Pantai Maron di Kala Senja

IMG_4219

“Suatu hari dikala kita duduk ditepi pantai dan memandang ombak dilautan yang kian menepi. Burung camar terbang bermain diderunya air. Suara alam ini Hangatkan jiwa kita”. Sebuah petikan lagu kemesraan yang di lantunkan oleh Iwan Fals mengalun mesra saat dimainkan dipemutar mp3. Mata saya terjebak pada sisi barat laut utara jawa sambil memandang sang surya tenggelam tanpa peduli burung besi yang berkeliaran. Inilah pantai maron.

Saya duduk hampir 1 jam lebih untuk merekam momen matahari terbenam. Hiruk pikuk pengunjung yang acapkali menyenggol penyangga kamera atau melintas didepan kamera menjadi hal yang biasa. Awan cumulus nimbus nampak bergerak menuju sisi tenggara. Di sisi selatan langit sudah hitam kelam dan beberapak kali loncatan petir sudah terlihat. Namun di sisi barat, pesona langitnya luar biasa.

Semakin senja pengunjung semakin membludak. Dinding pemecah ombak penuh dengan pasangan muda-mudi yang memadu kasih. Nampak juga mereka yang asyik memainkan joran mengadu keberuntungan untuk mendapat ikan yang sedang sial. Anak-anak kecil nampak riang bermain ombak dengan air laut yang tak begitu jernih dan pasir pantai yang berwarna kusam.

Burung-burung bangai terbang pulang ke kandang, ada beberapa yang masih berputar-putar di hamparan tambak. Hutan bakau buatan nampak berdiri tegak menjadi benteng dari abrasi dan dinding yang kokoh untuk pembatas tambak. Lampu-lampu landas pacu pesawat mulai dinyalakan menambah semarak senja.

Pantai Maron berjarak sekitar 2 km dari bandar internasional Ahmad Yani-Semarang. Pantai ini adalah ujung dari landas pacu pesawat yang hendak terbang dan mendarat. Dari sini tubuh kita seolah terasa tertimpa badan burung besi yang hendak turun dengan suara yang memekakan telinga.

IMG_4213

Dari jendela pesawat jika hendak terbang atau mendarat akan terlihat sebuah garis pantai dan muara sungai. Nah itulah pantai maron yang saban sore penuh dengan pengunjung yang ingin menyaksikan detik-detik tenggelamnya matahari. Beberapa menit sekali terlihat hilir mudik pesawat yang hendak terbang atau mendarat, bahkan ada yang berputar-putar dulu untuk mengantri mendarat.

Namun sangat disayangkan, pantai ini kurang mendapat perhatian dalam pengelolaan. Harga tiket masuk Rp 4000,00 harus ditebus dengan jalan yang rusak dan berdebu. Jalan yang tidak rata dan bergelombang menjadi kendala bagi mereka yang menggunakan kendaraan. Fasilitas penunjang seperti kamar mandi terkesan seadanya. Sepertinya lokasi ini memang bukan diciptakan sebagai lokasi wisata.

 

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. Sempet kaget lihat HTM-nya, Dhave. Ternyata ada koma nyempil di depan dua angka nol 🙂
    Menarik juga sekali-kali nongkrong di situ ya.

  2. hah… saya malah baru tahu ada pantai macam ini di Semarang? Seumur-umur ke Semarang nyarinya gunung bukan pantai, hehehe, bolehlah kapan2 ini dihampiri. Trims infonya mas Dhave.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...