Baladewa Yang Gundah Karena Tak Terjamah

Air terjun Baladewa, sebuah tepat indah yang terlihat gundah karena tak ada yang menjamah (dok.pri).

Air terjun Baladewa, sebuah tepat indah yang terlihat gundah karena tak ada yang menjamah (dok.pri).

Dari peta topografi, saya mencoba mengukur jaraknya sekitar 5km di atas kertas. Lantas jarak tersebut saya buktikan dengan mengukur denga menggunakan GPS. Hasilnya luar biasa jika dijalani di medan aslinya, yakni sejauh 7,28Km dengan kontur naik, perjalanan lebih lengkap saat ditemani hujan lebat. Itulah sekilas saat  mengunjungi air terjun Baladewa di lereng Gunung Telomoyo sisi utara.

Dari pertigaan Banyu Biru, Kecamatan Ambarawa-Jawa Tengah perjalanan ini di Mulai. Sebuah papan petunjuk mengarahkan kaki ini menuju air terjuan yang dimaksud. Langkah awal untuk memulai 5km di atas kertas. Baru 200m berjalan, maka mampirlah ke Pasar Kebon Dowo untuk membeli bekal, berapa buah Rambutan.

1389585787954340272
Di atas kertas 5km namun kenyataannya 7,28Km. Kaki ini sudah merasakan jalan, mata menikmati indahnya pemadangan dan kemera sudah mrekam itu semua (dok.pri), Sumber dari google earth dan data GPS.

Tikungan mengarahkan kaki kami ke kanan menuju jalan menanjak ke arah Kiri. Inilah awal dari perjalanan yang sebenarnya. Aspal mulus sangat memanjakan kaki kami menuju air Terjuna Kembar Baladewa. Jalan dengan kontur berbukit nyaris ada jalan datar, seba yang ada hanyalah menanjak dan menanjak.

Pemandangan sepanjang jalan sangat indah, karena berjalan di sisi timur Gunung Gili Petung yang memanjang. Di sisi utara terlihat hamparan Rawa Pening yang sangat yang di tepinya terdapat perkampungan dan Pusdik Polri. Di sisi timur jalan, mata akan di suguhi kampung-kampung yang eksotis, karena terletak di sebuah lembah yang di himpit Gunung Gili Petung dan gunung Kendil.

1389585903419439552
Salah satu sudat jalan yang mengarah lembah, menara masjid hingga puncak-puncak bukit. Sangat indah dan ingin berlama-lama di sini. (dok.pri).

Jalan menanjak sepertinya tak ada habis-habisnya. Jika tanya pada penduduk, jawabannya datar “masih jauh dan jalan terus saja” dan jawaban inilah yang kadang melemahkan mental untuk terus berjalan. Menuju air terjun Baladewa tidak terdapat angkutan umum, kecuali ojeg atau truk-truk pikap yang membawa pedagang menuju pasar.

Sampailah di desa Wirogomo, dan GPS sudah menunjuk angka 5Km lebih dengan kondisi jalan menanjak. Kami terus berjalan menuju arah yang di berikan penduduk untuk menuju lokasi. Sebuha jalan kecil di kiri desa dengan kondisi aspal yang bagus menuntun kami pada pintu Gerbang menuju air terjun.

13895860201625945294
Dari sinilah arah air terjun Baladewa, dan masih berjarak sekitar 1Km. (dok.pri).

Tidak ada penjaga, tidak ada loket itulah kondisi pintu masuk air terjun ini. Sejenak kami istirahat setelah berjalan non stop selama 1 jam 50 menit. Rambutan yang kami beli di Pasar Kebon Dowo cukup mengganjal perut yang dari pagi belum terisi makanan apapun. Usai istirahat sejenak kamipun berjalan melewati jalan setapak yang cukup landai.

Di tengah-tengah jalan saya menghentikan seorang bapak yang membawa jerigen-jerigen air sadapan nira. Lantas saya mencoba untuk membeli dan dapatlah 2 liter seharga 10ribu rupiah. Air inilah yang nantinya menyelamatkan kami mencari air terjun kembar tersebut.

1389586083661104888
Inilah air terjun Baladewa. Sungguh indah, namun sayang belum digarap dengan optimal (dok.pri).

Berjalan di sepanjang sungai kecil yang dibuat saluran irigasi. Akhirnya kami sampai juga di air terjun pertama. Jarak sekitar 500m dari pintu Gerbang kami lewati dengan cepat karena jalan yang landai. Gemuruh suara air yang terlontar dari ketinggian 50m mengobati rasa lelah kami yang berjalan 7,28Km untuk sampai di sini.

