Resto Apung Sungai Loboc Bohol-Filipina

IMG_1722

Bangun pagi-pagi buta. Mengemas seluruh barang dan segera pergi sarapan. Berlari sambil menggendong ransel dari bus menuju dermaga dengan kondisi hujan. Kapal cepat yang bersandar sudah bersiap untuk berangkat. Sebuah perjuangan agar tidak terlambat dan bisa masuk dalam kapal cepat. Akhirnya kapal bisa terkejar sebelum angkat sauh dan mendapat tempat duduk yang nyaman. Tiba-tiba ada sebuab pengumuman yang mengharuskan untuk segera turun kapan, sebab ada kawan yang masih tertinggal di hotel. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perjuangan ini pupus, harus keluar sambil dilihat penumpang lain yang mengumpat. Tetapi apapun yang terjadi harus tetap bersama, sepenggal kisah saat hendak bertualang dari Cebu menuju Bohol.

Malam itu kami diajak kesebuah tempat dan katanya gedung paling tinggi di Cebu. Skywalk di Crown Regency Hotel and Towers. Dari namanya yang saya artikan jalan di awang-awang sedikit merinding manakala melihat puncak gedung. Malam pun datang dan rintik hujanpun datang, maka kami harus menyelesaikan salah satu perjalanan ini. Psikosomatis akan fobia ketinggian membuat tangan ini berkeringat saat lift transparan membawa kami menuju lantai atas. Kerangka gedung terlihat jelas dari dinding kaca yang tembus pandang membuat merinding saat naik menuju lantai paling atas.

Skywalk setinggi 125,55m menjadi wisata pemicu adrenalin di Cebu. Bagi mereka yang suka tantanan ekstrem, maka tempat ini sangat tepat untuk memuntahkan adrenalin. Setelah mengisi biodata yang berisi ketersedian mengikuti wisata ekstrim sekaligus menaati peraturannya. Sebuah ruangan di persiapkan dan kami harus mengenakan wearpack berwarna merah muda. Sepatu kami harus di ganti dengan sepatu kusus agar tidak licin atau membuat kaca tergores. Jika tidak memakai sepatu maka harus memakai kaus kaki untuk menghindari cidera kaki.

141032483163965157

Menikmati Cebu dari ketinggian (dok.pri).

Usai memakai wearpack kami harus mengenakan fullbody harness sebagai pengaman tubuh dua buah cincin kait berulir. Kami satu persatu di ikatkan pada sling baja yang dikaitkan dengan rel yang ada di atap. Kami lalu dibawa di tepian jalur skywalk yang terbuat dari kaca tembus pandang, Benar-benar seperti berjalan di angkasa. Pemandu kami kadang isengnya muncul dan mendorong tubuh ini hingga di bibir jalur. Di depan mata pemandangan kota Cebu terlihat memukau dan apalagi saat melihat ke bawah dari ketinggian lebih dari 125m. Kami berjalan mengelilingi menari sekitar 15 menit dengan keringat yang mengucur deras.

Permainan belum selesai di sini. Kami harus menaiki edge coaster. Kami berjakalan di atap menara dan tersedia coater dengan 2 tempat duduk. Awalnya kami mengira diajak berkeliling melihat pemandangan kota Cebu dari titik tertingga saat coaster berjalan pelan. Tiba-tiba coaster berjalan kencang dan sampai di ujung terluar jalur, tempat duduk kami dimuntahkan 55derajat. Sontak sedari tadi duduk nyaman, serasa terlempar. Dalam posisi hendak jatuh kami dibawa berjalan untuk memaksa tubuh kami melawan gravitasi dan mata melihat bawah gedung. Saya hanya berpikir kapan rintangan ini segera selesai daripada keringat habis menetes. Malam ini cebu menguras keringat kami dengan atraksi wisata adrenalinya dan saatnay istirahatr sebab esok kami harus berlayar menuju Tagbilaran di Bohol.

