Telusur Nadi Kali Pancur

DCIM123GOPRO

DCIM123GOPRO

Sekuat tangan ini menarik carmantle statis berdiameter 8mm. Nyaris tak bergeming, saat kembali mencoba menarik tali yang memiliki kekuatan 1,4 ton berharap bisa lepas dan terurai dari simpulnya. Sepertinya ada yang menyangkut, saya pun memanjat dinding air terjun setinggi 25m untuk melepaskan tali yang tersangkut. Benar saja, sesampai di puncak air terjun, simpul tali tersangkut dicelah batu. Baru saja hendak melepas simpul tersebut, tetiba 2 teman saya menyusul di belakang. “Kalian mengapa menyusul..?” tanya saya, mereka serempak menjawab “kami pengen turun sekali lagi“. Canyoning ternyata membuat tuman/ketagihan 2 teman saya yang baru pertama kali saya ajak.

14331406042103220802

Semalam hujan deras, dan pag ini Kali Pancur bajir lumpur (dok.pri).

Semalam dengan lebatnya hujan mengguyur badan Gunung Telomoyo. Prediksi saya, sungai-sungai di Kaki Telomoyo akan besar debit airnya dan deras alirannya, sebab esok akan canyoning, yakni menyusuri sepanjang aliran sungainya. Sepertinya saya sudah ke-5 kali menyusuri kali pancur ini, namun tiap kali mengikuti alirannya selalu mendapatkan nuansa yang berbeda dan menjadi alasan mengapa kembali menikmati tiap lekukan dan alirannya.

Bertiga kami menuruni anak-anak tangga dari gerbang Kali Pancur menuju air terjunnya. Karcis seharga 2000 rupiah menjadi tarif yang sangat murah untuk menikmati alam di sana. Ratusan anak tangga kami turuni satu persatu. Dinding sebelah kiri jalur terjadi longsor di beberapa titik, sepertinya efek hujan deras beberapa waktu yang lalu. Benar saja longsor, sebab tanah dan lereng di sana hanya ditumbuhi oleh rumput gajah tanpa ada perakaran tanaman keras yang mempu menahan erosi.

14331406601026331446

Satu persatu kami mengarungi sungai, walau kadang harus dengan tambahan tali pengaman (dok.pri).

Wet Suit segera saya kenakan sebagai pakaian yang mampu menjaga suhu tubuh. Canyoning yang besar waktu dihabiskan di dalam air selama berjam-jam sangat rentan terkena serangan hipotermia atau kehilangan panas tubuh. Sangat disarankan mengenakan wet suit sehingga bisa menjaga suhu tubuh agar tetap hangat. Perlengkapan wajib selanjutnya adalah seat harness untuk mengamankan tubuh saat turun dari air terjun. Perlengakan yang terakhir adalah helm dan perlatan panjat tebing berupa; descender, ascender dan beberapa cincin kait dan tali carmantle.

Canyoning hingga saat ini belum begitu populer di kalangan masyarakat. Medan yang menantang terkadang menjadi hambatan, tetapi juga dengan peralatan yang bisa dibilang cukup mahal. Persoalan tidak sampai disitu, tetapi kemampuan seseorang juga perlu karena harus memiliki kemampuan fisik yang baik dan menguasai seluk beluk tali temali dan skill panjat tebing. Tidak semua harus memiliki, tetapi bagi mereka yang jalan paling depan, tengan dan belakang harus memiliki bekat tersebut akan bisa menjaga mereka yang tidak bisa.

Perlahan kaki ini masuk dalam aliran air sungai yang berwarna cokelat tanah. Sepertinya di hulu sedang ada hujan lebat dan mengikis tanah dan larut dalam air. Memang agak risi masuk dalam aliran sungai berwarna cokelat, tetapi beberapa anak sungai yang masuk mampu mengencerkan warna cokelat menjadi sedikit pudar dan dibeberapa titik sudah ada yang jernih.

Untuk melintasi Kali Pancur minimal akan melewati 5 air terjun dengan ketinggian bervariasi. Dari ketinggian 5m ada dua, dan 1 setinggai 15 meter dan ada 2 air terjuan dengan ketinggian 25m. Menuruni air terjuan sangatlah menantang, sebab selain hambatan berupa ketinggian ada hambatan lain yakni batu yang licin dan aliran sungai yang kencang. Jika sudah masuk dalam aliran airnya bisa saja nafas ini terasa susah karena seperti tenggelam dalam air. Antisipasinya adalah dengan membentuk sudah 45 derajat agar kepala keluar dari aliran air dan kaki masih berpijak pada dinding air terjun.

1433140736445644940

Jeram demi jeram kami turuni, tentu saja faktor utama adalah keselamatan (dok.pri).

