Mimpi Tentang Rinjani, Akhirnya Bisa Bermimpi di Tempat Ini

Tanah impian para pendaki, yang ingin bermimpi ditempat ini (dok.pri,  foto oleh Andi P).

Tanah impian para pendaki, yang ingin bermimpi ditempat ini (dok.pri, foto oleh Andi P).

Setiba di terminal Bertais buspun berhenti, dan kaki menginjkan kaki di tanah impian para pendaki. 3 hari sebelumnya, kepastian teman untuk berangkat itupun pupus dan memaksa saya berkelana seorang diri. Ransel ukuran 120liter, tas pinggang dan tas selempang menjadi teman setia selama perjalanan ini. Sempat tertipu calo bus di terminal bungur asih Surabaya, hingga harus membayar sedikit lebih mahal dari harga normal. Setiba di Denpasar kembali di beri harapan palsu oleh agen bus jurusan lombok. Jadwal semula pukul 10 pagi hingga harus rela menunggu pukul 1 dini hari, itupun tiket cadangan. Saya bertemu dengan bapak yang terpisah dengan anaknya karena berbeda bus dan akhirnya saya merelakan menukar tiketnya dengan punya saya agar dia bisa jadi 1 bus dengan anaknya, sambil menerima secarik kartu nama. Awal perjalanan di tanah impian para petualang.

Perjalanan berlanjut dari bertais menuju Bumbung Sembalun. Bahasa sasak yang tak saya mengerti , sepertinya mengandung konspirasi. Benar saja, beberapa kali saya harus berpindah-pindah armada. Armada yang terakhir membawa saya menuju Masbabagik sebelum sampai lanjut ke Sembalun. Di sinilah saya bertemu dengan pendaki asal Mataram yang nantinya menjadi kawan selama bertualang di istana dewi Anjani.

Mimpi saya... dan saya bermimpi ditempat ini (dok.pri).

Mimpi saya… dan saya bermimpi ditempat ini (dok.pri).

Gegar budaya benar-benar saya rasakan di sini dan mengharuskan saya segera beradaptasi. Berangkat dari jawa tengah dengan masakan yang manis dan tidak pedas, namun ketika tiba di sini lidah langsung tersengat, keringat mengucur, air mata menetes dan perut bergejolak. Makanan yang berasa asin dan pedas, itu yang hanya bisa saya rasakan. Entah dimana enaknya, saya hanya berpikir perut saya harus terisi dan kenyang.

Perjalanan berlanjut menuju sembalun lawang. Hutan lebat dan beberapa ekor kera ekor panjang berlarian kesana kemari. Sungguh pemandangan yang langka, menurut penglihatan saya. Saya hanya bisa berguman “benar-benar tanah impian petualang”. Begitu sampai jalan yang terbuka, mata ini terpesona akan keindahan alamnya. Bukit-bukit yang menguning kelihatan jelas seperti pelana kuda. Saya hanya berimajinasi seperti chocolate hill di bohol-Filipina, tetapi bagi saya lebih cocok dengan mentega hills karena warnanya yang kuning saat musim kemarau.

rin2

Mana kala Rinjani di depan mata (dok.pri).

RInjani di depan mata dan saatnya melangkahkan kaki usai mengurus administrasi. Saya berjalan pelan dengan pendaki dari Mataram. Beberapa lembar kertas hasil unduhan dari internet akan memandu saya menuju plawangan sembalun, puncak rinjani, segara anak, plawangan senaru hingga senaru. Langkah gontai manakala beban itu saya pikul sendiri, sebuah tantangan sebelum memasuki gerbang dewi Anjani.

Beratnya langkah memaksa saya membuka tenda di pos 2, karena waktu sudah menjelang malam. Gemintang dimalam hari memberikan nuansa yang benar-benar beda. Suasana gelap gulita, namun bisa menyaksikan kerlap-kerlip langit. Saya tersadar saya sedang tidur di hamparan savana nusa tenggara barat, benar ini adalah pesona pulau lombok yang sebelumnya hanya menjadi impian, tetapi saat ini saya bisa bermimpi ditempat ini dalam pelukan kabut dewi anjani.

Malam terlewati manakala mentari pagi menyinari. Saatnya mempersiapkan diri untuk kembali mendaki dan 2 jalur sudah menanti, manakala jalur penderitaan dan penyesalan menawarkan diri. Saya memilih penderitaan dari pada penyesalan karena sama-sama menderita. Kontur pulau lombok memang tiada duanya, dan saya berpikir inilah jalur terpanjang dalam pendakian. Beberapa bukit harus saya tempuh untuk sampah di bibir atas segara anak yang dinamakan Plawangan sembalun. Butuh waktuh hampir separo hari untuk menyelesaikan perjalanan ini. Untung saja hutan pinus begitu baik hati memberikan teduhan kanopi dan semilir angin menyegarkan kepenatan.

Sore menjelang ketika kaki menjejak di sambut Gunung Agung dari kejauhan. Sungguh pemdangan luar bisa, dan saya bilang inilah tanah perjanjian buat mereka yang berani menaklukan diri. Malam ini saya akan menginap ditempat ini sebelum esoknya bertandang di istana dewi anjani. Larut malam suara pendaki yang berdatangan semakin banyak dengan satu tujuan. Akhirnya malam ini saya terbenam dalam buaian mimpi dan rasa lelah yang teramat sangat. Malam terasa cepat berlalu manakala pukul 03.00 harus bangun dan bersiap menuju puncak.

rinjani1

Masih jauh di sana (dok.pri).

