Gumuk Pasir Parang Kusumo

IMG_2609

Saya seperti anak kecil yang berlari-lari mengejar Spinifex littoreus yang terbawa hempasan angin. Daun dari Jantran yang bentuknya mirip landak adalah tumbuhan khas pantai berpasir. Bentuknya yang mirip landak laut sangat menarik saat sang bayu menghempaskannya lalu berguling-guling, berjingkat-jingkat di atas pasir yang lembut. Mungkin di dunia hanya ada 2 tempat yang memberikan keajabaiban alam ini, yakni di Parang Kusumo dan Meksiko.

Saya membayangkan Garis imajiner dari puncak Merapi, Keraton Yogyakarta hingga Pantai selatan sebuah simbol harmonisasi alam. Sutawijaya yang bertapa di pantai selatan hingga pertemuannya dengan Ratu Pantai selatan bukan lagi cerita mitos, namun manjadi kearifan masyarakat setempat. Imajinasi saya terbang jauh dari lereng merapi, lalu masuk dalam sungai-sungai kecil dan bertemu nadi sungai opak lalu berhenti di eustaria tanah jawa dan samudra hindia. Sesudah itu saya diterbangkan oleh angin laut dan mengedapkan lamunan saya pada bukit-bukit nan tandus dengan pasir lembutnya.

13969227321738143160

Berlari mengejar Spinifex littoreus yang dihempas sang bayu saat terlepas dari tangkainya (dok.pri).

Gumuk Pasir demikian dalam bahasa disebutnya yang bisa diartikan sebagai bukit pasir. Ribuan tahun silam saat gunung Merapi memuntahkan material vulkaniknya ada yang terbawa menuju laut selatan. Sungai Opak, Oyo dan Progo lah yang membawa pasir-pasir muntahan merapi. Pasir tersebut kemudian mengendap di muara dan terbawa ke laut, namun oleh ombak dikembalikan ke pantai. Pantai Parang Tritis, Parang Kusumo dan Depok memiliki pasir hitam berbeda dengan pantai-panti lain di selatan Yogyakarta yang sebagian besar berpasir putih.

Olah angin kemudian membawa terbang pasir-pasir halus di pantai Parang Tritis, Parang Kusumo dan Depok menuju sisi utara. Lambat laun, butiran-butiran pasir halus ini menumpuk menjadi padang pasir dengan bukit-bukitnya yang memesona. Inilah salah satu fenomena alam yang manarik dan konon satu-satunya di Indonesia.

139692279499412101

Senjapun tiba dibalik bukit pasir (dok.pri).

Tempat yang unik, karena berupa lautan pasir sehingga klimatnya berbeda. udara terasa sangat panas, kering dan nyari tidak ada tumbuhan yang mampu bertahan. Saat ini beberapa tanaman pesisir sudah di introduksikan yakni cemara laut. Lingkungan ekstrim telah menyingkirkan beberapa tumbuhan dan hanya yang mampu beradaptasilah yang hidup. Rumput lari , Widuri, Teki, akasia, dan pagut adalah tanaman yang mampu pada kondisi yang ekstrim.

13969228631964744845

Pada hari libur, lokasi ini ramai pengunjung. Ada yang sekedar jalan-jalan, pemotretan pra nikah, hingga ada yang bermain seluncuran pasir (dok.pri).

Pola-pola gundukan pasir yang menjadi bukit memiliki bentuk-bentuk yang unik. Ada 4 bentuk bukit pasir yang ada di sini yakni; melintang, seperti bulan sabit, memanjang dan pola parabola. Gundukan pasir yang memiliki lereng curam dimanfaatkan oleh beberapa remaja untuk bermain-main seluncuran pasir (sand boarding). Cukup dengan papan, maka siap meluncur menuju lembah pasir dan cukup menghibur, jika tidak ada bisa memakai pelepah kelapa.

Tulisan Sebelumnya Lukisan Sang Bayu….

Videonya

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. Saya penasaran dengan mereka yang main sand boarding di sini. Apa bukitnya tinggi2 jadi bisa meluncur bebas ya? Sebab kalau saya lewat sini jarang lihat ada yang main sand boarding.

    • Lha sampeyan cuma lewat kok mas… coba mampir dan tinggal beberapa hari disini hehehehe…

      • Ho oh ya? Mungkin harus nggelar tenda nungguin orang yang main sand boarding di sana, hahaha. Saya biasanya klo ke Parangtritis pagi, sekitar jam 7 – 8 an pas hawanya masih adem. Mereka yang main sand boarding sepengetahuannya mas Dhave itu siang apa sore?

        • Menjelang sore mas…. tergantung mreka juga sih.. ada komunitasnya kok.. disana juga ada yang nyewain papan seluncurnya.. katanya sih 60ribuan.. saya pake pelepah kelapa saja,… haaha ngeri…. kalo jatoh…

  2. Terus terang aku lebih suka kondisi dulu sewaktu belum ada tanaman di sana Dhave. Kesannya betul-betul kaya di padang pasir yang luas. Kalau sekarang kesan itu jadi berkurang karena mulai banyak tumbuhan.
    Ngomong-ngomong koq videonya gak muncul ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...