Awalnya cukup sulit mengajari 2 teman yang baru pertama menikmati kegiatan ini. Namun, setelah 2 kali menuruni air terjun mereka sudah lancar rapeling dengan berbagai hambatan. Begitu menikmatinya mereka sempat ingin mencoba turun air terjun sekali lagi dengan cara memanjat dinding air terjuan. Sebuah tindakan berbahaya hanya kerena penasaran dan ingin kembali merasakan sensasi ulang.

Aliran sungai semakin deras dan semakin deras pula adrenalin yang terpompa. Namun perlu diingat jika penelusuran masih beberapa jam lagi, sedangkan tubuh-tubuh terlihat sudah menggigil. Seperangkat alat masak kami keluarkan untuk mendidihkan air. Di bawah air terjun, kali ini hanya kami bertiga yang menikmati teh tarik panas sembari ditemani deburan suara air terjun yang menghempas bebas. Kami sangat beruntung karena sungai mengijinkan kami bertiga untuk menjadi tamu istimewanya.

Kembali badan sudah hangat dan rasa lelah sudah hilang. Adrenalis saatnya kembali membuncah manakala masih tersisa 2 air terjun lagi yang menantang. Satu air terjuan nampak biasa karena hanya berupa aliran saja, namun yang satunya memiliki aliran yang deras dan di dalamnya terdapat rongga. Sebuah pohon Aren/Enau kami jadi kan tambatan untuk tali kami sebagai anchor emas sebab di sana tidak yang bisa dijadikan tambatan.

14331408191746388278

Salah satu kenikmatan makan di alam adalah memanfaatkan alam itu sendiri (dok.pri).

Perlahan-lahan saya sebagai orang pertama turun dengan pelan sambil memeriksa keamanan jalur. Ini adalah jeram yang paling saya takuti. Alirannya cukup deras sehingga kadang susah untuk bernafas. Kepala rasanya mau dihajar manakala helm ini dihujani oleh aliran air terjuan. Sebuah batu berbentuk teras langsung membentuk posisi over hanging atau menggangung. Kali ini tidak ada pegangan kecuali hanya seutas tali. Ambil nafas panjang lalu turun dengan pelan dan tak berapa lama akan bernafas kembali saat melihat rongga goa di balik air terjun.

Usai menikmati lorong air terjuan harus segera menepi jika tidak ingin masuk dalam jeram air yang dalam dan merip mesin cuci karena pusaran airnya. Sempat sebelumnya terjebak di dalamnya, tetapi wet suit yang mampu membuat saya mengapung kembali muncul kedalam permukaan. Sepertinya lain kali di tempat ini harus mengenakan pelampung. Perlahan-lahan teman-teman saya menyusul dan merasakan sensasi yang sama seperti saya, mungkin mereka lebih karena baru pertama kali.

Akhirnya penelusuran akan segera berakhir saat sebuah dinding di kiri sungai menghujani kami dengan tetesan air mirip hujan. Dinding berwarna hijau karena ditumbuhi rerumputan pioner seperti hutan vertikal dengan hujan yang lebat. Dari atas dinding tebing setinggi 25m adalah ujung air terjun dan aliranya menghempas ke bawah dan berubah menjadi butiran-butiran air mirip hujan. Kami bak berdiri di bawah teras rumah dengan hujan lebatnya, padahal sedang berada di aliran sungai. Tidak terbayangkan bagaiaman aliran sungai ini begitu dalam terbentuk hingga ada 2 dinding raksasa yang mengapit kami.

14331408761849128451

Akhir dari sebuah penelusuran adalah menikmati tetesan air terjun yang menjadi rintik hujan, dan itu tuman (dok.pri).

Aliran sungai kini sudah pelan dan tak ada lagi jeram, lalu kami menepi. Kembali seperangkat dapur portabel kamu keluarkan untuk membuat mie instan untuk menambah tenaga sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju ujung desa yang masih 1,5 jam perjalanan. Usai berganti pakaian kering, kami melangkahkan kaki menyusuri hutan dan sawah milik penduduk hingga menjumpai perkampungan. Akhirnya jalan raya sudah kami temukan dan saatnya kembali kerumah, di sela-sela penuh sesak angkutan salah seroang teman bertanya “kapan kita canyoning lagi”, jawab saya “tuman“.

Video ada di Sini.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bangkit Setelah 300.000 Tahun Terkubur

Saya membayangkan tanah Jawa sekitar 300.000 tahun yang lalu. Sebuah hutan hujan tropis yang lebat dengan pepohonan seperti pencakar langit. Di angkasa berterbangan kepak-kepak sayap ...