Langkah awal yang berat manakala kaki harus melangkah di hamparan pasir yang labil. Inikah rinjani yang semalam menjadi tempat saya bermimpi. Perlahan-lahan kaki ini melangkah sambil menarik napas dalam-dalam. Semburat warna merah merona di ufuk timur memacu saya untuk melangkah menuju titik tertinggi di pulau lombok. hampri 2 jam saya terseok-seok dan akhirna menginjakan kaki di pelataran dewi Anjani. Seluas mata memandang, hanya kagum dan senyum-senyum simpul sambil bersenandika “inilah Indonesia, inilah Nusa tenggara, dan inilah Rinjani” dak kamera segera bekerja untuk melukis keindahan alam ini.

rin5

Saatnya menuju taman sari (dok.pri).

Kini saatnya melanjutkan langkah menuju taman sari dewi anjani, yakni segara anak. Dapur mengepul dari gunung baru jari membuat suasana semakin menambah pesonanya. Kaki melangkah di lereng-lereng tebing yang mengharuskan konsentrasi dan kesemimbangan. Butuh waktu 4 jam untuk menepi danau indah ini dengan melewati batuan tebing dan hutan. Kini rasa penat itu musnah sudah makala birunya air danau memanggil untuk segera menepi.

Tenda berdiri tepat di tepi danau sambil membayangkan saya orang paling bahagia sedunia. Sendirian di dalam tenda, sambil melihat luasnya danau alam dari kaldera ini. Sumber air panas layaknya spa, membuat saya begitu dimanja oleh rinjani. Sungguh layanan alam lebih dari sekedar hotel bintang lima. Saya baru ingat ada teman dari mataram yang menawarkan ikan. Malam ini kita akan pesta ikan dari segara anakan sampai larut malam sambil ditemani cahaya bintang.

rin4

Saat halimun mulai tersibak saatnya menyaksikan pesona taman sari dewi anjani (dok.pri).

Pagi hari manakala halimun sudah tersibak saatnya saya harus segera berkemas meninggalkan taman sari dewi anjani. Langkah selanjutnya adalah gerbang senaru dimana harus memanjat dinding kaldera rinjani. Sungguh berat medan ini, kerena jalur yang curam, menanjak dan sempit. Berpapasan dengan pendaki adalah bagaiman menghormati sesama pejalan kaki dengan mendahulukan mereka yang kesulitan. Inilah alam mengajari kami untuk saling tolerasni, dan rinjani adalah sekolahannya.

Sesampai di gerbang harus segera bergegas sebelum gelap malam datang. Hutan alam yang lebat menjadi tabir surya yang menyejukan kepala. Akhirnya malampun tiba seiring dengan nyanyian mahluk nokturnal yang mengudara seantero hutan. Saya begitu senang, alam ini masih seimbang dengan ditandai nyanyian alamnya. Tak terasa hutan sudah terlewati dan saatnya memasuki pelataran rumah pendakian untuk melemaskan badan.

Pagi-pagi ayam berkokok menandakan segera saya harus segera pindah. Selembar kertas yang saya dapatkan di terminal ubung Denpasar saya baca baik-baik. “Ah yang benar saja, ini saya dengan seorang pejabat” dalam hati kecil saya, sebab dia berpesan suruh hubungi manakala sudah turun gunung. Dengan kendaraan yang mirip diskotik berjalan saya menunpang untuk melanjutkan perjalanan hingga sampai ampenan. Dari sebuah wartel saya mencoba menghubungi, dan benar saja saya tidak boleh kemana-mana sebelum mobil jemputan datang. Saya disambut bak keluarga barunya begitu memasuki rumah gedongnya.

Rinjani dan saya bisa bermimpi ditempat in (dok.pri).

Rinjani dan saya bisa bermimpi ditempat in (dok.pri).

Berapa lama saya diajak berkeliling ampenan dan di daratkan di pantai senggigi sambil menikmati sajian khas pantai. Sebuah keramahan penduduk mataram yang tak saya bayangkan dengan orang-orang diterminal. Saya merasa aman dan nyaman dengan mereka. Sepertinya mereka mendapatkan sodar baru dari tanah jawa dan saya begitu bahagia sudah masuk dalam lingkupnya yang penuh kehangatan. Waktu berlalu dan harus memisahkan kita. Mobilnya mengantarkan saya pada pelabuhan lembar dan saya hanya berterimakasih dan melambaikan tangan. Terimakasih teman, nusa tenggara, lombok, dan rinjani. Kini saya tak lagi mimpi, tetapi bisa bermimpi ditempat ini.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. good luck ya…
    slm knl dr lombok..:)

  2. Ikut menikmati keelokan segara anakan melalui postingan ini. Trim ya telah berbagi nirwana Anjani di Rinjani. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bangkit Setelah 300.000 Tahun Terkubur

Saya membayangkan tanah Jawa sekitar 300.000 tahun yang lalu. Sebuah hutan hujan tropis yang lebat dengan pepohonan seperti pencakar langit. Di angkasa berterbangan kepak-kepak sayap ...