Morning call membangunkan tubuh yang semalam dehidrasi. Saatnya mandi, berkemas dan menikmati segelas teh hangat. Usai sarapan lalu segera bergegas menuju bus yang sudah menunggu. Kami mengejar kapal cepat yang akan menuju Bohol yang berangkat pukul 08.00. Upaya mengejar kapal cepat berhasil, namun sayang 4 rekan dari India dan Malaysia masih di hotel. Sontak kami harus turun dari kapal dan segera kembali ke hotel untuk menjemput teman-teman. Tidak bisa bayangkan reaksi mereka satu persatu menyikapi kejadian ini.

14103248941819307024

Sajian musik dari kaum tuna netra menghibur penumpang di ruang tunggu pelabuhan Cebu (dok.pri).

Kapal selanjutknya akan berangkat pukul 14.00. Kami ada waktu 6 jam untuk menunggu kapal, dan tidak bisa dibayangkan betapa gusarnya kami. Akhrinya kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu Mall di Cebu sekedar untuk berjalan-jalan menghabiskan waktu. Pilihan yang kurang pas buat saya, karena bisa ngilang dijalanan dan kini dipaksa memasuki kawasan jetset. Kami memutuskan untuk jalan-jalan sendiri dan ketemu pada titik semula pukul 12.00.

Saya berjalan dari gerai ke gerai. Akhirnya mata saya tertahan di sebuah gerai yang menjual paralatan alam bebas. Saya tertarik akan poster tentang lomba lari lintas alam sejauh 100km. Katanya dalam brosur tersebut lombanya akan naik turun gunung, padahal di sana sangat minim dataran tinggi. Saya teringat Indonesia yang dikaruniai banyak gunung dan medan yang menantang, tetapi event serupa jarang ada. Baru-baru ini di adakan lari lintas alam di Gunung Rinjani, Semeru, dan Bromo. Saya kagum bagaimana pemerintah Filipina bisa menjual potensi daerahnya menjadi sesuatu yang menarik dan banyak orang asing berbondong-bondong datang kesana. Indonesia tak kalah menarik, bahkan lebih bagus menurut saya.

4 jam berlalu dan akhirnya kami berkumpul dan berangkat menuju pelabuhan cebu. Pelabuhan di sini tak beda jauh dengan bandara dalam memperlakukan penumpangnya. Semua tas harus masuk dalam metal detektor dan sinar x layaknya di bandara. Penumpang yang sudah mendapat tiket langsung masuk dalam ruang tunggu. Benar-benar mirip dengan bandara, dan fasilitas yang sangat bagus untuk ukuran saya.

14103249591729889946

Kaum difabel yang mendapat tempat istimewa (dok.pri).

Saat asyik menunggu kapal yang 1 jam lagi angkat sauh, kami mendapat hiburan yang menarik. Kaum tuna netra dengan apik menghibur kami dengan tembang-tembang berbahasa tagalog dan inggris. Walau kadang tak mengeriti artinya kaki saya ikut mengetuk-ngetuk mengikuti irama musik. Kelompok musik ini terdiri beberapa orang yang memaikan masing-masing alat musik. sambil menikmati musik, ada mereka yang menawarkan pijat tuna netra. Dengan handuk di tangan mereka memijit dengan nyaman untuk setiap penumpang yang membutuhkan jasanya. Sungguh layanan yang luar biasa, apalagi kaum difabel yang mengerjakan dan semua di kelola dengan baik.

14103250201689458029

Layanan pijat tuna netra sambil menunggu jam berangkat kapal (dok.pri).

Akhirnya panggilan masuk dalam kapal cepat sudah terdengar dan dengan tertib kami masuk dalam kabin sesuai dengan nomor kursi yang ada di tiket. Perjalanan menuju Bohol akan ditempuh kurang lebih selama 2 jam pelayaran. Cuaca tiba-tiba berubah, yang semula gerimis menjadi hujan lebat dan laut berombak. Kapal tetap melaju dengan kecepatan penuh walau kadang harus bergoyang dengan ombak yang menerpa.