Tepat di sisi kiri air terjun pertama terdapat air terjun kedua dengan tinggi sekitar 70m, tetapi debit airnya lebih kecil. Inilah air terjun kembar Baladewa di bawah gunung Kelir yang resmi di buka menjadi lokasi wisata pada 8 Juni 2008 oleh wakil Bupati Semarang, Siti Ambar Fathonah. Air terjun ini unik karena ada 2 sungai yani kali Ringing dan Klegung.

1389586170384386889
Mengapa tempat indah ini nyaris tidak tersentuh..? (dok.pri).

Air terjun yang terdapat di Dusun Krajan Kidul, Desa Wirogomo adalah sebuah potensi wisata dan perekonomian yang cukup menjajikan. Patut di sayangkan, keindahan alam ini nyaris tidak tersentuh oleh pengelola dan pengunjung. Sisa-sisa fasilihas yang pernah di bangun terlihat mangkrak dan nyaris tinggal pondasi saja.

Saya berdiri merenung sambil menikmati eksotisme air terjun baladewa ini. Ratapan dan sebuah harapan, kapan curug ini bisa di poles dan menyedot banyak pengunjung. Jalan setap yang nyaris penuh dengan rumput liar, sampah-sampah pengunjung bertebaran sungguh miris dan merusak keindahan yang ada.

Saya teringat saat menuju ke air terjun ini, yakni di sisi kanan jalan saluran airnya berwarna kuning. Saya berpikir ini pasti ada sesuatu, sebab unsur mineral dan belerang yang menjadikan warna tersebut. Benar saja, di sisi kanan air terjuan ada sumber air panas Asinan. Ini dia salah satu tambahan dari atraksi alam yang bisa di jual oleh desa ini.

Ingatan saya melompat lagi ke belakang, saat saya membeli nira. Ternyata desa ini juga menjadi penghasil gula kelapa/gula merah dan konon ada kuliner yang diberi nama montor mabur. Makanan ini adalah singkong yang dioleh sedemikian rupa lalu di beri gula merah dan sangat nikmat dimakan dengan minuman hangat.

13895862801307050246
Hujan yang lebat menemani langkah kaki ini dengan suguhan pemandangan indah (dok.pri).

Tiba-tiba rintik hujan menjadi hujan yang lebat. Akhirnya kami memutuskan untuk segera meninggalkan air terjun ini mengingat potensi bahaya banjir bandang. Hujan makin lebat menyambut langkah kami saat pulang. Energi ini sepertinya terkuras untuk menjaga tubuh tetap hangat dan kaki tetap berjalan. Kami sadar langkah kaki kami masih 7,28Km lagi untuk kembali pada titik semula.

Air terjun Baladewa konon diberi nama dari tokoh pewayangan, yakni Baladewa sodara dari Krisna. Mitos yang ada, siapa saja yang mandi di air terjun tersebut badanya bisa kuat. Mitos yang saya percayai dan saya telah membuktikan. Tidak kuat bagaimana jika harus berjalan sejauh 15,56km dengan dari ketinggian 514mdp hingga 1016mdpl. 4 jam perlananan pulang pergi dengan berjalan kaki untuk menikmati alam Indonesia, dan perjalananpun akan terus berlanjut.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. wueh… beneran itu trekking 7 km? masuk hutan semua? klo bawa kendaraan diparkir dimana mas Dhave?

    • iya karena saya ngga punya kendaraan hehehe…
      ada tempat parkir digerbang pintu masuk dan jalan di sana mulus lusss… deh

      • nggak punya kendaraan? berarti ke Banyu Birunya naik angkutan umum? berangkat dari mana? pakai nginep? Hehehe, maaf banyak nanya soalnya saya penasaran juga klo bisa naik angkutan umum ke air terjun

        • Start dari Salatiga… naik angkutan umum/elf jurusan banyu biru/ambarawa truun di Kebon Dowo/kelurahan. Lalu lanjut jalan 7Km sekian.. sampe TKP.. pulang pergi 😀

  2. Mas Dhave kudu blusukan ke air terjun dekat rumahku. Harus!

  3. logistik perjalanan dong, mas 😀 *suka jalan tapi pemalas kalau nyari-nyari angkutan sendiri*

    • paling gampang dari Salatiga menuju banyu biru, atai ambarawa menuju banyu biru. Turun di banyubiru, kelurahan kebon dowo.
      dari situ lihat papan petunjuk di kanan jalan dan ikuti saja….

  4. Wah padahal sudah ada jalan aspal mulus sampai gerbang air terjunnya ya, Dhave?

  5. jalan2nya hobi blusukan ke tempat tak terjamah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hutan Bonsai di Lereng Mutis

Di tengah-tengah hutan ini saya seolah menjadi kurcaci kecil diantara pohon-pohon raksasa yang kerdil. Pohon dengan umur ratusan tahun yang kulitnya sudah bersalutkan lumut kerak ...