukit yang sebenarnya memiliki arti budaya jika ditelisik lebih dalam. Kini bukit kecil itu hanya menjadi saksi bisu masa lalu. Sebuah bukit dengan batuan sedimen yang indah, begitu kaki melangkah menuju mulut goanya yang kecil. Goa Tangkaboba atau latea demikian orang pamona memberi nama goa ditepian danau poso ini.

Pada jaman dulu orang Pamona yang berasal dari bukit Wawelembo merupakan suku asli penduduk Poso memakamkan leluhurnya dengan meletakan dalam peti lalu menyimpannya dalam goa. Kegiatan ritual pemakaman seperti ini memang lazim di palau Sulawesi. Adat pemakaman masyarakat Toraja di Rantepao-Sulawesi Selatan juga demikian, tetapi mereka meletakan peti mati di dinding-dinding batu yang dilobangi menjadi goa.

Sebuah mulut goa yang hanya bisa dimasuki satu orang saja, itupun sambil menunduk menjadi pintu masuknya. Di dalam goa yang gelap sudah dibuatkan jalan setapak dengan cara membuat lintasan dari semen. Begitu sampai di dalam dinding-dinding batu gamping dari goa terlihat seperti goa kapur. Stalagtit terlihat terbentuk dengan bentuk beraneka pola.

Seberkas cahaya terlihat dari atap goa yang berlobang. Saya membayangkan bagaimana jika ada ada cahaya matahari yang menyorot ke dalam menembus uap-uap air dari dasar goa. Ray of light yang indah akan terurai di dalam goa. Lamunan saya buyar ketika melihat ada tumpukan tulang belulang di sisi kanan jalan. Tumpukan tulang ini adalah salah satu dari sekian banyak kerangka yang disimpan dalam goa ini.

Di dalam goa ini ada 2 mulut lagi yang menjadi tempat penyimpanan peti jenazah dari leluhur orang poso. Ritual yang berhenti saat adanya misionaris dan memberi ajaran baru tentang budaya pemakaman. Saat penemuan situs ini terdapat 4 pasang peti mati dengan 36 tengkorak dengan sendok dan tempurung kelapa sebagai bekal kuburnya. Pada goa yang kedua ditemukan 17 pasang peti mati dengan 47 tengkorak. Bekal kubur pada goa yang kedua berupa; manik-manik, gelang perunggu, poerselen, dan perhiasan dari perak. Pada tahun 1994 situs ini dipugar oleh pemerintah daerah dan menjadi obyek wisata sejarah.

Goa yang terletak di Sangele-Tentena tepat berada di tepian danau Poso yang indah. Mulut goa yang ada di lereng bukit bisa menyaksikan danau poso dari sisi selatan karena setelah sebelumnya melintasi jembatan pamona yang membelah sungai poso. Akhir dari perjalanan ini seolah dibawa ke masa lalu bagaimana budaya pemakaman sudah memberi penghormatan pada leluhur dengan menampatkan jenazah peti mati, menyimpan dalam goa dan memberi bekal kubur. Konon awalnya antropolog menyangka bahwa orang Pamona dan Toraja adalah satu keturunan karena memiliki budaya yang sama. Goa Latea menjadi bukti peradaban masa lalu bagaimana menghormati leluhurnya.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. Sendok dan tempurung kelapanya buat apa ya mas?
    Itu pintu masuknya kayak di film2 horror.

  2. Berarti kebudayaan leluhur orang poso hampir mirip dengan kebudayaan orang toraja ya mas dhave? Mereka menyimpan jenazah di dalam gua juga kan? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bangkit Setelah 300.000 Tahun Terkubur

Saya membayangkan tanah Jawa sekitar 300.000 tahun yang lalu. Sebuah hutan hujan tropis yang lebat dengan pepohonan seperti pencakar langit. Di angkasa berterbangan kepak-kepak sayap ...