Setelah 2 jam akhirnya kami sampi di Tagbilaran yakni ibukota dari Bohol yang memiliki luas 32Km persegi. Tujuan kami adalah mengunjungi sungai Loboc. Sesuatu yang aneh, jauh-jauh ke Filipina hanya mengunjungi sungai dalam kondisi perut lapar berat. Dalam perjalanan menggunakan bus, perut ini sudah meronta-ronta minta makan, apalagi hari ini perjalalan dengan banyak waktu yang terbuang. Akhrinya hanya duduk terdiam dan berharap di Loboc nanti akan makan apa.

1410325082775335934

Menu makanan dan suasana ruangan di restoran apung (dok.pri)

Bus yang membawa kami berjalan naik turun bukit dan memasuki kawasan perkampungan. Jalan berkelok dan sempit dengan sisi kanan kiri hutan, dan hanya itu yang terlihat. Akhirnya kami disebuah jembatan yang tinggi dan disampingnya ada jembatan yang sudah rubuh. Turun dari bus kami dibawa masuk dalam sebuah rakit yang dibentuk menjadi rumah makan. Ternyata kami makan diatas rakit, ya mirip rumah makan terapung.

1410325133793683646

Restoran yang terapung dan berjalan mengarungi sungai Loboc yang tenang (dok.pri).

Saya hanya bisa tersenyum dan tertawa sumringah mana kala rakit ini sudah melepas tali kaitnya. Rumah makan terapung dan berjalan. Sungguh atraksi wisata yang unik. Kami makan, sambil rakit berjalan dan ada sajian musik langsung. Sambil makan, saya teringat tanah air saya yang kaya akan sungai. Bukannya menjadi tempat wisata, tetapi menjadi jamban dan tempat sampah raksasa. Sungai dengan warna air hijau toska memantulkan tetumbuhan yang ada kanan kiri sungai. Rumah-rumah penduduk yang masih asli, kegiatan nelayan setempat. Benar-benar alami tempat ini dan dikemas menjadi sajian wisata yang unik.

Beberapa pengunjung asyik bermain kano ditepian sungai. Nelayan asyik menjaring ikan atau ada yang duduk sambil memancing. Senyum sapa ramah penduduknya membawa saya pada suasana yang hangat dan mengenyangkan. Saya hanya berimajinasi bagaimana membawa model wisata ini ke Indonesia, namun apakah kondisi sungai masih layak. Tidak membayangkan jika restoran apung ini berlayar di citarum, atau bengawan solo dan menyaksikan benda-benda tarapung.

1410325193957006299

Sungai Loboc dari jembatan penyebrangan. Sungai yang bersih dan alam yang masih asri (dok.pri).

Perut kenyang dan kami dibawa menuju dermaga. Makan siang ini kami habiskan sekitar 2 jam mengarungi sungai pulang pergi. Sungguh puas dan mengenyangkan. Pemandangan yang asri, sejuk dan masih alami di tambah menu makanan asia yang tak asing bagi lidah. Sebuah konsep wisata yang sederhana, namun syaratnya harus bisa menjaga kelestarian lingkungan.

1410325274511789665

Sesaat berpose di belakang gedung yang runtuh karena gempa dan ada jeepney yang sedang melintas (dok.pri).

Usai mendarat saya melangkahkan kaki menyusuri jalanan di dekat sungai Loboc. Bangunan-banguna disini banyak yang sedang di renovasi usai gempa beberapa tahun yang lalu. Bangunan-bangunan tua nampak mengiasi beberapa sudut jalan. Saya hanya terdiam membayangkan berapa dasyat goncangan gempa waktu itu. Akhrinya harus segera melanjutkan perjalanan menuju salah satu keajaiban dunia yang menjadi ikon Filipina.

 

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. Koq di sana sungainya bisa bersih-bersih gitu ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bangkit Setelah 300.000 Tahun Terkubur

Saya membayangkan tanah Jawa sekitar 300.000 tahun yang lalu. Sebuah hutan hujan tropis yang lebat dengan pepohonan seperti pencakar langit. Di angkasa berterbangan kepak-kepak sayap ...